Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim turut menjadi penjaga Selat Hormuz, karena itu dia meminta bayaran 20 persen. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, tak lama setelah ia melontarkan gagasan serupa dalam wawancara telepon di program Fox News, Fox & Friends.
Langkah ini menandai eskalasi tajam dalam konflik yang tengah berlangsung antara AS dan Iran, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru soal stabilitas harga energi global.
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu, 11 Juli 2026, dengan alasan adanya transit yang mereka sebut tidak sah. Pada Minggu, 12 Juli 2026, Teheran menegaskan, penutupan itu masih berlaku dan menyatakan izin lintas hanya akan diterbitkan setelah stabilitas dan ketenangan dipulihkan.
Penutupan itu langsung mendorong harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai belahan dunia. Situasi semakin memanas setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone berat sepanjang akhir pekan hingga Senin (13/7/2026).
Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di kawasan Teluk, sementara AS membalas dengan serangkaian serangan balasan. Eskalasi ini sekaligus mengguncang kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu, kesepakatan yang seharusnya membuka kembali Hormuz dan menghentikan permusuhan selama 60 hari ke depan.
