Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pakistan Terapkan Pemadaman Listrik untuk Cegah Tarif Energi Naik

Pakistan Terapkan Pemadaman Listrik untuk Cegah Tarif Energi Naik
Ilustrasi Bendera Pakistan (freepik.com/user5742774)
Intinya Sih
  • Pemerintah Pakistan menerapkan pemadaman listrik bergilir saat jam sibuk untuk menjaga kestabilan tarif energi di tengah lonjakan biaya bahan bakar akibat konflik di kawasan Iran.
  • Konflik Timur Tengah mengganggu pasokan LNG dari Qatar, menyebabkan defisit daya nasional hingga 4.000 megawatt dan membuat sejumlah pembangkit gas tidak beroperasi penuh.
  • Kota Karachi dan Hyderabad dikecualikan dari pemadaman karena memiliki pembangkit lokal berbiaya rendah serta pasokan gas domestik yang cukup stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Pakistan melalui Kementerian Energi resmi mengumumkan jadwal pemadaman listrik terencana di sebagian besar wilayahnya pada Selasa (14/4/2026). Langkah ini diambil untuk menjaga kestabilan harga energi di dalam negeri akibat konflik di kawasan Iran yang mengganggu jalur logistik utama di Timur Tengah.

Pemadaman bergilir ini akan dilakukan selama jam sibuk di malam hari. Tujuannya adalah menekan biaya operasional pembangkit listrik yang naik akibat ketersediaan bahan bakar internasional yang sedang tidak menentu. Pemerintah berfokus menjaga ketahanan ekonomi nasional dan melindungi warga dari inflasi dengan menghemat pemakaian bahan bakar fosil yang harganya sedang tinggi di pasar dunia.

1. Pemadaman listrik bergilir saat jam sibuk

Ilustrasi pemadaman listrik (Freepik.com/pvproductions)
Ilustrasi pemadaman listrik (Freepik.com/pvproductions)

Pasokan listrik akan dipadamkan sekitar dua jam 15 menit setiap hari antara pukul 17.00 hingga 01.00 waktu setempat di hampir seluruh wilayah Pakistan. Hal ini dilakukan karena produksi hidroelektrik nasional mengalami penurunan hingga 1.991 megawatt.

Pemadaman bergilir bertujuan menyeimbangkan grid nasional karena permintaan listrik mencapai puncaknya pada malam hari, sementara pasokan energi dari sumber air tidak mencukupi. Sistem akhirnya beralih menggunakan pembangkit berbahan minyak bakar yang biaya operasionalnya sangat mahal.

Strategi yang disebut "Strategi Pengurangan Beban Puncak" ini dibuat khusus agar tarif listrik rumah tangga tetap stabil. Jika pasokan listrik terus dipenuhi menggunakan bahan bakar impor, tarif listrik diprediksi naik mencapai 6 rupee Pakistan (Rp368,52) per unit.

"Langkah ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar yang mahal dan mencegah kenaikan tajam tarif listrik bagi pelanggan di tengah ketidakpastian pasar energi global," kata Juru Bicara Divisi Tenaga Listrik Pakistan, Zafaryab Khan, dilansir Channel News Asia.

2. Pasokan gas berkurang akibat konflik di Timur Tengah

ilustrasi Selat Hormuz
ilustrasi Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/U.S. Energy Information Administration)

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026 membuat pasokan gas alam cair (LNG) yang melewati Selat Hormuz terganggu. Qatar, sebagai pemasok utama Pakistan, juga menyatakan status keadaan kahar atas infrastruktur gasnya. Akibatnya, Pakistan kehilangan pasokan LNG hingga 1 miliar kaki kubik per hari. Banyak pembangkit listrik tenaga gas tidak bisa beroperasi penuh karena ketiadaan bahan bakar impor tersebut.

Defisit daya nasional kini mencapai 4.000 megawatt karena kiriman bahan bakar berhenti dan debit air di bendungan utama, seperti Mangla dan Tarbela, sedang surut. Dalam konferensi pers di Islamabad pada Kamis (16/4/2026), Menteri Tenaga Listrik Pakistan menyampaikan permohonan maaf kepada publik.

"Jika warga terganggu karena kami tidak menyediakan listrik pada malam hari dan jam sibuk, saya bertanggung jawab penuh atas situasi ini," kata Menteri Tenaga Listrik Pakistan, Awais Ahmad Khan Leghari, dilansir Hindustan Times.

3. Wilayah selatan bebas pemadaman listrik

Ilustrasi Pakistan (pexels.com/Ali Madad Sakhirani)
Ilustrasi Pakistan (pexels.com/Ali Madad Sakhirani)

Pemerintah Pakistan berkomitmen menahan potensi kenaikan tarif listrik agar tidak melebihi 1,5 rupee Pakistan (Rp92,13) per unit melalui manajemen beban ini. Tanpa adanya intervensi, tarif listrik bisa naik secara tidak terkendali. Kementerian terkait telah meminta seluruh perusahaan distribusi listrik untuk merilis jadwal pemadaman per penyulang (feeder) secara transparan agar warga bisa bersiap. Pemadaman listrik di luar jadwal resmi juga secara tegas dilarang.

Kota-kota besar di wilayah selatan, seperti Karachi dan Hyderabad, dikecualikan dari kebijakan pemadaman bergilir ini. Wilayah tersebut memiliki infrastruktur pembangkit listrik lokal dengan biaya produksi rendah dan mendapat dukungan pasokan gas dari dalam negeri.

"Karachi dan Hyderabad bebas dari pemadaman karena wilayah selatan memiliki pembangkit listrik berbiaya rendah yang mampu menopang kebutuhan energi setempat," kata perwakilan Divisi Tenaga Listrik Pakistan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More