Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Virus Nil Barat Melonjak, Eropa Tingkatkan Pengendalian Nyamuk
Nyamuk (commons.wikimedia.org/James Gathany, USCDCP)
  • ECDC mengimbau pengendalian nyamuk diperkuat setelah penularan lokal virus Nil Barat terkonfirmasi di 12 negara Eropa dan 99 wilayah selama musim panas.
  • Italia mencatat 311 kasus dan Yunani 157 kasus, sementara 21 wilayah melaporkan kasus pertama tahun ini; infeksi diperkirakan bertambah selama cuaca hangat.
  • Virus Nil Barat umumnya bergejala ringan, tetapi dapat memicu ensefalitis, meningitis, atau koma; ECDC menganjurkan perlindungan dari gigitan nyamuk dan pembersihan genangan air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mengimbau negara-negara di benua Eropa untuk meningkatkan langkah pengendalian nyamuk pada Jumat (21/8/2026). Imbauan ini dikeluarkan setelah lonjakan kasus infeksi virus Nil Barat (West Nile virus) terdeteksi di berbagai wilayah selama musim panas.

Penularan lokal virus ini berisiko memperluas area penyebaran penyakit ke lebih banyak kawasan pemukiman. Pemerintah di benua Eropa diharapkan segera mengambil tindakan terpadu guna menekan risiko penularan yang makin luas.

1. Penyebaran kasus virus Nil Barat meluas di 99 wilayah Eropa

ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)

ECDC melaporkan bahwa 12 negara telah mengonfirmasi penularan lokal virus Nil Barat, termasuk Albania, Prancis, Jerman, Italia, Yunani, dan Spanyol. Infeksi teridentifikasi di 99 wilayah dengan lonjakan kasus tertinggi berada di Italia sebanyak 311 kasus dan Yunani dengan 157 kasus.

"Perluasan penularan virus Nil Barat serta penyebaran nyamuk invasif menunjukkan Eropa harus memperkuat kapasitas pengendalian nyamuknya," kata Kepala Bidang Penyakit ECDC, Celine Gossner.

Sebanyak 21 wilayah melaporkan temuan kasus untuk pertama kalinya pada tahun ini. Pihak berwenang memperkirakan jumlah infeksi masih dapat bertambah seiring berlangsungnya iklim hangat.

2. Gejala infeksi virus Nil Barat berisiko memicu komplikasi berat

ilustrasi flu (vecteezy.com/Teerawat Wutthikan)

Infeksi virus Nil Barat pada manusia umumnya memicu gejala ringan menyerupai flu, seperti demam dan sakit kepala. Namun, pada kondisi yang parah, penyakit ini dapat berkembang menjadi peradangan jaringan otak (ensefalitis), meningitis, hingga koma.

Kelompok lansia serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah menjadi populasi yang paling rentan terhadap komplikasi fatal tersebut. Kendati begitu, sebagian besar orang yang tertular tidak menunjukkan gejala sama sekali.

"Sejauh ini tidak ada vaksin yang disetujui dan tidak ada pengobatan khusus untuk virus ini, sehingga perawatan terbatas pada pengelolaan gejala," kata Celine Gossner, dilansir The Star.

3. Nyamuk Culex dan nyamuk harimau Asia jadi vektor utama penularan

ilustrasi nyamuk culex pipiens (pexels.com/Pragyan Bezbaruah)

Nyamuk Culex menjadi vektor utama penyebaran virus Nil Barat yang puncaknya berlangsung antara bulan Juli hingga September. Di samping itu, spesies invasif seperti nyamuk harimau Asia (Aedes albopictus) telah menetap di 16 negara Eropa serta berpotensi menyebarkan demam berdarah dan chikungunya.

"Pengendalian nyamuk yang efektif memerlukan pendekatan terpadu yang menggabungkan pemantauan, keterlibatan masyarakat, dan solusi ramah lingkungan," kata Celine Gossner.

ECDC mengimbau masyarakat untuk menggunakan obat oles antinyamuk, mengenakan pakaian tertutup, serta rutin membersihkan genangan air di pemukiman guna memutus rantai penularan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article