Prancis Kucurkan Bantuan Rp20,4 T untuk Petani Terdampak Kekeringan

- Pemerintah Prancis mengumumkan bantuan darurat lebih dari 1 miliar euro atau Rp20,4 triliun setelah gelombang panas ekstrem dan kekeringan merusak lahan pertanian.
- Kekeringan mengancam 30 ribu–35 ribu usaha tani; FNSEA memperkirakan kerugian mencapai 10 miliar euro, dengan sektor pertanian dan peternakan masing-masing kehilangan omzet lebih dari 5 miliar euro.
- Paket mencakup ganti rugi cepat, dana benih dan pakan, pembebasan pajak lahan, serta kelonggaran iuran, di tengah tekanan defisit anggaran dan proyeksi perlambatan ekonomi 0,1 persen.
Jakarta, IDN Times — Pemerintah Prancis mengumumkan paket bantuan darurat senilai lebih dari 1 miliar euro (Rp20,4 triliun) bagi para petani pada Jumat (4/9/2026). Kebijakan ini diluncurkan menyusul gelombang panas ekstrem dan kekeringan parah yang merusak lahan pertanian di berbagai wilayah negara tersebut.
Penyaluran dana pemulihan ini direalisasikan di tengah upaya pemerintah mengelola anggaran negara yang sedang mengalami tekanan. Langkah penyelamatan tersebut terpaksa diambil demi mencegah kebangkrutan massal para produsen pangan domestik.
1. Kekeringan parah ancam puluhan ribu petani

Pertanian di Prancis. (unsplash.com/leandrechastagnier) Cuaca panas ekstrem dan kekeringan sepanjang musim panas mengancam kelangsungan 30 ribu hingga 35 ribu usaha pertanian di Prancis. Krisis produksi pangan lokal semakin memburuk akibat menyusutnya cadangan air dan mengeringnya lahan penggembalaan ternak.
Federasi serikat petani Prancis (FNSEA) memperkirakan bencana iklim ini telah menghancurkan hasil panen dan memicu kerugian hingga 10 miliar euro (Rp204,7 triliun). Sektor peternakan dan pertanian masing-masing mencatat penurunan omzet lebih dari 5 miliar euro (Rp102,3 triliun).
2. Ganti rugi cepat dan pembebasan pajak

bendera Prancis (unsplash.com/RafaelGarcin) Sebagai respons, Pemerintah Prancis segera menyalurkan 520 juta euro (Rp10,64 triliun) untuk ganti rugi cepat bagi petani yang terdampak. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas arus kas operasional perkebunan dan peternakan.
Kementerian Pertanian juga menyiapkan dana khusus sebesar 235 juta euro (Rp4,81 triliun) guna membiayai pengadaan benih dan tambahan pakan ternak.
"Fokus utama kami saat ini adalah menangani kondisi darurat tersebut," tegas Menteri Pertanian Prancis, Annie Genevard.
Selain dana tunai, pemerintah membebaskan pajak lahan pertanian senilai 330 juta euro (Rp6,75 triliun) dan memberikan kelonggaran iuran jaminan sosial. Subsidi solar untuk mesin pertanian turut diperpanjang guna menekan biaya operasional hingga musim tanam berikutnya.
3. Beban anggaran jelang Pemilu Presiden 2027

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/sklepacki) Bantuan dalam jumlah masif ini dikucurkan ketika pemerintah tengah menyusun rancangan anggaran untuk tahun depan. Otoritas Paris kini berjuang keras mengendalikan defisit belanja publik menjelang Pemilihan Presiden 2027.
"Alokasi Rp20,4 triliun adalah upaya yang luar biasa besar di tengah kondisi anggaran kita saat ini," kata Genevard.
Sementara itu, Kementerian Ekonomi memproyeksikan kekeringan tahun ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi Prancis sebesar 0,1 persen akibat anjloknya pendapatan sektor agrikultur. Ancaman gelombang panas susulan dipastikan akan semakin membebani keuangan negara penghasil pangan terbesar di Uni Eropa tersebut.





















