Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prancis Tarik 260 Ribu Kondom Berbahaya Berisiko Bocor

Prancis Tarik 260 Ribu Kondom Berbahaya Berisiko Bocor
Bendera Prancis (unsplash.com/Anthony Choren)
  • Pemerintah Prancis menarik sekitar 260 ribu kondom cacat dari pasar fisik dan daring setelah uji laboratorium menemukan risiko pecah serta lubang halus pada sejumlah merek.
  • Penindakan juga menyasar 30 lini kondom tanpa sertifikasi keselamatan Eropa yang dijual daring; sekitar 40 ribu unit telah dibeli sebelum platform memblokir penjualannya.
  • Otoritas kesehatan meminta pengguna produk bermasalah memeriksakan diri, termasuk tes infeksi menular seksual dan tes kehamilan bila terlambat haid, karena efektivitas perlindungan dapat menurun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis menerbitkan peringatan penarikan sekitar 260 ribu produk kondom cacat produksi dari pasaran pada Jumat (21/8/2026). Kebijakan darurat ini diambil untuk melindungi keselamatan masyarakat dari peredaran alat kesehatan yang tidak memenuhi standar.

Langkah pengawasan ini mencakup penghentian distribusi produk di pasar fisik maupun platform perdagangan elektronik. Pihak berwenang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menghentikan penggunaan produk yang terindikasi bermasalah.

  1. 1. Uji laboratorium temukan cacat fisik pada sejumlah merek kondom

    ilustrasi kondom (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi kondom (pexels.com/cottonbro)

    Badan Pengawas Persaingan, Konsumen, dan Penindakan Kecurangan (DGCCRF) bersama Direktorat Jenderal Kesehatan (DGS) menarik produk kondom dari apotek dan toko ritel. Penarikan menyasar merek buatan Okamoto Industries asal Jepang, serta merek My Lubie dan Friday Bae dari Passage du Desir.

    "Pemeriksaan laboratorium mengidentifikasi dua produk tidak memenuhi standar keselamatan karena berisiko pecah serta terdapat lubang halus," kata juru bicara DGCCRF dan DGS.

    Penghentian penjualan dilakukan secara menyeluruh guna mencegah risiko cacat produksi berlanjut ke konsumen. Pihak produsen diminta bertanggung jawab menata kembali proses kendali mutu produk mereka.

  2. 2. Penjualan puluhan produk tanpa izin marak di platform daring

    ilustrasi kondom bekas (freepik.com/freepik)
    ilustrasi kondom bekas (freepik.com/freepik)

    Selain penarikan toko fisik, pengawasan pemerintah menemukan 30 lini produk kondom yang dijual secara bebas di platform perdagangan elektronik. Produk yang mayoritas berasal dari penjual Asia tersebut tidak mengantongi label sertifikasi keselamatan Eropa.

    Sekitar 1.000 kotak atau setara 40 ribu unit produk ilegal tersebut dilaporkan terlanjur dibeli oleh konsumen. Pengelola toko online kini telah memblokir daftar produk bermasalah serta menghentikan seluruh aktivitas penjualannya.

    "Produk tersebut tidak memiliki tanda CE yang diwajibkan serta tidak dilengkapi kemasan berbahasa Prancis," kata perwakilan badan pengawas obat dan kesehatan Prancis, dilansir Times of India.

  3. 3. Otoritas imbau konsumen jalani pemeriksaan kesehatan reproduksi

    ilustrasi kondom tipis (freepik.com/freepik)
    ilustrasi kondom tipis (freepik.com/freepik)

    Cacat fisik pada alat kontrasepsi berpotensi menurunkan efektivitas perlindungan secara signifikan. Kerusakan tersebut meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual serta memicu timbulnya kehamilan yang tidak direncanakan.

    Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat yang menduga telah menggunakan produk cacat tersebut untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas medis. Langkah antisipasi mandiri penting dilakukan demi mencegah komplikasi kesehatan reproduksi.

    "Masyarakat yang telah menggunakan kondom tersebut disarankan melakukan tes penyakit menular seksual dan tes kehamilan jika mengalami keterlambatan haid," kata pejabat DGS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More