Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapal Perang AS Terombang-ambing 4 Hari akibat Mati Listrik
Kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Benfold. (PH1 Anthony C. Casullo, USN, Public Domain, via Wikimedia Commons)
  • USS Benfold kehilangan seluruh daya listrik selama empat hari di Laut China Selatan akibat gangguan generator, sehingga tidak dapat bergerak mandiri dan harus ditarik ke Subic Bay, Filipina.
  • Daya kapal pulih dua hari setelah penarikan dimulai, perbaikan tuntas pada 8 Agustus 2026, dan USS Benfold kembali bertugas tanpa adanya cedera pada kru.
  • Insiden ini menjadi gangguan listrik kedua pada kapal perusak AS di Pasifik pada 2026, di tengah sorotan terhadap beban serta kesehatan mental kru dalam penugasan panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Benfold, kehilangan seluruh daya listrik selama empat hari akibat gangguan teknis pada generator saat beroperasi di Laut China Selatan. Kapal kelas Arleigh Burke berbobot hampir 10 ribu ton itu kehilangan kemampuan bergerak secara mandiri hingga akhirnya ditarik menuju Subic Bay, Filipina, sementara penyebab pasti kerusakan generator masih diselidiki.

Gangguan tersebut bermula pada 24 Juli 2026 ketika USS Benfold menjalankan operasi rutin di kawasan Indo-Pasifik, membuat sejumlah fasilitas penting ikut berhenti berfungsi di tengah suhu 89-98 derajat Fahrenheit (sekitar 32-37 derajat Celsius). Kapal penjelajah USS Robert Smalls bersama kapal lain dari gugus tugas berbasis Jepang kemudian menyuplai makanan matang dan dukungan tambahan selama kapal perusak itu kehilangan daya.

1. USS Benfold memulihkan daya listrik setelah penarikan

Kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Benfold. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 2nd Class Arthur Rosen, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Daya listrik USS Benfold kembali pulih dua hari setelah kapal tersebut mulai ditarik pada 28 Juli 2026. Komandan Matthew Comer selaku juru bicara Armada Ketujuh Angkatan Laut AS menyampaikan bahwa seluruh perbaikan selesai pada 8 Agustus 2026 dan USS Benfold telah kembali bertugas hingga terpantau tiba di Jepang.

Comer juga menyampaikan kondisi awak kapal setelah insiden tersebut.

“Tidak ada cedera pada kru, yang menunjukkan ketahanan, keteguhan, profesionalisme, dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam respons mereka,” katanya kepada USNI News, dikutip The Guardian.

2. Gangguan listrik menambah masalah teknis kapal perusak AS

Kapal USS Frank E. Peterson (Commander Naval Sea Systems Command/Huntington Ingalls Industries, Public domain, via Wikimedia Commons)

Insiden USS Benfold menjadi kasus kedua pada 2026 ketika kapal perusak di bawah tanggung jawab Komando Pasifik AS kehilangan daya, setelah USS Higgins mengalami kerusakan sistem kelistrikan pada Mei 2026. Kapal sekelas Arleigh Burke menjadi bagian utama armada dengan lebih dari 70 unit aktif, sedangkan jumlah kru setiap kapal berkisar 329-359 orang bergantung pada konfigurasinya.

Kehilangan daya selama berhari-hari di laut juga menjadi beban berat bagi prajurit yang bertugas di dalamnya. Mantan kapten Angkatan Laut AS Carl Schuster, yang pernah mengalami gangguan daya lebih singkat di dekat Puerto Rico, menilai situasi USS Benfold jauh lebih berat.

“Saya dapat memastikan bahwa empat jam di perairan tenggara Puerto Rico tidak sebanding stresnya dengan empat hari di Laut China Selatan,” katanya, dikutip CNN.

3. Penugasan panjang memicu sorotan terhadap kondisi prajurit

Kapal induk USS Abraham Lincoln (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Class Clint Davis, public domain, via Wikimedia Commons)

Insiden USS Benfold berlangsung ketika kebijakan penempatan jangka panjang prajurit Angkatan Laut AS mendapat sorotan publik, sementara gugus tugas USS George Washington tengah menuju Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah berlayar lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan dalam operasi terkait Iran. Navy Times melaporkan masa penugasan tersebut berkaitan dengan penurunan moral serta kekhawatiran terhadap kesehatan mental kru Lincoln.

Kondisi itu juga mendapat kritik dari politisi dan keluarga prajurit terkait lamanya penempatan serta respons resmi pemerintah, termasuk Senator Ruben Gallego dari Partai Demokrat Arizona yang merupakan mantan Marinir.

“Masalah yang sangat, sangat, sangat mendalam di sini adalah bahwa pemerintah ini tidak merencanakan perang ini, tidak merencanakan cara untuk keluar dari perang ini, dan tidak benar-benar memahami bagaimana perang ini akan meningkat,” katanya kepada ABC News.

Pejabat Angkatan Laut AS menyampaikan belum ada peningkatan laporan mengenai ide atau upaya bunuh diri di atas Lincoln berdasarkan keterangan yang diperoleh Task & Purpose. Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga membantah gambaran kondisi buruk dalam penugasan armada saat berbicara di Newsmax dan menyatakan setiap kapal beserta kru tetap memperoleh seluruh dukungan yang tersedia.

Di tingkat komando operasional, Komandan Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper mengakui beratnya beban yang ditanggung awak kapal induk tersebut setelah meninjau langsung kondisi prajurit. Dalam tulisan opini di Wall Street Journal, Cooper menyebut lebih dari 4 ribu pelaut di Lincoln berada dalam kondisi lelah tetapi tetap bekerja dengan kapasitas penuh, serta menggambarkan penempatan itu sebagai salah satu tugas paling intens secara operasional dan berkonsekuensi di era modern.

Melalui unggahan di platform X, Cooper turut menjelaskan kondisi kesehatan mental para prajurit di Lincoln. Ia menyebut Lincoln termasuk salah satu dari 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS dengan jumlah kasus kesehatan mental terendah, meski penugasan dinas laut dalam jangka panjang tetap disebut memiliki tantangan yang unik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article