Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IAEA Konfirmasi Suriah Pernah Membangun Reaktor Nuklir
ilustrasi bahaya radiasi nuklir (unsplash.com/ Kilian Karger)
  • IAEA mengonfirmasi fasilitas rahasia al-Kibar di Deir Ezzor merupakan reaktor nuklir, setelah inspektur memverifikasi infrastruktur pendingin terkubur yang sesuai desain reaktor.
  • Rezim Bashar al-Assad dinyatakan gagal melaporkan material, fasilitas, dan aktivitas nuklir; kompleks tersebut dihancurkan serangan udara Israel pada 2007 lalu diratakan.
  • Otoritas transisi Suriah melaporkan 73 ton uranium alam di lokasi terpisah; IAEA telah menyegel dan mengawasi material tersebut, termasuk 55 ton batang bahan bakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi bahwa Suriah membangun reaktor nuklir rahasia di Deir Ezzor pada masa pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad. Laporan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut diedarkan kepada negara anggota pada Selasa (1/9/2026).

Hal ini dikonfirmasi setelah tim inspektur memverifikasi sisa infrastruktur pendingin yang terkubur di lokasi tersebut. Otoritas Suriah era Assad dinyatakan gagal melaporkan material, fasilitas, dan kegiatan nuklir sesuai Perjanjian Perlindungan Nonproliferasi Nuklir (NPT). Laporan ini sekaligus menuntaskan penyelidikan panjang IAEA terhadap dugaan aktivitas nuklir masa lalu di negara tersebut.

1. Fasilitas rahasia di Deir Ezzor terkonfirmasi reaktor nuklir

Mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, bersama Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Tim inspektur IAEA mendatangi Deir Ezzor pada akhir Agustus untuk memantau penggalian di bekas fasilitas yang telah lama dicurigai. Berdasarkan pengamatan di lapangan, IAEA memastikan infrastruktur pendingin yang terungkap konsisten dengan desain reaktor nuklir. Temuan tersebut memperkuat penilaian bahwa fasilitas al-Kibar dirancang sebagai reaktor nuklir moderat grafit berpendingin gas.

Laporan IAEA turut merinci tiga lokasi lain yang berhubungan dengan reaktor Deir Ezzor. Satu lokasi berfungsi sebagai pabrik bahan bakar nuklir untuk reaktor. Dua lokasi lainnya digunakan untuk penyimpanan material konstruksi, bahan bakar, dan rencana aktivitas pemrosesan ulang.

Kompleks Deir Ezzor sebelumnya hancur akibat serangan udara militer Israel pada September 2007. Pemerintah rezim Assad kemudian meratakan puing bangunan dan tidak pernah menjawab lengkap pertanyaan IAEA. Israel baru mengakui keterlibatan dalam serangan tersebut pada 2018.

Pada 2011, IAEA sempat menilai situs tersebut kemungkinan besar merupakan reaktor nuklir yang dibangun atas bantuan Korea Utara. Tim inspektur kemudian menemukan partikel uranium setelah mengambil sampel lingkungan di lokasi tersebut pada 2024.

2. Total 73 ton uranium ditemukan di Suriah

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Selain temuan reaktor di Deir Ezzor, IAEA mengungkap keberadaan sekitar 73 ton logam uranium alam di lokasi rahasia terpisah. Keberadaan material tersebut dilaporkan oleh otoritas baru Suriah melalui surat resmi tertanggal 17 Juli 2026. Pemerintah transisi pimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa mengundang inspektur internasional untuk memeriksa langsung material peninggalan rezim lama.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi memimpin langsung kunjungan tim inspektur ke lokasi penyimpanan pada Agustus lalu. Mereka menemukan sebanyak 55 ton uranium berbentuk batang bahan bakar berselubung, sementara sisanya berupa potongan dan limbah uranium. Seluruh material tersebut telah disegel dan diawasi oleh IAEA.

“Suriah tidak berniat menjalankan program nuklir militer apa pun. Seluruh material nuklir di negara ini berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional dan hanya digunakan untuk tujuan damai,” kata Nizar al-Assad, juru bicara Komisi Energi Atom Suriah, dilansir Arab News.

3. Temuan di Suriah meningkatkan kekhawatiran keamanan

tentara Suriah menjaga pos keamanan (U.S. Army photo by Staff Sgt. Fred Brown, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pakar menyatakan uranium yang ditemukan di Suriah tidak bisa langsung digunakan untuk senjata nuklir. Namun, material mentah tersebut berisiko disalahgunakan untuk merakit bom kotor (dirty bomb) yang meningkatkan kekhawatiran keamanan.

“Dengan cara ini, kami dapat berupaya memulihkan Suriah sebagai negara yang sepenuhnya mematuhi kewajiban hukum nonproliferasi nuklir,” tutur Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional, dilansir Arms Control Today.

Berbeda dengan Suriah, IAEA justru menemui kebuntuan dalam menyelidiki program nuklir Iran. Dalam laporan terpisah, IAEA mengaku belum memperoleh akses ke fasilitas nuklir Iran yang terdampak serangan militer pada 2025.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article