Banjir Bandang Nepal dan China Mengakibatkan 1.019 Orang Meninggal

- Banjir bandang akibat runtuhnya gletser Himalaya menewaskan 1.019 orang di Nepal dan China hingga 1 September 2026, sementara lebih dari 4.400 orang masih dilaporkan hilang.
- Operasi pencarian di Nepal berfokus pada terowongan proyek hidroelektrik; 279 pekerja telah diselamatkan, sedangkan tim terus menjangkau wilayah terisolasi dan menemukan korban.
- Lebih dari 11 ribu orang telah diselamatkan, akses jalan serta komunikasi mulai dipulihkan, dan Nepal menerima bantuan lebih dari 42 juta dolar AS untuk evakuasi serta pemulihan.
Jakarta, IDN Times - Jumlah korban tewas akibat banjir bandang hebat yang menerjang wilayah Nepal dan China telah menembus 1.019 jiwa hingga Selasa (1/9/2026). Bencana alam yang dipicu oleh runtuhnya gletser di Pegunungan Himalaya sejak Rabu (26/8/2026) ini juga menyebabkan lebih dari 4.400 orang dilaporkan hilang.
Tim penyelamat gabungan hingga saat ini terus berupaya menjangkau area-area terisolasi dan mengevakuasi ratusan pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air. Di Nepal, lokasi proyek infrastruktur ini menjadi fokus utama dalam operasi pencarian.
1. Ribuan korban masih hilang dan pencarian berfokus pada terowongan

ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Harish Bharti) Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) memperbarui data korban tewas di negaranya menjadi 1.003 jiwa dari sebelumnya 987 jiwa pada Selasa (1/9/2026). Selain itu, sebanyak 3.916 orang dilaporkan masih hilang di Nepal, termasuk 583 warga negara asing. Sementara itu, dalam pembaruan terakhir pada Minggu, otoritas China melaporkan 16 korban tewas dan 546 orang hilang di wilayahnya, termasuk 261 warga negara asing.
Pencarian di Nepal berfokus pada beberapa lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air (hydropower) tempat ratusan pekerja diduga terjebak di dalam terowongan. Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyampaikan bahwa sebanyak 279 pekerja telah berhasil diselamatkan dari lokasi proyek tersebut. Pihak berwenang awalnya memperkirakan lebih dari 900 orang hilang di kawasan proyek infrastruktur energi tersebut.
Petugas kepolisian Bipin Regmi menjelaskan bahwa tim pencari berhasil menemukan 24 jenazah dari sebuah rumah di Desa Betrabati, Distrik Nuwakot. "Kami sedang menjangkau area-area baru dan menemukan jenazah-jenazah korban," kata Regmi.
2. Runtuhnya gletser Himalaya jadi pemicu banjir bandang hebat

Pegunungan Himalaya (unsplash.com/Sukant Sharma) Dilansir Al Jazeera, bencana besar ini berawal pada Rabu (26/8/2026) akibat serangkaian kejadian di kawasan dataran tinggi Pegunungan Himalaya. Runtuhnya gletser mengirimkan material batuan, es, dan air lelehan dalam jumlah sangat besar ke lembah-lembah di bawahnya. Kondisi tersebut kemudian memicu banjir bandang hebat yang menerjang wilayah hilir.
Para ilmuwan yang menganalisis citra satelit menyatakan bahwa keruntuhan gletser tersebut tampaknya melibatkan kegagalan lapisan batuan dasar di bawah gletser. Air bah lalu menyapu bangunan serta infrastruktur di area pemukiman sekitarnya.
Jurnalis Al Jazeera Jessica Washington melaporkan langsung dari Desa Dhunge, salah satu area terdampak di Nepal, bahwa pemukiman warga hancur total. "Warga di sini memberi tahu kami bahwa setidaknya 250 rumah terdorong ke dalam arus banjir," kata Washington. Ia menambahkan bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih banyak karena hanya sedikit bangunan tersisa yang berdiri dalam kondisi rusak berat.
3. Bantuan mengalir dan ribuan warga berhasil diselamatkan

ilustrasi bantuan kemanusiaan (pexels.com/Gustavo Fring) Hingga saat ini, lebih dari 11 ribu orang telah berhasil diselamatkan dari seluruh kawasan yang terdampak bencana banjir bandang. Perdana Menteri Balendra Shah menyebutkan bahwa jaringan listrik dan saluran komunikasi telah berhasil dipulihkan di beberapa area. Tim penyelamat juga telah memulihkan jaringan jalan menuju Distrik Nuwakot untuk mempermudah distribusi bantuan logistik.
Bantuan senilai lebih dari 42 juta dolar AS atau setara Rp744,57 miliar (kurs Rp17.728) telah masuk ke Nepal pasca bencana, dan pemerintah memperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah. Negara tetangga seperti India dan China turut membantu operasi penyelamatan, termasuk membangun jembatan Bailey guna menjangkau wilayah pelosok yang terisolasi.
Pemerintah Nepal berjanji akan memberikan pendampingan penuh bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga. "Ribuan warga telah kehilangan rumah, keluarga, orang-orang tercinta, dan harta benda mereka," ujar Shah melalui akun media sosial miliknya. Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen membantu para korban melalui masa-masa sulit serta memulihkan kehidupan mereka lewat program rehabilitasi.
Maraknya pembangunan proyek hidroelektrik di Nepal sejak awal abad ke-21 bertujuan untuk mengatasi kelangkaan listrik domestik serta memanfaatkan peluang ekspor energi ke India. Proyek-proyek di wilayah pegunungan ini membutuhkan terowongan untuk mengalirkan air melintasi medan yang curam guna memanfaatkan penurunan ketinggian tanah dalam membangkitkan listrik.




















