Dalam laporan JCFA yang dikutip Jerusalem Post, Minggu (18/10/2026), peneliti senior JCFA, Ella Rosenberg, mengatakan, IRGC sengaja melakukan perdagangan manusia (human trafficking) terhadap anak-anak dan perempuan di Iran untuk mendapatkan dana perang. Bahkan, IRGC juga tega menjadikan perempuan di Iran sebagai budak seks agar bisa mendapatkan uang.
IRGC Disebut Eksploitasi Anak dan Perempuan di Iran Demi Perang

- Laporan JCFA menuduh IRGC mengeksploitasi anak dan perempuan di Iran melalui perdagangan manusia, termasuk perbudakan seks, untuk membiayai kepentingan perang.
- IRGC disebut merekrut anak sekitar usia 12 tahun untuk didoktrin militer serta mengeksploitasi migran dan pengungsi Pakistan-Afghanistan sebagai budak atau untuk dijual ke luar negeri.
- Menurut peneliti JCFA, Iran membiarkan praktik tersebut sambil menjaga citra internasionalnya; Irak juga dituduh membantu penjualan rahasia, tetapi Baghdad belum merespons.
Jakarta, IDN Times - Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut telah mengeksploitasi anak-anak dan kaum perempuan di Iran untuk kepentingan perang. Fakta tersebut disampaikan oleh lembaga think tank yang fokus membahas isu di Kawasan Timur Tengah bernama Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs (JCFA).
1. IRGC juga mengeksploitasi migran dan pengungsi dari Pakistan dan Afghanistan

peta wilayah Pakistan dan Afghanistan (pexels.com/Lara Jameson) Rosenberg menambahkan, IRGC juga memanfaatkan anak-anak di Iran untuk dijadikan tentara mereka. Biasanya, IRGC merekrut anak-anak yang masih berusia sekitar 12 tahun untuk diberi doktrin militer agar mau ikut ke medan perang.
Selain itu, IRGC juga kerap mengeksploitasi para migran dan pengungsi asal Pakistan dan Afghanistan yang ada di Iran. Mereka dimanfaatkan oleh IRGC untuk dijadikan budak atau dijual ke pihak lain yang berada di luar negeri. Menurut Rosenberg, tindakan ini mencerminkan bahwa Iran telah membiarkan sayap militernya melanggar aturan hukum internasional.
2. Iran kerap tampak sebagai negara Muslim yang taat

potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji) Menurut Rosenberg, Iran selama ini telah menjadi negara sumber, transit, dan negara tujuan perdagangan seks perempuan dan anak perempuan. Ia mengatakan, Iran sengaja melakukan semua itu karena kemiskinan yang meluas, korupsi, dan perekonomian negara yang salah urus. Sayangnya, tidak banyak pihak yang menyadari semua fakta tersebut.
Rosenberg mengatakan, Iran selama sengaja menjaga citranya di kancah internasional dengan menyamar menjadi negara Muslim yang taat. Oleh karena itu, di forum-forum internasional, Teheran kerap tampak sebagai negara yang paling vokal menentang perdagangan manusia. Padahal, fakta di lapangan tidak demikian. Iran malah sengaja membiarkan IRGC yang merupakan sayap militernya untuk melakukan perdagangan manusia. Bahkan, menurutnya, Iran juga membiarkan IRGC untuk melakukan nikah mut’ah atau kawin kontrak kepada perempuan-perempuan yang ada di wilayahnya.
3. IRGC dibantu oleh Irak dalam melakukan perdagangan manusia

potret bendera Irak (unsplash.com/engin akyurt) Menurut Rosenberg, Iran sudah menolak untuk meratifikasi sekitar 2.000 aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal perdagangan manusia. Inilah yang membuat Iran bisa dengan bebas melakukan hal tersebut. Sebab, negara yang tidak meratifikasi aturan PBB dianggap tidak wajib untuk mematuhi semua aturan yang ada di dalamnya.
Dalam melakukan perdagangan manusia, IRGC disebut mendapatkan bantuan dari Irak. Jadi, Baghdad membantu IRGC untuk menjual anak-anak, kaum perempuan, migran, dan pengungsi yang ada di Iran secara rahasia ke negara-negara tetangga di Timur Tengah. Namun, hingga saat ini, Pemerintah Irak belum merespons tuduhan ini.




















