Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)
  • IRGC mengklaim empat tanker minyak meledak akibat ranjau di dekat Selat Hormuz karena melintasi rute terlarang; dua kapal lain disita dan drone MQ-9 AS ditembak jatuh.
  • Insiden terjadi setelah AS menyerang fasilitas pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm, Hengam, dan dekat Bandar Abbas, sementara ketegangan maritim serta blokade laut berlanjut.
  • Iran menawarkan pembukaan Selat Hormuz dalam dua hari dan perundingan nuklir jika tujuh tuntutannya dipenuhi, termasuk pencabutan sanksi minyak serta penghentian blokade AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan empat kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz pada Rabu (4/11/2026). Keempat kapal tersebut meledak setelah menabrak ranjau laut saat mencoba melintasi jalur pelayaran terlarang di sebelah selatan selat itu. IRGC menyatakan kapal-kapal tanker yang terdampak ledakan masih terbakar di lokasi kejadian.

Dilansir The Jerusalem Post, pasukan elite Iran ini turut menyita dua kapal lain yang melanggar aturan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut. Selain menindak kapal komersial, pertahanan udara IRGC menembak jatuh satu pesawat nirawak (drone) MQ-9 buatan Amerika Serikat (AS) di atas Selat Hormuz pada pukul 04.30 waktu setempat. Pesawat nirawak ini merupakan unit ke-56 yang berhasil dijatuhkan oleh militer Iran.

1. Rangkaian insiden kapal tanker di Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Juru bicara IRGC mengungkapkan bahwa kapal-kapal tanker yang dihancurkan telah melanggar regulasi karena melewati rute tanpa izin. Kapal-kapal itu sengaja mematikan sistem navigasi serta identifikasi agar bisa melintas diam-diam dengan dukungan militer AS. Seluruh operasi penindakan di perairan ini dijalankan oleh pasukan angkatan laut dan dirgantara IRGC.

Sebelumnya, insiden serupa juga telah terjadi beberapa hari lalu. IRGC melaporkan tiga kapal tanker hancur akibat menabrak ranjau laut pada Selasa (3/11/2026) pagi, menyusul dua kapal tanker yang mengalami nasib serupa pada Minggu (1/11/2026). Sejak perang pecah pada Februari lalu, Teheran memperketat kendali atas Selat Hormuz dan menargetkan kapal yang melintas tanpa izin resmi.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga mencatat adanya serangan terhadap kapal komersial di perairan sekitar selat tersebut. Dua proyektil tak dikenal menghantam ruang mesin sebuah kapal tanker di lokasi berjarak 26 kilometer sebelah timur laut Desa Limah, Oman, pada Selasa. Serangan proyektil ini tidak menimbulkan korban jiwa dan belum dapat dipastikan keterkaitannya dengan operasi klaim IRGC.

2. Terjadi setelah serangan AS ke Pulau Qeshm

USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

Rentetan insiden kapal tanker di Selat Hormuz terjadi sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi serangan militer ke wilayah Iran pada Selasa dini hari. Serangan yang menyasar Pulau Qeshm, Pulau Hengam, dan area daratan dekat Bandar Abbas itu menargetkan fasilitas pertahanan udara milik Teheran. Pejabat AS menyebut operasi terbatas ini sebagai langkah pertahanan diri setelah pasukan Iran menembaki pesawat Amerika di selat tersebut.

"Mereka membangun fasilitas antipesawat yang memakan waktu sekitar dua bulan. Kami mengawasinya dibangun dan begitu selesai, kami menghantamnya tadi malam," kata Trump, dilansir Al Jazeera.

Trump menilai operasi militer tersebut hanya serangan kecil dan bukan bagian dari perang berskala penuh. Namun, laporan media AS menyebutkan Komando Pusat AS (CENTCOM) telah menyiapkan rencana serangan lanjutan setelah pemilihan paruh waktu usai. Ribuan tentara AS kini masih berjaga di lepas pantai Iran untuk mempertahankan blokade laut, sementara kapal induk ketiga sedang bergerak menuju Timur Tengah.

3. Iran mengajukan syarat untuk membuka Selat Hormuz

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di jalur diplomasi, kontak tidak langsung antara Washington dan Teheran melalui mediasi Qatar masih belum menghasilkan terobosan. Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari dan siap melanjutkan perundingan nuklir jika AS memenuhi tujuh tuntutan mereka. Syarat utama tersebut mencakup pencabutan sanksi penjualan minyak, penghentian blokade laut AS, gencatan senjata yang meliputi Lebanon, serta kewajiban kapal mengikuti rute kesepakatan Iran dan Oman.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menilai tanggapan Washington terhadap ketujuh tuntutan itu masih belum meyakinkan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan pemerintahannya tetap berupaya menyelesaikan krisis melalui jalur dialog karena perang tidak akan menguntungkan pihak mana pun. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memerintahkan militer untuk merespons setiap ancaman tanpa batasan geografis dan memperbarui daftar target mereka.

"Jika Washington membuat kesalahan perhitungan strategis lagi, mereka harus tahu bahwa kali ini mereka akan menghadapi medan perang baru dan akan mendapati diri mereka jauh lebih putus asa daripada hari ini," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, dilansir The New Arab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article