Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Syarat Perdamaian dari Iran, Siap Buka Kembali Selat Hormuz?

4 min read
5 Syarat Perdamaian dari Iran, Siap Buka Kembali Selat Hormuz?
ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)
  • Iran mengajukan lima syarat perdamaian, termasuk penghentian perang, pencabutan sanksi, pencairan aset, ganti rugi, pengakuan kedaulatan Selat Hormuz, dan jaminan bebas agresi.

  • Teheran siap membuka kembali Selat Hormuz dalam dua hari jika tuntutan dipenuhi, sementara Qatar dan Pakistan melanjutkan mediasi untuk memulai kembali negosiasi.

  • Diplomasi dibayangi serangan AS di Pulau Qeshm dan klaim penembakan drone oleh Iran, saat kedua pihak saling mengancam respons militer lebih lanjut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengajukan lima syarat utama sebagai peta jalan menuju keamanan permanen di kawasan pada Selasa (3/11/2026). Tuntutan ini mencakup penghentian perang di semua lini, pencabutan penuh sanksi ekonomi, pencairan aset beku, ganti rugi perang, hingga pengakuan kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz.

Abdollahi turut memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons segala bentuk ancaman tanpa batas geografis. Sikap tegas ini muncul di tengah upaya mediasi intensif oleh Qatar dan Pakistan guna mencegah eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran yang pecah sejak akhir Februari lalu.

  1. 1. Rincian lima syarat keamanan dari Iran

    kapal di Selat Hormuz
    kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Abdollahi merinci syarat pertama adalah penghentian perang di seluruh lini, khususnya di Lebanon dan Jalur Gaza, sembari menolak perundingan di bawah ancaman militer. Syarat kedua dan ketiga menuntut pencabutan seluruh sanksi, pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

    Pada syarat keempat dan kelima, Teheran menuntut pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz melalui mekanisme baru pengganti kerangka keamanan pimpinan AS, serta jaminan bebas agresi militer di masa depan. Dilansir Anadolu Agency, Abdollahi menegaskan bahwa Iran menempatkan dirinya sebagai pihak yang berhak menagih ganti rugi, bukan pihak yang berutang dan telah muncul sebagai pusat kekuatan global keempat berkat kendali atas jalur energi vital tersebut.

    Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan kesiapan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari jika Washington menerima tuntutan mereka. Tenggat waktu ini jauh lebih singkat dibandingkan proposal tujuh hari yang diajukan Teheran melalui mediasi Qatar pada September lalu.

    "Kemungkinan penerapan rencana ini dalam dua hari merupakan indikasi lain dari pendekatan iktikad baik Iran. Kami telah menyatakan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, pemulihan keamanan di Selat Hormuz dan kelanjutan proses perundingan dapat dilakukan dalam waktu singkat," ujar Baghaei, dilansir Euronews.

  2. 2. Mediasi intensif masih berlangsung di Doha

    bendera Qatar
    bendera Qatar (unsplash.com/monk333)

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut menetapkan syarat tambahan yang wajib dipenuhi gedung putih untuk mencapai kesepakatan. Washington harus menyetujui rute transit baru di Selat Hormuz yang telah disepakati Iran dan Oman, mengurangi jumlah pasukan AS di kawasan, mencabut blokade laut di pelabuhan Iran, serta menghapus sanksi ekonomi baru yang dijatuhkan sejak Agustus.

    Saat ini, delegasi Qatar dan Iran terus melakukan pertukaran pesan untuk merumuskan kerangka kerja guna memulai kembali negosiasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengungkapkan bahwa delegasi negaranya telah bertemu pejabat Iran di Teheran selama lebih dari tiga jam pada Senin untuk meninjau proposal perdamaian.

    "Jika tidak ada secercah harapan, tidak akan ada negosiasi," kata al-Ansari, dilansir Al Jazeera.

    Dari pihak Washington, Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Teheran dapat segera tercapai. Meski demikian, Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa keputusan untuk mencegah perang sepenuhnya berada di tangan AS.

  3. 3. Serangan udara AS di Pulau Qeshm bayangi upaya diplomasi

    Upaya diplomasi yang sedang berlangsung dibayangi oleh aksi militer terbatas AS di Pulau Qeshm, Iran, pada Senin malam. Pejabat militer AS mengklaim serangan tersebut merupakan langkah pertahanan diri untuk menghancurkan peluncur rudal darat-ke-udara Iran yang mencoba membidik pesawat militer mereka.

    Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menembak jatuh dua drone pengintai MQM-170 milik AS di selatan Qeshm pada Selasa. Pasukan IRGC juga menghancurkan satu unit drone MQ-9 di sebelah timur Selat Hormuz.

    Di tengah ketegangan tersebut, Trump masih melontarkan ancaman untuk menyerang satu atau dua target tambahan, termasuk fasilitas Gunung Pickaxe di Iran Tengah yang dicurigai Washington sebagai situs nuklir. Sebagai tanggapan, Teheran dilaporkan telah memperbarui daftar target serangannya dengan memasukkan pangkalan dan infrastruktur militer AS di kawasan Eropa.

    "Setiap tindakan agresi terhadap Iran, setiap serangan militer terhadap Iran, dengan cara apa pun, akan dibalas dengan respons yang kuat, cepat, dan menyeluruh dari kami," tutur Baghaei, dilansir France 24.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More