Afrika Selatan Bakal Deportasi Lebih dari 15 Ribu Imigran Malawi

- Pemerintah Afrika Selatan akan mendeportasi lebih dari 15 ribu imigran ilegal asal Malawi akibat meningkatnya demonstrasi anti-imigran dan ketegangan sosial di berbagai wilayah.
- Banyak warga asing, termasuk dari Malawi dan Mozambik, memilih pulang karena takut menjadi korban kekerasan xenofobia yang menewaskan beberapa imigran di Afrika Selatan.
- Presiden Cyril Ramaphosa menegaskan hanya otoritas resmi yang berwenang menangani deportasi serta memperingatkan kelompok anti-imigran agar tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap pendatang.
Jakarta, IDN Times - Afrika Selatan (Afsel) akan mendeportasi lebih dari 15 ribu imigran ilegal asal Malawi di negaranya. Keputusan ini berkaitan dengan semakin memanasnya situasi di Afsel menyusul rentetan demonstrasi anti-imigran.
Pada awal Juni, sebanyak 262 imigran asal Nigeria sudah dipulangkan dari Afsel. Pemerintah setempat juga mendesak imigran yang tidak memiliki izin tinggal di Afsel untuk segera meninggalkan negaranya sebelum 30 Juni.
1. Sejumlah imigran Malawi lainnya masih jalani proses verifikasi

Menteri Hukum Afsel, Mmamoloko Kubayi mengatakan bahwa kondisi warga Malawi semakin mengkhawatirkan. Mereka terpaksa mendirikan tenda menyusul ketegangan imbas demonstrasi anti-imigran di Afsel.
“Hingga saat ini, totalnya ada 15.162 warga negara Malawi yang akan diproses untuk deportasi dan repatriasi. Terdapat sejumlah warga Malawi lainya yang sedang menjalani proses verifikasi sebelum dideportasi,” terangnya, dikutip dari TRT Afrika, (30/6/2026).
Otoritas Afsel menyebut, 90 persen dari warga Malawi yang memutuskan untuk dipulangkan ke negara asalnya. Sebab mereka datang secara ilegal atau masa berlaku paspornya akan habis.
2. Warga asing takut menjadi korban kekerasan di Afsel

Keputusan ribuan warga Malawi untuk pulang ke negaranya dikarenakan makin maraknya xenofobia. Terlebih setelah adanya 1 warga Malawi dan 2 warga Mozambik yang tewas karena menjadi target kekerasan kepada imigran.
Dilansir Africa News, seorang warga asing di Afsel mengaku memutuskan untuk dipulangkan karena diancam oleh tetangganya. Sejumlah imigran lainnya mengatakan terpaksa pulang kembali ke negaranya meski berat.
Kekerasan ini sudah ditujukan kepada imigran asal sejumlah negara di Afrika, seperti Malawi, Zimbabwe, Mozambik, Ghana, Nigeria, Kenya, dan Republik Demokratik Kongo. Mereka dianggap sebagai biang kerok atas masalah ekonomi dan tingginya pengangguran di Afsel.
3. Presiden Afsel peringatkan kelompok anti-imigran tidak bertindak buruk

Pada saat yang sama, Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa memperingatkan kelompok anti-imigran tidak bertindak di luar batas dan melakukan kekerasan kepada imigran. Ia memastikan bahwa urusan deportasi imigran ilegal hanya boleh dilakukan oleh otoritas Afsel.
Ramaphosa mengatakan, petugas imigrasi sudah siap menegakkan hukum menjelang batas waktu bagi imigran ilegal kembali ke negaranya. Sementara, pemerintah Afsel mengaku sudah mendeportasi 100 ribu warga asing dalam 2 tahun terakhir dan menghentikan 500 ribu imigran yang berusaha masuk secara ilegal.


















