Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Diam-diam Beli Satelit China buat Intai Markas Militer AS
potret satelit (pexels.com/SpaceX)
  • Iran dilaporkan membeli satelit TEE-01B dari China secara diam-diam sejak 2024 untuk memantau markas militer Amerika Serikat di berbagai wilayah.
  • Kerja sama pembelian satelit ini menunjukkan kedekatan militer Iran dan China, termasuk rencana pengiriman sistem pertahanan udara MANPADs ke Teheran melalui pihak ketiga.
  • Pemerintah AS di bawah Trump mengancam tarif dagang 50 persen bagi negara yang memasok senjata ke Iran, langkah yang bisa berdampak besar pada ekonomi China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Iran disebut diam-diam membeli satelit dari China untuk mengintai markas militer milik Amerika Serikat. Kabar tersebut termuat dalam laporan Financial Times yang dikutip Jerusalem Post pada Rabu (15/4/2026).

Satelit yang dibeli Iran dari China tadi bernama TEE-01B. Menurut laporan Financial Times yang mengutip dokumen militer Iran, satelit ini diproduksi dan diluncurkan oleh perusahaan ruang angkasa asal China, yakni Earth Eye Co.

Satelit TEE-01B dikabarkan sudah dibeli oleh pasukan ruang angkasa Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak 2024. Sejak saat itu, satelit itu mulai digunakan untuk mengintai markas militer AS, baik yang ada di dalam maupun luar negeri.

1. Iran bisa mengintai target-target di kawasan lain lewat Satelit TEE-01B

ilustrasi satelit yang sedang mengintai target (pexels.com/SpaceX)

Selain mengintai markas militer AS, dengan menggunakan Satelit TEE-01B, Iran juga bisa mengintai target-target lain yang ada di Kawasan Asia dan Amerika Latin. Namun, satelit tersebut memang kerap digunakan untuk mengintai markas militer AS atau markas militer negara Timur Tengah yang berada dekat dengan pangkalan militer AS.

Pada Maret 2026 lalu, misalnya, Iran diketahui menggunakan Satelit TEE-01B untuk mengintai pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi dan pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania. Kedua pangkalan militer tersebut berada dekat dengan pangkalan militer AS di Timur Tengah. 

Berkat pemantauan tersebut, IRGC berhasil melancarkan serangan ke pangkalan udara Prince Sultan Air dan pangkalan udara Muwaffaq Salti. Serangan tersebut dilaporkan menyasar jet-jet tempur AS yang kebetulan sedang terparkir di sana.

2. Iran punya kedekatan dengan China

potret bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pembelian Satelit TEE-01B ini menjadi gambaran bahwa Iran punya kedekatan dengan China, terutama dalam hal militer. Beberapa waktu lalu, China juga dikabarkan berencana mengirim sistem pertahanan udara ke Iran. Kabar tersebut termuat dalam laporan CNN yang mengutip hasil investigasi agen intelijen AS pada Jumat (10/4/2026) pekan lalu.

Menurut intelijen AS, Negeri Tirai Bambu akan mengirim sistem pertahanan udara antirudal bernama MANPADs. Sistem pertahanan udara ini bisa digunakan untuk melumpuhkan jet tempur AS dan Israel yang menggempur Iran sejak 28 Februari 2026 lalu.

Intelijen AS menjelaskan, sistem pertahanan udara tadi akan dikirim ke Iran melalui pihak ketiga. Langkah ini bertujuan agar pengiriman tidak diketahui oleh AS dan menyembunyikan dari mana sistem pertahanan udara tersebut berasal.

3. China bisa terkena tarif dagang 50 persen jika memasok senjata ke Iran

ilustrasi tarif dagang Amerika Serikat (pexels.com/Markus Winkler)

Jika laporan intelijen AS tadi benar, maka China bisa terkena tarif dagang tinggi dari AS. Sebab, Trump menegaskan akan memberikan tarif dagang sebesar 50 persen kepada negara mana pun yang memasok senjata ke Iran. Ancaman tersebut ia umumkan beberapa jam usai menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran pada 7 Maret lalu.

“Negara yang memasok senjata militer ke Iran akan langsung dikenakan tarif untuk semua barang yang dijual ke Amerika Serikat sebesar 50 persen. (Tarif ini akan) segera berlaku. Tidak akan ada pengecualian atau pembebasan!” tulis Trump di laman Truth Social pribadinya, seperti dilansir Al Jazeera.

Oleh karena itu, sejumlah pengamat militer meminta China untuk waspada. Sebab, tarif dagang 50 persen dari AS bisa berdampak pada perekonomian mereka. “Menurut saya, ini adalah ancaman yang terkait dengan China. China pun akan menafsirkannya seperti itu,” kata Wakil Presiden dan Ketua Bidang Ekonomi Internasional Atlantic Council, Josh Lipsky. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team