Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Laporan CIA Ungkap Israel di Ambang Konflik Internal

4 min read
Laporan CIA Ungkap Israel di Ambang Konflik Internal
ilustrasi Amerika Serikat (pexels.com/Breet Sayles)
  • Laporan rahasia CIA memperingatkan keretakan politik, ekonomi, dan sosial Israel berpotensi memicu konflik sipil atau keruntuhan negara, terutama menjelang pemilu 27 Oktober 2026.
  • Tekanan biaya hidup, lonjakan belanja militer, mobilisasi cadangan, serta sengketa pengecualian wajib militer ultra-Ortodoks memperdalam polarisasi di tengah ketidakpastian pembentukan pemerintahan.
  • CIA menilai trauma veteran bersenjata dan isolasi internasional dapat memperparah ketidakstabilan; skenarionya mencakup penarikan investasi teknologi serta pemanfaatan kelemahan domestik oleh Hamas atau Hizbullah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Laporan rahasia Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) bertajuk Fracture From Within atau Retak Dari Dalam memperingatkan bahwa keretakan politik, ekonomi, dan sosial yang semakin dalam berpotensi membawa Israel menuju konflik sipil atau keruntuhan negara. Dokumen yang disusun unit Red Cell CIA pada Agustus itu dibuat untuk menguji sejumlah skenario alternatif dengan menantang asumsi intelijen yang selama ini berlaku. Keberadaan laporan tersebut pertama kali diungkap Drop Site News berdasarkan keterangan dua sumber Amerika Serikat (AS) yang mengetahui isinya.

Dilansir Anadolu Agency, CIA tak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan tersebut. Namun, seorang sumber intelijen yang mengetahui isi laporan menilai peringatan itu bukan sekadar kemungkinan yang bersifat khayalan, terutama karena pemilu mendatang dan tingginya keretakan internal di Israel.

Pakar tersebut menyebut kesimpulan dalam laporan CIA perlu diperhatikan secara serius karena kondisi politik dalam negeri Israel dinilai telah mendekati konflik terbuka.

“Ini bukan skenario what if yang fantastis — dengan pemilihan yang akan datang dan keretakan di Israel, kita harus menanggapi dengan serius kesimpulan mereka bahwa Israel tinggal satu percikan lagi dari konflik internal yang nyata,” katanya, dikutip Palestine Chronicle.

  1. 1. Tekanan ekonomi Israel jelang pemilu

    ilustrasi pemungutan suara
    ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès)

    Tekanan yang menguat menjelang pemilu 27 Oktober 2026 berkaitan dengan beban ekonomi rumah tangga yang tinggi, peningkatan pengeluaran militer, serta mobilisasi tentara cadangan secara berulang.

    Ketegangan juga dipengaruhi kekerasan pendudukan Israel di Tepi Barat dan perselisihan mengenai aturan pengecualian wajib militer bagi pria ultra-Ortodoks Yahudi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turut dinilai menjadi sumber ketegangan politik dan konstitusional melalui upayanya mempertahankan kekuasaan, sementara jajak pendapat menunjukkan belum ada blok yang dipastikan menguasai 61 kursi untuk membentuk pemerintahan.

    Perselisihan mengenai wajib militer menjadi salah satu sumber keretakan paling tajam. Kelompok ultra-Ortodoks memperoleh pengecualian luas untuk mempelajari agama dengan alasan dinas militer mengancam kehidupan religius serta kewajiban mempelajari Taurat, tetapi kebijakan tersebut memicu kemarahan tentara cadangan setelah perang bertahun-tahun di Gaza, Lebanon, dan Iran karena mereka bersama keluarga menanggung beban militer.

  2. 2. Veteran perang memperparah ketidakstabilan Israel

    ilustrasi perang
    ilustrasi perang (pexels.com/Polina Tankilevitch)

    Penilaian intelijen itu menyebut sejumlah besar tentara dan pasukan cadangan pulang dari pertempuran berkepanjangan dengan trauma kejiwaan serius. Kondisi tersebut, bersama polarisasi politik dan banyaknya veteran yang memiliki akses terhadap senjata lengkap, dinilai rawan menjadi pemicu ketidakstabilan.

    Seorang sumber intelijen melihat kemiripan pada aspek kondisi veteran bersenjata yang mengalami stres pascatrauma dengan Freikorps Jerman setelah Perang Dunia I. Namun, sumber tersebut menekankan bahwa situasi itu tak sepenuhnya sama dengan kondisi Israel setelah perang di Gaza.

    Tekanan ekonomi juga memperdalam keretakan sosial yang telah ada, termasuk akibat kenaikan harga pangan seperti buah dan sayur segar hingga 9,5 persen dalam dua tahun terakhir. Pada saat yang sama, pengeluaran militer terus melonjak di berbagai front sehingga beban biaya hidup rumah tangga semakin berat.

  3. 3. Laporan memetakan skenario krisis Israel

    bendera Israel
    bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

    Laporan tersebut memodelkan sejumlah kemungkinan krisis, termasuk potensi perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan internasional menarik investasi atau personelnya, pemerintah kawasan meninjau kembali manfaat normalisasi, serta Hamas atau Hizbullah memanfaatkan kelemahan domestik Israel. Laporan terpisah Capital & Empire juga menyebut pejabat Israel khawatir dukungan politik AS melemah sehingga mereka berusaha memperdalam integrasi dengan institusi militer dan intelijen AS agar hubungan tersebut sulit dibalikkan.

    Kondisi itu turut meningkatkan rasa frustrasi di dalam institusi AS terhadap besarnya modal nyata dan politik yang dikeluarkan untuk menopang Israel. Seorang pejabat intelijen menyebut kekecewaan tersebut semakin meluas di kalangan komunitas intelijen, militer, dan masyarakat.

    “Komunitas intelijen, seperti AS, seperti militer, seperti di mana-mana, semakin frustrasi dengan modal nyata dan politik yang dihabiskan untuk menopang Israel,” katanya.

    Pejabat tersebut menyebut kejengkelan itu berkaitan dengan perang Washington dengan Iran, aktivitas mata-mata Israel terhadap AS, serta kekecewaan atas integrasi kapasitas industri militer dengan negara yang dinilai menyeret AS ke perang yang kalah. Tren isolasi internasional tersebut juga muncul dalam survei Pew Research Center, yang mencatat 60 persen warga AS memandang Israel secara tidak baik pada musim semi 2026, naik dari 53 persen pada tahun sebelumnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More