Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Gempur 140 Target Militer Iran usai Penutupan Selat Hormuz

AS Gempur 140 Target Militer Iran usai Penutupan Selat Hormuz
USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Militer AS melancarkan serangan udara besar terhadap 140 target militer Iran sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz dan serangan Iran terhadap kapal komersial.
  • Iran membalas dengan menyerang kapal M/V GFS Galaxy serta beberapa pangkalan militer AS di Timur Tengah, memicu peningkatan ketegangan di kawasan Teluk.
  • AS menuntut Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara upaya diplomatik antara AS, Qatar, Pakistan, dan Iran mulai digelar untuk meredakan konflik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan gelombang serangan udara terhadap target militer Iran pada Sabtu (11/7/2026). Serangan ini diklaim sebagai respons langsung atas tindakan Iran yang menyerang kapal komersial dan menutup Selat Hormuz. Tindakan saling serang ini semakin memanaskan konflik di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan gempuran ini adalah serangan putaran ketiga dalam pekan ini. Militer AS menegaskan serangan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi kapal sipil.

1. Gelombang serangan AS sasar fasilitas militer Iran

kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran
kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran ( Ivan Mlinaric, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Selama tiga malam berturut-turut pada pekan ini, pasukan AS telah menghantam lebih dari 300 target di wilayah Iran. Khusus pada Sabtu, Washington memfokuskan serangan pada 140 fasilitas militer Iran. Target tersebut mencakup situs peluncuran rudal dan pesawat nirawak (drone), fasilitas penyimpanan amunisi, serta jaringan komunikasi.

Rentetan ledakan dilaporkan terdengar di berbagai kota pelabuhan selatan Iran. Beberapa wilayah yang terkena dampak meliputi Bandar Abbas, Sirik, dan Chabahar. Serangan juga menyasar Pulau Qeshm yang dikenal sebagai markas pangkalan rudal bawah tanah milik Iran.

Pemerintah AS menilai Iran gagal mematuhi nota kesepahaman terkait keamanan maritim di Selat Hormuz. Operasi militer ini diperintahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump.

"Iran telah membuat pilihan yang buruk dan kini mereka membayarnya," ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dilansir BBC.

2. Iran serang kapal komersial dan pangkalan militer di Timur Tengah

ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran
ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Ketegangan bermula saat Garda Revolusi Iran (IRGC) menyerang kapal kontainer M/V GFS Galaxy yang berbendera Siprus di Selat Hormuz. Kapal tersebut mengalami kerusakan parah pada ruang mesin dan memicu kebakaran di atas geladak. Akibat insiden ini, satu awak kapal dilaporkan hilang, sementara kru lainnya terpaksa menyelamatkan diri menggunakan sekoci.

Setelah penyerangan tersebut, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Mereka mengklaim kapal M/V GFS Galaxy telah melanggar rute pelayaran dan mengabaikan tembakan peringatan.

Tidak hanya menutup selat, Iran turut memperluas eskalasi dengan menyerang berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan rudal balistik dan drone Iran menargetkan fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, dan Qatar.

Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang merupakan salah satu instalasi militer terpenting AS turut menjadi sasaran tembak Iran. Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain juga membunyikan sirene peringatan udara usai mendeteksi ancaman rudal dari arah Iran. Selain itu, Teheran mengklaim telah menghancurkan pusat logistik AS di Pelabuhan Duqm, Oman.

3. Tuntutan AS dan upaya negosiasi di tengah konflik

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Washington menuntut agar Teheran segera menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial. Para pejabat senior AS meminta Iran menjamin pembukaan seluruh jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa pungutan biaya tol.

Di sisi lain, para petinggi Iran menunjukkan sikap keras dengan menolak tuntutan dari pemerintah AS. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan kesepakatan sepihak tidak lagi berlaku bagi negaranya.

"Kami sudah katakan, tepati janji kalian atau bayar harganya, kini kenyataan telah mengetuk pintu," ujar Ghalibaf, dilansir Ynet.

Meski saling serang terus terjadi, upaya diplomatik untuk meredakan konflik sedang berlangsung dan melibatkan sejumlah negara. Sebuah sumber dari Iran menyebutkan AS, Qatar, dan Pakistan sepakat menggelar perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan telah berada di Oman untuk membahas mekanisme lintas aman bagi kapal-kapal di Selat Hormuz. Oman dilaporkan telah mengajukan rancangan proposal pelayaran gratis melintasi koridor selatan di perairannya. Sementara itu, kapal yang melintasi koridor utara milik Iran diwajibkan meminta persetujuan terlebih dahulu tanpa dikenakan tarif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More