PBB Peringatkan Lonjakan Kekerasan Israel di Gaza dan Tepi Barat

- PBB menyatakan serangan udara Israel di Gaza menewaskan warga sipil, termasuk seorang anak, serta merusak kompleks Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir Al-Balah.
- Menjelang musim hujan, upaya PBB menangani risiko banjir di pengungsian Gaza terkendala dana, logistik, alat berat, pembatasan pasokan Israel, dan akses darat.
- Di Tepi Barat, kekerasan pemukim dan operasi pasukan Israel meningkat, mencakup perusakan, serangan fisik, pembatasan ambulans, korban luka, penahanan, serta pembongkaran bangunan.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan kekhawatiran mendalam atas berlanjutnya serangan udara militer Israel di Jalur Gaza serta peningkatan aksi kekerasan oleh pemukim Israel di wilayah Tepi Barat. PBB memperingatkan bahwa eskalasi militer ini mengancam nyawa warga sipil sekaligus memperburuk krisis kemanusiaan yang semakin kritis.
Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, memaparkan bahwa sejumlah fasilitas vital masyarakat seperti rumah sakit tidak luput dari gempuran. Dilansir Saudi Gazette, pihak PBB kini berpacu dengan waktu untuk memobilisasi bantuan menjelang musim hujan di tengah kendala akses dan pembatasan ketat dari pihak otoritas Israel.
1. Serangan militer rusak fasilitas kesehatan dan korbankan warga sipil

Petugas periksa ambulans hancur di Deir el-Balah (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 igo, via Wikimedia Commons) Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, mengungkapkan laporan korban tewas di kalangan sipil akibat rentetan serangan udara militer Israel di Gaza. Selain menelan korban jiwa, gempuran tersebut juga merusak kompleks Rumah Sakit Al-Aqsa di wilayah Deir Al-Balah.
Dujarric menegaskan kembali bahwa warga sipil serta fasilitas publik yang krusial harus dilindungi dari arena pertempuran. Ia menyebut rumah sakit merupakan infrastruktur penting yang tidak boleh dijadikan sasaran militer dalam kondisi apa pun.
“Kami sangat prihatin dengan laporan mengenai korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk seorang anak di Gaza, serta kerusakan pada kompleks Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir Al-Balah akibat salah satu serangan,” tegas Dujarric saat memimpin sesi pengarahan pers.
2. Hambatan operasional bantuan kemanusiaan jelang musim hujan

Anak-anak Gaza tetap tersenyum di tengah penderitaan di kamp pengungsi. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) PBB bersama lembaga bantuan kemanusiaan sedang mempersiapkan langkah mitigasi risiko banjir di ratusan lokasi pengungsian Gaza menjelang kedatangan musim hujan. Namun, misi penanggulangan bencana tersebut menghadapi rintangan besar akibat keterbatasan sarana logistik.
Proses pengiriman bantuan terhambat oleh minimnya dana operasional, kelangkaan oli mesin, ketiadaan suku cadang, hingga kekurangan alat berat. Otoritas Israel juga membatasi jenis maupun jumlah material pasokan yang diizinkan masuk ke wilayah Gaza.
Selain itu, pembatasan akses darat membuat tim relawan sulit menjangkau wilayah Gaza yang lebih aman dari potensi banjir. Hambatan ini menyulitkan pemindahan para pengungsi ke lokasi yang lebih layak untuk mendirikan tenda pemukiman sementara.
3. Kekerasan pemukim dan aksi penggerebekan di Tepi Barat meluas

pemandangan udara kota Qalqilya, West Bank (pexels.com/abu adel) Situasi keamanan di Tepi Barat yang diduduki terus memburuk seiring meningkatnya serangan fisik dari para pemukim Israel. Bentuk kekerasan yang terjadi meliputi aksi pencurian, pembakaran, perusakan properti, hingga serangan fisik terhadap warga lokal.
Dujarric mencontohkan penyerangan sebuah rumah di Qusra, dekat Nablus, yang berjarak kurang dari setengah kilometer dari area tempat tiga keluarga terisolasi akibat pembangunan pos pemukiman baru Israel. Sementara itu, serangan oleh pemukim dan pasukan Israel di sekitar Ramallah melukai 12 warga Palestina serta menghalangi pergerakan warga dan kendaraan, termasuk ambulans.
Berdasarkan laporan bulanan pemerintah daerah Yerusalem pada Agustus 2026, sebanyak 5.209 pemukim Israel terdata memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Pada periode yang sama, pasukan Israel menewaskan dua warga Palestina dan menahan 114 orang, termasuk lima anak-anak.
Peristiwa ini berlangsung di tengah laporan media lokal bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memicu ketegangan demi merangkul partai sayap kanan menjelang pemilu Knesset pada 27 Oktober 2026. Laporan Pemprov Yerusalem mencatat 40 operasi pembongkaran bangunan dan pembersihan lahan, serta 86 perintah pembongkaran atau penghentian kerja.





















