Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran Bakal Tetapkan Zona Terlarang di Luar Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Iran akan menetapkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari, sebagai respons terhadap blokade ekonomi AS; Teheran menyatakan selat masih ditutup dan dikendalikan militernya.
  • Kapal yang memasuki zona tanpa koordinasi akan masuk daftar sanksi, berisiko kehilangan asuransi dan izin pelayaran. Arus kapal harian turun dari lebih 100 menjadi tujuh hingga delapan.
  • Ketegangan AS-Iran meningkat setelah serangan timbal balik terhadap kapal. Iran dan Oman menyiapkan koridor maritim alternatif, sementara pelonggaran pembatasan dikaitkan dengan penghentian operasi militer AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengumumkan rencana untuk menetapkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui siaran televisi pemerintah pada Minggu (6/9/2026) malam.

Kebijakan ini diambil guna menekan balik Amerika Serikat (AS) yang masih menerapkan blokade ekonomi di perairan tersebut. Rezaei menegaskan bahwa Selat Hormuz masih ditutup dan berada di bawah kendali militer Iran.

1. Kapal yang melintasi zona terlarang akan dikenai sanksi

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Menurut Press TV, zona terlarang tersebut akan ditarik mulai dari batas garis blokade Angkatan Laut AS hingga mendekati kawasan Selat Hormuz. Area ini juga akan menjangkau perairan di Teluk Persia dan perairan di sekitar pelabuhan bongkar muat di selatan Iran.

Teheran memperingatkan bahwa setiap kapal yang memasuki area tersebut tanpa koordinasi resmi akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi. Sanksi tersebut bakal berdampak pada hilangnya asuransi dan izin pelayaran kapal pelanggar di masa mendatang.

Sebelum krisis, lebih dari 100 kapal kargo melintasi Selat Hormuz setiap hari dengan membawa lebih dari 100 juta ton muatan. Kini arus pelayaran harian anjlok menjadi tujuh hingga delapan kapal saja. Kapal yang diizinkan melintas pun dibatasi hanya untuk yang mengangkut kebutuhan pokok Iran.

2. AS-Iran masih saling serang kapal

USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kondisi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak milik Iran. Serangan tersebut merupakan balasan atas tembakan rudal balistik Iran ke arah dua kapal perang AS. Kapal yang diserang diklaim sebagai bagian dari jaringan armada bayangan milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

IRGC membalas gempuran itu dengan menembak tiga kapal tanker di Selat Hormuz. Iran juga mengklaim telah menyerang kapal nirawak milik AS yang hendak menyusup masuk ke kawasan selat. Namun, juru bicara militer AS telah membantah klaim tersebut.

"Era respons proporsional telah berakhir dan setiap agresi terhadap kepentingan Iran akan menerima balasan yang lebih menyakitkan," kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dilansir The Straits Times.

3. Iran-Oman siapkan koridor baru di Selat Hormuz

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Upaya diplomasi untuk meredakan konflik masih menemui jalan buntu. Sebelumnya, gencatan senjata yang disepakati pada Juni telah runtuh akibat saling tuding terkait pelanggaran komitmen.

Sementara itu, Iran dan Oman bersiap menandatangani kesepakatan koridor maritim internasional baru. Seluruh pintu masuk dan keluar pada koridor alternatif ini nantinya dikelola oleh otoritas Iran. Teheran menegaskan pelonggaran pembatasan baru akan diberikan jika AS menghentikan operasi militer.

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan AS masih akan terus mencekik perekonomian Iran demi memaksa perubahan kebijakan. Blokade Angkatan Laut AS yang didukung lebih dari 20 kapal perang telah mencegat 92 kapal kargo yang hendak menuju Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article