Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Maciej Ruminkiewicz)
Para ahli menilai hasil pertemuan puncak tersebut menunjukkan bahwa China kini lebih memprioritaskan persatuan regional, guna melawan pengaruh AS daripada mengekang ambisi senjata nuklir dan rudal Kim Jong Un. Pengamat menyuarakan kekhawatiran bahwa China mungkin mengambil sikap toleransi de facto terhadap aktivitas Pyongyang.
Patrick Cronin, ketua bidang keamanan Asia-Pasifik di Hudson Institute, mengatakan kepada Yonhap bahwa Beijing lebih fokus pada upaya menyangkal pengaruh AS daripada menyangkal kepemilikan senjata nuklir Pyongyang. Menurutnya, pertemuan itu adalah pesan persatuan frontal untuk melawan Washington dan sekutunya.
"Kim Jong Un berusaha mendapatkan pengakuan sebagai negara nuklir permanen, dan dia berhasil mendapatkannya melalui kebungkaman China. Dampaknya, Korsel kemungkinan besar akan menilai kembali nilai strategis China sebagai mitra," ujar Ellen Kim, direktur akademik di Korea Economic Institute of America.
Andrew Yeo, Ketua SK-Korea Foundation di Pusat Studi Kebijakan Asia Timur Brookings Institution, mengungkapkan absennya referensi denuklirisasi menunjukkan isu ini bukan lagi prioritas utama China seperti satu dekade lalu.
"Kunjungan Xi memperkuat posisi Kim sebagai pemimpin yang kini diperebutkan oleh China dan Rusia," ungkapnya, dikutip dari Korea Herald.
Sementara itu, Park Jong Chol, Profesor dari Universitas Nasional Gyeongsang berspekulasi bahwa kedua pemimpin mungkin telah mencapai kesepakatan implisit. Disebutkan, Beijing tidak akan keberatan dengan senjata nuklir yang sudah ada, asalkan Pyongyang membekukan produksi persenjataan nuklir baru di masa mendatang.