Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hungaria-Polandia Sebut Kerusuhan di Prancis Disebabkan Imigran

2 min read
Hungaria-Polandia Sebut Kerusuhan di Prancis Disebabkan Imigran
ilustrasi bendera Hungaria (pexels.com/sara)
  • PM Hungaria Peter Magyar menyebut kerusuhan dan penjarahan di Prancis dipicu imigran, lalu menegaskan negaranya mempertahankan kebijakan imigrasi serta perlindungan perbatasan yang ketat.

  • PM Polandia Donald Tusk menyatakan Polandia tidak akan mengulangi kesalahan Prancis dan negara Eropa lain, dengan menjaga perbatasan, menerapkan kebijakan suaka sendiri, serta mendeportasi pelanggar hukum.

  • Kerusuhan di sejumlah kota Prancis terjadi setelah demonstrasi siswa SMA menuntut perbaikan pendidikan; di tengah situasi itu, Macron membatalkan kehadiran pada peringatan Revolusi Hungaria ke-70.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Hungaria, Peter Magyar mengatakan bahwa kerusuhan dan penjarahan di Prancis didorong oleh imigran pada Senin (19/10/2026). Menurutnya, insiden seperti itu dapat terjadi karena kurang ketatnya imigrasi di Prancis. 

Pada akhir pekan lalu, terjadi kerusuhan dan penjarahan di berbagai kota di Prancis. Tindakan tersebut buntut dari demonstrasi besar-besaran dari siswa SMA yang menuntut perbaikan sekolah dan sistem pendidikan di Prancis. 

  1. 1. Hungaria tidak akan melonggarkan aturan imigrasi

    Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar.
    Perdana Menteri Hungaria, Peter Magyar. (© European Union, European Parliament, via Wikimedia Commons)

    Magyar mengatakan bahwa kerusakan dan kekerasan yang tidak dapat dijustifikasi di Prancis tidak boleh terjadi di Hungaria. Maka dari itu, Hungaria menetapkan proses imigrasi yang ketat dalam menghindari insiden serupa. 

    “Kami tidak akan merelaksasi upaya dalam melindungi perbatasan terluar dari imigran ilegal atau mengubah kebijakan imigrasi ketat yang sudah dibuat,” terangnya, dikutip dari Euronews.

    PM Hungaria itu menyebut bahwa saat ini mayoritas dari negara-negara eropa sudah memperketat imigrasi. Menurutnya, ini adalah sebuah tamparan besar yang membuat mereka akhirnya bangun. 

  2. 2. Polandia tidak akan ikuti kesalahan Prancis

    Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk.
    Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk. (Mateusz Włodarczyk - www.wlodarczykfoto.pl, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Pada saat yang sama, PM Polandia, Donald Tusk ikut menyuarakan mengenai kerusuhan dan penjarahan yang terjadi di Prancis. Ia memastikan bahwa Polandia tidak akan mengikuti kesalahan Prancis dan negara-negara Eropa lainnya. 

    “Kami sangat serius dalam menjaga perbatasan terhadap imigran ilegal, kami punya kebijakan suaka tersendiri. Kami akan mendeportasi siapapun yang melanggar hukum di Polandia. Kami tidak akan berkompromi dengan keamanan,” tegasnya, dikutip dari TVP World.

    Pekan lalu, negara-negara anggota Uni Eropa (UE) sudah hadir dalam KTT UE di Brussels. Mereka memperdebatkan mengenai langkah untuk mengatur migrasi di seluruh negara anggota dan memperketat masuknya imigran. 

  3. 3. Macron tidak akan hadir di acara peringatan Revolusi Hungaria ke-70

    Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)
    Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

    Presiden Prancis, Emmanuel Macron memastikan bahwa dirinya tidak akan hadir di acara peringatan Revolusi Hungaria ke-70 pada 23 Oktober 2026. Ketidakhadiran ini sudah dikonfirmasi langsung oleh Kantor Kedutaan Besar Prancis di Budapest dan diperkirakan imbas demonstrasi di Prancis. 

    Dilansir Daily News Hungary, Macron sudah digadang-gadang akan hadir dalam acara tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Meskipun demikian, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen dipastikan akan menghadiri acara tersebut untuk memberikan pidato. 

    Sementara itu, Hungaria akan memperingati acara Revolusi Hungaria dengan meriah tahun ini. Pemerintah setempat sudah memperpanjang acara tersebut dan akan digelar tidak hanya di Budapest, tapi di berbagai kota lain di Hungaria. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More