Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Israel Tewaskan Lebih dari 2.700 Keluarga Palestina di Gaza
anak-anak Palestina (Picture taken by Justin McIntosh,, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Lebih dari 2.700 keluarga Palestina musnah dan 90 persen wilayah Gaza hancur akibat perang genosida Israel selama 1.000 hari, menciptakan bencana kemanusiaan besar.
  • Serangan Israel melumpuhkan hampir seluruh sektor di Gaza, termasuk kesehatan dan ekonomi, membuat jutaan warga hidup dalam kemiskinan ekstrem serta kekurangan layanan dasar.
  • Negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih mandek meski ribuan korban berjatuhan, sementara tuntutan pelucutan senjata menjadi hambatan utama proses rekonstruksi Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kantor Media Pemerintah Gaza, pada Kamis (2/7/2026), menyebutkan bahwa lebih dari 2.700 keluarga Palestina telah musnah sepenuhnya selama 1.000 hari perang genosida Israel di Jalur Gaza. Selain itu, lebih dari 90 persen wilayah tersebut juga telah hancur.

Dilansir Anadolu, Direktur Jenderal Ismail al-Thawabteh, menggambarkan situasi ini sebagai bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, Gaza telah berubah dari kondisi yang relatif stabil menjadi realitas kehancuran total.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 39 ribu keluarga telah menjadi sasaran serangan langsung Israel, termasuk lebih dari 2.700 keluarga yang musnah sepenuhnya setelah seluruh anggotanya tewas. Lebih dari 6.020 keluarga lainnya juga hampir mengalami kepunahan total, dengan hanya satu anggota keluarga yang selamat dalam setiap kasus.

1. Hampir seluruh sektor di Gaza lumpuh akibat perang

serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Al-Thawabteh mengatakan bahwa serangan Israel telah melumpuhkan telah hampir seluruh sektor di Jalur Gaza. Sektor kesehatan termasuk yang paling terdampak parah, di mana rumah sakit yang masih beroperasi kini hanya mampu menyediakan sekitar 20 persen dari kapasitas layanan sebelum perang.

Ia menyebutkan bahwa ada lebih dari 22 ribu pasien Palestina sakit dan terluka yang membutuhkan perawatan di luar negeri, tetapi terhalang oleh penutupan perbatasan dan pembatasan yang diberlakukan Israel.

Selain itu, pengungsian yang berulang serta hilangnya tempat tinggal dan mata pencaharian juga membuat lebih dari 1,5 juta warga Palestina mengalami tekanan psikologis yang berat dan kondisi kehidupan yang terus memburuk. Di kawasan Al-Mawasi, Gaza selatan, lebih dari 1 juta pengungsi Palestina harus hidup tanpa layanan dasar di tengah cuaca panas ekstrem serta kekurangan air bersih, makanan dan obat-obatan.

2. Komunitas internasional dinilai gagal hentikan perang

Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Perang juga telah meluluhlantakkan perekonomian Gaza, menyebabkan lebih dari 80 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Al-Thawabteh mengatakan bahwa ada puluhan ribu keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bahkan, banyak di antaranya hanya dapat bertahan hidup dengan satu kali makan sehari atau kurang dari itu.

Pejabat Kantor Media Pemerintah Gaza itu menuding komunitas internasional gagal menghentikan perang genosida Israel di Gaza. Ia mengatakan bahwa lembaga-lembaga internasional dan Dewan Keamanan PBB memikul tanggung jawab moral dan hukum atas berlanjutnya bencana kemanusiaan tersebut.

"Jika situasi ini terus berlanjut, Jalur Gaza akan menuju kehancuran kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan dunia akan terus menjadi saksi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern," ujarnya.

3. Negosiasi mengenai gencatan senjata masih mandek

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sedikitnya 73.066 warga Palestina tewas dan 173.514 lainnya terluka akibat serangan Israel di Gaza sejak Oktober 2023. Selain itu, 9.500 orang juga dilaporkan hilang, dengan banyak di antaranya diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Meskipun Israel dan kelompok Hamas telah menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025, Israel masih terus melanjutkan serangan di Gaza. Sementara itu, negosiasi mengenai tahap berikutnya masih menemui jalan buntu, terutama terkait tuntutan Israel agar Hamas melucuti persenjataannya sebelum proses rekonstruksi dimulai.

"Akhiri dulu pendudukan, baru soal senjata bisa dibahas," kata seorang mantan tahanan bernama Nasser Faram kepada Al Jazeera.

Sementara itu, warga Gaza lainnya, Hassan Sharaf, menyebutkan bahwa seluruh persenjataan harus berada di bawah wewenang badan pemerintahan yang sah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article