Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Israel Akui Genosida Armenia oleh Turki di Tengah Tuduhan Genosida Gaza

Israel Akui Genosida Armenia oleh Turki di Tengah Tuduhan Genosida Gaza
Monumen Peringatan Genosida Armenia di Kota Yerevan (Rita Willaert from 9890 Gavere, Belgium, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Israel secara bulat mengakui pembunuhan massal warga Armenia oleh Kekaisaran Ottoman sebagai genosida, menandai langkah bersejarah yang masih menunggu ratifikasi resmi dari parlemen.
  • Turki mengecam keras keputusan Israel, menilai pengakuan itu bermotif politik dan sebagai upaya mengalihkan perhatian dunia dari tindakan Israel di Gaza.
  • Langkah Israel dinilai ironis karena negara tersebut tengah menghadapi tuduhan genosida di Gaza serta memiliki rekam jejak mendukung Azerbaijan dalam konflik melawan Armenia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kabinet Israel secara bulat menyetujui usulan untuk mengakui pembunuhan massal warga Armenia oleh Kekaisaran Ottoman sebagai genosida pada Minggu (28/6/2026). Langkah bersejarah ini diusulkan oleh Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar dan dianggap sebagai momen penting bagi Tel Aviv.

Keputusan ini mencerminkan memburuknya hubungan diplomatik antara Israel dan Turki dalam beberapa waktu terakhir. Usulan pengakuan tersebut selanjutnya masih membutuhkan ratifikasi resmi dari parlemen Israel atau Knesset sebelum berlaku penuh.

1. Israel beralasan pengakuan adalah kewajiban moral

tentara Ottoman menggiring warga etnis Armenia di Harput, Turki, pada 1915
tentara Ottoman menggiring warga etnis Armenia di Harput, Turki, pada 1915 (Armin T. Wegner, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sa'ar menyebut pengakuan ini sebagai kewajiban moral dan bersejarah bagi negaranya. Ia menyatakan bahwa Israel harus tegas menolak segala upaya penyangkalan atas tragedi tersebut.

"Tidak ada kata terlambat untuk melakukan hal yang benar. Kami berterima kasih atas dukungan penuh perdana menteri," ujar Sa'ar, dilansir The New Arab.

Genosida Armenia merujuk pada pembunuhan sekitar 1,5 juta orang Kristen Armenia oleh Kekaisaran Ottoman antara tahun 1915 hingga 1923. Sebanyak 32 negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Jerman, telah mengakui tragedi ini sebagai genosida.

Di sisi lain, Turki secara konsisten menolak penggunaan istilah genosida untuk mendeskripsikan peristiwa tersebut. Pemerintah Turki berdalih bahwa ratusan ribu korban yang jatuh dari pihak Armenia maupun Turki diakibatkan oleh kondisi Perang Dunia I.

2. Hubungan Turki-Israel memburuk sejak perang di Gaza

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Orhan Erkılıç, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pengakuan ini muncul di tengah memburuknya hubungan antara Israel dan Turki sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kerap mengkritik kebijakan perang Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Ankara juga telah menangguhkan sebagian besar perdagangan dengan Israel sebagai bentuk protes.

Kementerian Luar Negeri Turki mengecam pengakuan Israel dan menyebutnya sebagai keputusan bernuansa politik. Israel dituduh sedang berupaya mengalihkan perhatian dunia dari kejahatan mereka di Gaza. Ankara juga bertekad untuk selalu melawan kebijakan ekspansionis Israel di kawasan.

"Pemerintah Israel sedang berupaya menutupi kejahatannya sendiri melalui keputusan politik yang diambil terkait peristiwa tahun 1915," tutur Kementerian Luar Negeri Turki, dilansir The New Arab.

3. Pengakuan Israel dinilai ironis

anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan
anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan. (Ashraf Amra, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Langkah Israel ini menuai sorotan dan dinilai ironis oleh beberapa ahli dan pengamat. Pasalnya, Israel sendiri kini tengah menghadapi tuduhan berat terkait genosida di Gaza. Serangan Israel ke Gaza dilaporkan telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina. Pakar PBB dan berbagai kelompok hak asasi manusia menuduh Israel sengaja melakukan genosida terhadap warga sipil.

Ironi ini juga terlihat jika menengok sejarah kebijakan luar negeri dan dukungan militer Israel. Tel Aviv diketahui mendukung Azerbaijan dengan memasok senjata canggih dalam konflik melawan Armenia di Nagorno-Karabakh. Bantuan senjata tersebut telah memfasilitasi pasukan Azerbaijan untuk mengambil alih wilayah sengketa itu secara paksa pada tahun 2023. Akibat serangan itu, sekitar 100 ribu warga etnis Armenia terpaksa melarikan diri meninggalkan tempat tinggal mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More