ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)
Selama konflik, tingkat lalu lintas di Selat Hormuz tercatat turun drastis hingga sekitar 95 persen. Hanya ada tiga kapal kargo yang berani mengambil risiko untuk melintasi jalur tersebut pada Rabu.
Hingga saat ini, lebih dari 800 kapal barang dan awaknya masih terjebak di perairan Teluk. Perusahaan pelayaran masih merasa gugup dan ragu terhadap jaminan keamanan di area tersebut.
"Semua orang di pihak pelayaran jelas merasa gugup. Keberangkatan yang tidak teratur dari Teluk berisiko menyebabkan insiden tabrakan," kata pemimpin redaksi perusahaan intelijen maritim Lloyd's List, Richard Meade, dilansir The Straits Times.
Sementara itu, muncul laporan adanya mekanisme izin melintas berbayar yang disebut sebagai tol Teheran. Pemerintah Iran diperkirakan akan meminta bayaran sebesar satu dolar AS (sekitar Rp17 ribu) dalam bentuk mata uang kripto untuk setiap barel minyak yang lewat.