Salah satu potret daerah di Pakistan (unsplash.com/@hassaanmalik18)
Di Karachi, sebuah klaster baru di Site Town mencatat 15 anak terinfeksi HIV, dan dua di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia. Data dari Indus Hospital menunjukkan fakta mengejutkan: dari 72 anak penderita HIV, 66 di antaranya lahir dari ibu yang negatif HIV. Ini membuktikan bahwa penularan murni terjadi karena prosedur medis yang kotor, seperti jarum suntik bekas dan transfusi darah yang tidak aman.
Situasi makin genting karena Pakistan sedang menghadapi kelangkaan obat antiretroviral (ARV) setelah penghentian pendanaan dari USAID. Tanpa pasokan obat yang stabil, angka kematian terkait AIDS di Pakistan yang sudah melonjak 6,4 kali lipat sejak 2010 diprediksi akan terus meningkat.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi dunia kesehatan tentang betapa pentingnya kontrol infeksi dan pengawasan ketat terhadap penggunaan alat medis sekali pakai. Krisis HIV di Pakistan kini menunjukkan dua wajah yang sama-sama mengerikan: malapraktik medis yang mengorbankan anak-anak di pedesaan Punjab, serta gaya hidup berisiko yang mengancam pemuda di pusat kota seperti Islamabad.
Fenomena ini membuktikan bahwa virus HIV tidak lagi hanya bersembunyi di kelompok berisiko tinggi, tapi sudah mulai merembes masuk ke populasi umum melalui celah-celah sistem kesehatan yang bocor.