Pertimbangan ini muncul usai Korsel mendapat desakan dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk bergabung bersama mereka dalam mengamankan pelayaran di Selat Hormuz. Korsel sebetulnya sempat menolak keras untuk ikut dalam operasi tersebut. Sebab, mereka tidak mau terseret ke dalam konflik antara Washington dan Teheran.
Korsel Pertimbangkan Kirim Pasukan untuk Amankan Selat Hormuz

- Pemerintah Korea Selatan mempertimbangkan pengiriman pasukan untuk mengamankan Selat Hormuz setelah mendapat desakan Amerika Serikat, meski sebelumnya menolak demi menghindari konflik Washington-Teheran.
- Kantor Kepresidenan Korsel membantah laporan bahwa pengiriman pasukan telah disepakati; keputusan masih dibahas karena berpotensi memperkeruh ketegangan antara AS dan Iran.
- Korsel berdiskusi dengan AS, Inggris, dan Prancis, sementara klaim kekuasaan AS-Iran di Selat Hormuz memicu ketidakpastian pelayaran komersial akibat risiko serangan militer Iran.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) dikabarkan sedang mempertimbangkan rencana pengiriman pasukan militer untuk mengamankan Selat Hormuz dari ancaman Iran. Kabar itu disampaikan oleh Kantor Kepresidenan Korsel pada Jumat (4/9/2026).
1. Sejumlah media menyebut Korsel sudah siap mengirim pasukan ke Selat Hormuz

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/European Space Agency) Sebelumnya, sejumlah media internasional menyebut bahwa Korsel saat ini sudah siap untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Mereka menyebut Seoul sudah sepakat membantu Washington untuk mengamankan perairan tersebut. Laporan serupa juga disampaikan oleh dua media Korsel, JTBC dan MBC, pada Kamis (3/9/2026) lalu.
Namun, semua kabar itu langsung dibantah oleh Kantor Kepresidenan Korsel. Mereka mengatakan, rencana pengiriman pasukan untuk mengamankan Selat Hormuz masih diperbincangkan. Sebab, Korsel tidak mau gegabah dalam mengambil kebijakan. Apalagi, pengiriman pasukan ke Selat Hormuz berpotensi memperkeruh konflik antara AS dan Iran.
2. Korsel sedang berdiskusi dengan sejumlah negara soal pengiriman pasukan ke Selat Hormuz

potret bendera Inggris dan Prancis (pexels.com/Aleks Marinkovic) Seorang pejabat Korsel anonim menambahkan, pihaknya saat ini juga sedang melakukan diskusi intens dengan AS, Inggris, dan Prancis soal pengiriman pasukan ke Selat Hormuz. Sebab, Inggris dan Prancis juga diajak AS agar bersedia mengirim pasukan militernya untuk mengamankan selat tersebut.
Namun, hingga saat ini, diskusi tersebut belum final. Oleh karena itu, pejabat tadi mengatakan, Korsel kini belum memutuskan apakah mereka akan mengirim pasukan ke Selat Hormuz atau tidak. “Tidak ada hal yang sudah diputuskan saat ini,” kata pejabat Korsel, seperti dilansir Jerusalem Post.
3. Kekuasaan di Selat Hormuz saat ini masih diperdebatkan AS dan Iran
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort) Hingga saat ini, kekuasaan di Selat Hormuz masih diperdebatkan oleh AS dan Iran. Sebab, AS dan Iran masih saling klaim berkuasa di salah satu jalur andalan ekspor dan impor minyak global tersebut. Di satu sisi, Washington mengklaim sudah berkuasa penuh dan sudah membuka Selat Hormuz. Namun, Teheran membantah klaim Washington dan menegaskan bahwa selat tersebut kini masih ditutup dan masih berada di bawah pengawasan militer mereka.
Perdebatan ini lantas menimbulkan ketidakpastian akan hak kebebasan berlayar di Selat Hormuz. Oleh karena itu, kapal-kapal komersial jadi banyak yang enggan berlayar atau sekadar transit di sana karena khawatir diserang pasukan militer Iran. Terlebih, Iran juga sering menyerang kapal-kapal komersial yang melanggar aturan berlayar di Selat Hormuz.




















