Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Harga Plastik Naik di Tengah Gejolak Selat Hormuz?

Kenapa Harga Plastik Naik di Tengah Gejolak Selat Hormuz?
ilustrasi plastik (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Plastik berasal dari minyak bumi sehingga harganya sangat bergantung pada kondisi pasokan energi global.

  • Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia sehingga konflik di wilayah tersebut dapat mengganggu pasokan.

  • Kenaikan harga minyak memicu efek domino yang meningkatkan biaya produksi hingga harga plastik di pasaran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah yang turut menyoroti Selat Hormuz baru-baru ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kenaikan harga plastik yang disebut-sebut mencapai 40 hingga 100 persen. Kenaikan ini terasa di berbagai sektor, mulai dari kemasan makanan hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Kabar tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan konflik Timur Tengah dengan plastik?

Jika ditelusuri lebih jauh, penyebabnya tidak hanya berasal dari dalam negeri. Situasi di Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dunia ikut memengaruhi pasokan bahan baku plastik. Untuk lebih jelasnya, yuk, simak uraian berikut!

1. Plastik berasal dari minyak bumi

ilustrasi kantong plastik
ilustrasi kantong plastik (unsplash.com/Mathias Reding)

Jika ditanya soal apa bahan baku dalam membuat plastik, banyak orang mungkin akan langsung menyebut bahan sintetis tanpa memahami asal-usulnya. Padahal, plastik pada dasarnya berasal dari minyak bumi dan gas alam yang diolah melalui proses industri petrokimia. Dalam studi Chemical Reviews yang diterbitkan American Chemical Society pada 2024, plastik dijelaskan sebagai material berbasis polimer hidrokarbon yang berasal dari turunan minyak dan gas.

Minyak bumi kemudian diproses menjadi fraksi seperti nafta, yang menjadi bahan dasar untuk menghasilkan monomer, seperti etilena dan propilena. Monomer-monomer ini lalu disusun melalui proses polimerisasi hingga membentuk berbagai jenis plastik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, plastik yang tampak sederhana sebenarnya merupakan hasil panjang dari transformasi kimia berbasis minyak bumi atau sumber daya fosil.

Kaitannya dengan konflik Timur Tengah, ketika pasokan minyak terganggu, produksi bahan petrokimia juga ikut terdampak. Inilah yang membuat harga plastik sangat sensitif terhadap dinamika energi dunia. Dengan demikian, tak heran apabila saat ini plastik mengalami lonjakan harga hingga 100 persen di pasaran.

2. Selat Hormuz sebagai jalur vital energi

ilustrasi Selat Hormuz
ilustrasi Selat Hormuz (pixabay.com/Bergadder)

Sejak konflik Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel memanas, Selat Hormuz jadi sorotan karena perannya sebagai jalur utama perdagangan energi dunia. Selat sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Arab. Ini menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara produsen besar di Timur Tengah.

Dalam kondisi normal, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur ini, menjadikan Selat Hormuz salah satu checkpoint paling krusial di dunia. Mengutip dari International Energy Agency (IEA), angka tersebut setara dengan kurang lebih 20 persen konsumsi minyak global yang dikirim lewat laut. Artinya, sedikit gangguan saja di wilayah ini bisa langsung memengaruhi pasokan energi internasional. Oleh sebab itu, Selat Hormuz sering disebut sebagai arteri energi dunia yang menentukan stabilitas pasar minyak global.

3. Efek domino dari minyak ke harga plastik

ilustrasi pipa plastik
ilustrasi pipa plastik (pixabay.com/vedatzorluer)

Harga minyak tidak berhenti pada level energi, tapi merembet ke berbagai sektor industri, termasuk plastik. World Bank dalam laporan Commodity Markets Outlook (2025) menjelaskan bahwa harga energi global menjadi salah satu faktor utama yang menentukan biaya bahan baku industri petrokimia. Dalam rantai produksi, minyak bumi diolah menjadi nafta yang kemudian menjadi bahan dasar utama pembuatan plastik dan produk turunannya.

Ketika harga minyak naik, biaya produksi nafta ikut terdorong naik. Kondisi ini kemudian meningkatkan biaya produksi resin plastik sebagai bahan baku berbagai produk kemasan dan industri. Akibatnya, fluktuasi harga minyak di pasar global bisa menciptakan efek domino yang akhirnya terasa hingga harga plastik di tingkat konsumen.

Harga plastik yang melonjak di tengah gejolak Timur Tengah tentu membuat masyarakat bertanya-tanya. Pasalnya, selama ini banyak yang tidak mengetahui asal-usul plastik yang ternyata dari produk turunan minyak bumi. Setelah mengetahui hal ini, menurutmu apa langkah paling realistis agar dampak gejolak energi global tidak terlalu membebani masyarakat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Science

See More