Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lebanon Sebut Pemilu Israel Hambat Perdamaian dengan Hizbullah

3 min read
Lebanon Sebut Pemilu Israel Hambat Perdamaian dengan Hizbullah
potret bendera Lebanon (unsplash.com/Christelle Hayek)
  • Pemerintah Lebanon menilai pemilu Israel pada 27 Oktober menghambat negosiasi damai dengan Hizbullah, meski Presiden Joseph Aoun menegaskan dialog harus tetap berjalan.
  • Lebanon terus berkomunikasi dengan Amerika Serikat sebagai mediator untuk menghentikan serangan, mendorong penarikan pasukan Israel, serta memulihkan wilayah selatan dan pengungsi.
  • Perundingan terakhir berlangsung pada Agustus, sementara tahap kedelapan tertunda; Lebanon menyebut Israel belum menarik seluruh pasukan dan masih menggempur Lebanon selatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Lebanon menyebut pemilihan umum (pemilu) Israel yang akan dihelat pada 27 Oktober mendatang akan menghambat upaya perdamaian antara Tel Aviv dan Hizbullah. Sebab, negosiasi damai jadi tertunda gara-gara kontestasi politik tersebut. Namun, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengatakan bahwa proses negosiasi harus tetap berlangsung.

"Tidak ada pilihan ketiga antara perang dan negosiasi. Jika ada yang punya pilihan lain, beri tahu saya. Perang biasanya berakhir dengan salah satu pihak meraih kemenangan telak yang memaksa pihak lain untuk menyerah atau melalui negosiasi,” kata Aoun saat berpidato di hadapan mahasiswa Holy Spirit University of Kaslik di Beirut, Kamis (15/10/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.

  1. 1. Lebanon terus berkomunikasi dengan Amerika Serikat

    Presiden Lebanon, Joseph Aoun, sedang melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, di Kota New York pada September 2025.
    Presiden Lebanon, Joseph Aoun (kiri), sedang melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio (kanan), di Kota New York pada September 2025. (flickr.com/U.S. Department of State via commons.wikimedia.org/U.S. Department of State)

    Aoun menambahkan, Lebanon saat ini juga terus berkomunikasi dengan Amerika Serikat (AS) yang berperan sebagai mediator untuk mendorong kelanjutan negosiasi antara Israel dan Lebanon. Langkah ini bertujuan agar negosiasi bisa berlanjut sehingga serangan Israel ke Lebanon untuk membasmi Hizbullah bisa segera berhenti. Jika tidak, maka serangan Israel akan terus meluas ke seluruh wilayah di Lebanon.

    “Tujuan yang sedang kami upayakan adalah menghentikan perang, mencapai penarikan pasukan Israel, menyelamatkan dan membangun kembali wilayah selatan, mengamankan kembalinya para tahanan dan pengungsi, serta mencegah perang meluas ke seluruh wilayah Lebanon,” tambah Aoun.

  2. 2. Negosiasi terakhir Israel dan Lebanon dilakukan pada Agustus lalu

    Bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri).
    potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

    Israel dan Lebanon terakhir kali melakukan negosiasi damai pada Agustus lalu. Ketika itu, Tel Aviv dan Beirut menghelat perundingan di Kota Roma, Italia, dengan mediasi dari AS. Itu merupakan negosiasi tahap ke-7 yang dilakukan kedua pihak untuk meredakan ketegangan.

    Negosiasi antara Israel dan Lebanon sendiri sudah dimulai sejak 14 April. Dalam negosiasi pada 26 Juni lalu, Israel dan Lebnon sebetulnya sudah mencapai kesepatan. Ketika itu, Israel bersedia menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan dan menghentikan serangan ke wilayah tersebut. Sebagai imbalannya, Hizbullah diwajibkan untuk menghentikan serangan terhadap Israel. Lebanon juga diwajibkan untuk mengawasi milisi tersebut agar tidak melanggar kesepakatan.

  3. 3. Israel melanggar kesepakatan dengan Lebanon

    Kesepakatan damai.
    ilustrasi kesepakatan damai (pexels.com/Kevin Malik)

    Namun, pada kenyataannya, Israellah yang melanggar kesepakatan tersebut. Sebab, hingga saat ini, pasukan Israel belum sepenuhnya mundur dari Lebanon selatan. Selain itu, Tel Aviv juga masih terus menggempur wilayah tersebut. Bahkan, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu (14/10/2026) lalu mengancam akan mengambil alih lebih banyak wilayah di Lebanon selatan.

    Hingga saat ini, nasib negosiasi antara Israel dan Lebanon masih menggantung. Sebab, belum ada kejelasan kapan negosiasi selanjutnya akan digelar. Negosiasi tahap ke-8 sebetulnya direncanakan akan digelar pada September lalu. Namun, upaya itu urung terjadi karena Israel dan AS sama-sama sedang sibuk menyiapkan pemilu.

    Sama dengan Israel, AS juga akan menggelar pemilu sela pada 3 November mendatang. Dalam pemilu tersebut, warga Negeri Paman Sam tidak akan memilih presiden dan wakilnya, tetapi hanya memilih anggota parlemen dan senat AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More