Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
9 Jasad Perempuan Ditemukan di Afsel, Isu Femisida Kembali Disorot
Demonstrasi antifemisida di Cape Town, Afrika Selatan pada 5 September 2019 menyusul kematian Uyinene Mrwetyana. (commons.wikimedia.org/Discott)
  • Polisi Afrika Selatan menyelidiki sembilan jasad perempuan yang ditemukan di Ekurhuleni dalam dua bulan, tetapi belum memastikan seluruh kasus terkait atau melibatkan pembunuh berantai.
  • Korban berusia 20 hingga 30-an ditemukan di berbagai lokasi, sebagian telanjang atau berpakaian sebagian; kemiripan luka dan pola penemuan mendorong pelibatan Unit Psikologi Investigasi.
  • Rentetan kasus kembali menyorot femisida di Afrika Selatan, yang telah diklasifikasikan sebagai bencana nasional sejak November 2025; kelompok perempuan menuntut perlindungan negara lebih kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Kepolisian Afrika Selatan (SAPS) menyelidiki kemungkinan keterkaitan antara kematian sembilan perempuan yang jasadnya ditemukan di Kota Ekurhuleni, Provinsi Gauteng, dalam dua bulan terakhir. Penemuan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kasus-kasus itu mungkin melibatkan pelaku yang sama. 

Namun, polisi belum menyimpulkan bahwa seluruh kematian tersebut saling berkaitan atau dilakukan seorang pembunuh berantai. Penyelidik masih mempertimbangkan kemungkinan adanya satu maupun beberapa pelaku. 

1. Korban kesembilan ditemukan di dekat lokasi konstruksi

ilustrasi garis polisi (pexels.com/Siobhan Howerton)

Dilansir The Associated Press, jasad perempuan kesembilan ditemukan di kawasan Dawn Park pada Kamis (17/9/2026). Seorang warga menemukan korban di dekat lokasi konstruksi lalu melapor ke polisi. 

Korban yang belum teridentifikasi itu diperkirakan berusia sekitar 30 tahun. Pelaksana Tugas (Plt.) Komisaris Kepolisian Provinsi Gauteng, Mayor Jenderal Fred Kekana, mengatakan bahwa korban mengalami luka tusuk di sisi tubuh dan lehernya tampak disayat. Namun, penyelidik forensik belum menentukan penyebab resmi kematiannya. 

Polisi memasukkan penemuan tersebut ke dalam penyelidikan kematian perempuan lain di Ekurhuleni. Kekana mengatakan, belum ada kepastian bahwa kasus korban kesembilan berkaitan dengan delapan kematian sebelumnya. 

2. Polisi telusuri kemiripan pola pada kesembilan kasus

potret rambu jalan Ekurhuleni (flickr.com/South African Tourism via commons.wikimedia.org/Leoboudv)

Lima jasad pertama ditemukan di Kempton Park dan kawasan sekitarnya. Sementara itu, empat lainnya ditemukan di sejumlah lokasi berbeda yang berjarak sekitar 25–35 kilometer. Polisi menyebut lokasi penemuan antara lain Kempton Park, Pomona, Clayville, Olifantsfontein, Rhodesfield, KwaThema, dan terakhir di Dawn Park. 

Sebagian jasad ditemukan di area terbuka dekat jalan utama. Polisi mempertimbangkan adanya kemungkinan para korban dibunuh di tempat lain sebelum jasad mereka ditinggalkan. Lima jasad terakhir juga ditemukan hanya dalam kurun empat hari. 

The Associated Press melaporkan seluruh korban merupakan perempuan berusia 20 hingga 30-an dan ditemukan dalam kondisi telanjang atau hanya mengenakan sebagian pakaian. Beberapa korban mengalami memar serupa.

Meski belum memastikan seluruh kasus berkaitan, polisi menilai kemiripan itu cukup mengkhawatirkan untuk meningkatkan penyelidikan. Tim detektif dari Unit Psikologi Investigasi, yang menangani kejahatan kekerasan berantai, turut dilibatkan. 

Salah satu korban yang telah diidentifikasi adalah Elizabeth Moselakgomo (38). Ia dilaporkan hilang setelah pergi berlari dan ditemukan meninggal tiga hari kemudian. Sejumlah komunitas menggelar acara lari memorial untuk mengenangnya, sementara kelompok hak asasi perempuan dan organisasi masyarakat sipil menggelar aksi menuntut perlindungan lebih kuat bagi perempuan. 

3. Tingginya kasus femisida di Afrika Selatan kembali jadi sorotan

Demonstrasi antifemisida di Cape Town, Afrika Selatan pada 5 September 2019 menyusul kematian Uyinene Mrwetyana. (commons.wikimedia.org/Discott)

Rentetan pembunuhan ini terjadi kurang dari setahun usai Afrika Selatan mengklasifikasikan kekerasan berbasis gender dan femisida sebagai bencana nasional pada November 2025. Parlemen Afrika Selatan mengatakan tingkat femisida di negara itu lima kali lipat rata-rata global.

Princess Eurika Mogane, komisioner Commision for Gender Equality (CGE), menilai kasus-kasus tersebut mencerminkan situasi yang lebih luas. "Ini seperti perang. Rasanya seperti ada orang-orang yang sedang diburu," ujarnya, dikutip Al Jazeera. 

Mogane juga mengkritik imbauan polisi agar perempuan tidak berjalan atau berlari sendirian serta menghindari daerah terpencil. Menurutnya, tidak seharusnya perempuan di Afrika Selatan terus menyesuaikan kehidupan mereka dengan para pelaku kekerasan. 

National Shelter Movement Of South Africa (NSMSA) turut menegaskan bahwa tanggung jawab atas kekerasan terletak pada pelaku, sedangkan tanggung jawab atas perlindungan terletak pada masyarakat dan negara. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article