Hujan Ekstrem Terjang Korea Selatan, Rekor 200 Tahun Pecah

- Hujan ekstrem di Geoje memicu banjir dan sejumlah tanah longsor di Gyeongsang Selatan.
- Geoje mencatat curah hujan 633,2 milimeter hingga pukul 16.00 waktu setempat, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1972.
- KMA mengaitkan hujan dengan aliran udara lembap, kondisi pesisir, serta koridor kelembapan di antara sistem tekanan rendah dan tinggi.
Jakarta, IDN Times - Hujan ekstrem mengguyur wilayah Geoje, Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, pada Senin (17/8/2026). Intensitas hujan disebut sebagai fenomena yang secara statistik hanya terjadi sekali dalam 200 tahun.
Hujan deras dengan intensitas dan volume yang disebut menyerupai dampak topan itu memicu banjir serta sejumlah tanah longsor di berbagai wilayah Gyeongsang Selatan.
Badan Meteorologi Korea Selatan (KMA) mencatat Geoje menerima curah hujan 633,2 milimeter hingga pukul 16.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi curah hujan harian tertinggi sejak pencatatan cuaca di wilayah itu dimulai pada 1972.
Curah hujan kumulatif sejak Sabtu mencapai 906,9 milimeter. Jumlah tersebut hampir menyamai total curah hujan yang biasanya diterima wilayah Geoje selama satu musim panas, yakni 935,1 milimeter berdasarkan rata-rata tahunan periode 1991-2020.
1. Geoje diguyur 124 milimeter hujan dalam satu jam

Potret pelabuhan di Geoje (unsplash.com/cdkni) Hujan ekstrem di Geoje mencapai intensitas 124,5 milimeter dalam satu jam pada Senin pagi. Angka tersebut memecahkan rekor curah hujan per jam sebelumnya sebesar 96,5 milimeter yang tercatat pada 5 Juli 2001.
Curah hujan per jam tersebut juga menjadi yang tertinggi keempat yang pernah dicatat stasiun Automated Synoptic Observing System (ASOS) di Korea Selatan, termasuk sejumlah stasiun yang kini sudah tidak beroperasi.
KMA menyatakan intensitas hujan sebesar itu secara statistik diperkirakan hanya terjadi sekali setiap 200 tahun.
Dua lokasi lain di Korea Selatan pernah mencatat curah hujan harian yang lebih tinggi. Gangneung menerima 870,5 milimeter dan Daegwallyeong 712,5 milimeter pada Agustus 2002 ketika Topan Rusa menerjang Provinsi Gangwon.
Wilayah terdekat, Tongyeong, juga mengalami hujan ekstrem. Sebanyak 97,4 milimeter hujan turun dalam satu jam, intensitas yang dikategorikan sebagai peristiwa yang hanya terjadi sekitar sekali dalam 100 tahun.
Hujan tersebut memecahkan rekor curah hujan per jam di Tongyeong. Total curah hujan hariannya mencapai 450 milimeter, juga menjadi yang tertinggi sejak pencatatan di wilayah tersebut dimulai.
2. Semburan udara lembab picu hujan ekstrem

ilustrasi pohon yang terkena hujan badai (pexels.com/anna-tikhonova) KMA menjelaskan hujan ekstrem terkonsentrasi di pesisir selatan Gyeongsang Selatan akibat pertemuan aliran udara lembap dengan kondisi geografis wilayah pesisir. Aliran udara dari selatan membawa udara panas dan sarat uap air dari laut menuju daratan. Ketika bertemu dengan medan wilayah pesisir, awan hujan berkembang dengan cepat dan menghasilkan curah hujan dalam jumlah sangat besar.
Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh terbentuknya koridor sempit yang membawa kelembapan di antara sistem tekanan rendah yang berkembang dari Topan Dolphin dan sistem tekanan tinggi di sebelah timur laut.
Angin kencang dari selatan kemudian menyalurkan kelembapan melalui koridor tersebut sehingga meningkatkan intensitas hujan di wilayah pesisir.
“Ketika sistem tekanan rendah bergerak melintasi wilayah tersebut, sistem tekanan tinggi di depannya menghalangi pergerakannya. Pola cuaca yang terbentuk kemudian terus menarik sejumlah besar uap air ke wilayah tersebut,” kata peramal KMA Gong Sang-min, dikutip dari Korea Joongang Daily, Rabu (19/8/2026).
“Udara yang sarat kelembapan tersebut terus bertemu dengan medan wilayah, sehingga hujan lebat terus berlangsung,” lanjutnya.
Hujan ekstrem itu terjadi hanya beberapa hari setelah Korea Selatan menghadapi kondisi kekeringan. Pekan lalu, Badan Pemadam Kebakaran Nasional bahkan mengeluarkan perintah mobilisasi layanan pemadam kebakaran secara nasional untuk memasok air darurat ke wilayah Gyeongsang Selatan yang dilanda kekeringan.
3. Perubahan iklim picu cuaca ekstrem beruntun

ilustrasi bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran) Fenomena hujan ekstrem secara tiba-tiba dinilai semakin sering terjadi di Korea Selatan, termasuk setelah periode musim hujan berakhir. Tahun lalu, Korea Selatan mencatat 15 kejadian curah hujan lebih dari 100 milimeter per jam, dengan 11 di antaranya terjadi setelah musim hujan.
Yeh Sang-wook, profesor Departemen Teknik Konvergensi Kelautan Hanyang University, mengatakan pola hujan musim panas di Korea Selatan mulai berubah.
“Ketika pola musim hujan tradisional mengalami perubahan, curah hujan musim panas bergeser dari hujan berkepanjangan di wilayah yang luas menjadi curah hujan dalam jumlah sangat besar yang turun sekaligus di wilayah yang sangat terbatas,” kata Yeh.
“Kita telah mencapai titik di mana hujan ekstrem kapan pun selama musim panas tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak biasa,” lanjutnya.
Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba juga memperparah dampak bencana. Hujan deras yang turun setelah gelombang panas dan kekeringan dapat menghantam tanah yang telah kehilangan kelembapan, sehingga meningkatkan risiko erosi dan tanah longsor.
Para ahli memperingatkan perubahan iklim dapat meningkatkan risiko fenomena “pukulan ganda” berupa panas ekstrem yang kemudian disusul hujan deras dalam waktu singkat.
“Peristiwa cuaca ekstrem ketika panas ekstrem dan hujan deras terjadi secara bergantian dalam waktu singkat akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim,” kata Kim Seung-bae, pejabat senior Korea Natural Disaster Association sekaligus mantan juru bicara KMA.
Menurut Kim, Korea Selatan perlu mengubah sistem penanganan bencana yang selama ini banyak mengacu pada pola cuaca masa lalu.
“Kita perlu bergerak melampaui pola yang didasarkan pada masa lalu dan membangun sistem yang mampu merespons kombinasi berbagai bencana terkait cuaca,” ujarnya.

















