“Sejarah kita bukanlah sebuah usaha kolonial. Tanah kita bukanlah tanah curian. Ini adalah tanah air kita. Namanya Yudea. Dari sanalah orang Yahudi berasal. Kami telah terikat dengannya selama ribuan tahun. Hambatan menuju perdamaian bukanlah Israel dan bukan perjuangan kita untuk hak kita sendiri untuk eksis di negara kita sendiri, melainkan penolakan musuh-musuh kita dan musuh-musuh AS untuk mengakui hak bangsa Yahudi untuk memiliki negara sendiri di wilayah mana pun,” kata Netanyahu dalam video yang diunggah di X, Jumat (16/10/2026), seperti dilansir Times of Israel.
Netanyahu Kecam Obama karena Dinilai Hina Kedaulatan Israel

- Benjamin Netanyahu mengecam Barack Obama atas pernyataannya mengenai agresi Israel di Palestina, yang dinilai menghina kedaulatan Israel dan hak bangsa Yahudi memiliki negara.
- Netanyahu menegaskan Palestina merupakan bagian dari Israel berdasarkan sejarah, menolak kemerdekaan Palestina, serta menyebut perdamaian tak bisa dibangun tanpa pengakuan atas hak Israel.
- Obama sebelumnya menyatakan Israel mengambil tanah Palestina dan mengusir penduduknya; saat menjabat, ia mengutamakan negosiasi, diplomasi, serta peran PBB dalam penyelesaian konflik.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam eks Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, karena mengeluarkan pernyataan yang dinilai menghina kedaulatan negaranya. Sebab, Obama beberapa waktu lalu mengeluarkan pernyataan yang menyoroti agresi berkelanjutan Israel di Palestina.
1. Netanyahu bersikukuh Palestina adalah bagian dari Israel
Dalam pernyataannya, Netanyahu bersikukuh bahwa berdasarkan sejarah, Palestina merupakan bagian dari wilayah Israel. Oleh karena itu, PM yang kini berusia 76 tahun itu tidak akan membiarkan Palestina berpisah dari Israel dan menjadi negara merdeka. Ia juga mengatakan tidak akan membiarkan orang-orang yang menampik fakta sejarah bahwa Palestina adalah bagian dari Israel.
“Perdamaian yang dibangun di atas ilusi akan hancur berbenturan dengan kenyataan pahit di Kawasan Timur Tengah. Israel tidak akan mempertaruhkan kelangsungan hidupnya untuk mengakomodasi mereka yang menolak menerima fakta sejarah, menerima hak kita untuk eksis, atau ingin meredakan teror,” lanjut Netanyahu.
2. Obama sebelumnya menyebut Israel telah mengambil tanah Palestina

potret demo pembebasan Palestina (pexels.com/TIMO) Sebelumnya, Obama menyebut Israel telah sengaja mengambil alih wilayah Palestina dan mengusir paksa semua penduduknya. Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidatonya di hadapan 7.000 audiens di Queen’s University Belfast, Irlandia, pada Selasa (13/10/2026) lalu. Dalam kesempatan tersebut, Obama juga dianugerahi gelar doktor honoris causa oleh Queen’s University Belfast.
“Itu tak terbantahkan. Hal yang juga tidak terbantahkan adalah mereka mengambil tanah dari orang-orang dan jumlahnya berlebihan. Orang-orang itu, tentu saja, berkata: 'Ini ketidakadilan dan saya ingin tanah saya kembali’. Jika sikap Israel sekarang karena kita adalah yang terkuat dan paling maju secara teknologi di kawasan ini (Timur Tengah), maka keamanan kita akan bergantung pada kita untuk melakukan apa pun yang kita butuhkan dan mengambil apa pun yang kita inginkan dan tidak membuat konsesi apa pun kepada siapa pun,” kata Obama dilansir Anadolu Agency.
3. Hubungan AS dengan Israel tidak terlalu dekat pada era Obama

potret bendera Amerika Serikat dan Israel (pexels.com/www.kaboompics.com ) Saat Obama masih menjabat sebagai presiden, hubungan antara AS dan Israel memang tidak terlalu dekat. Obama juga tidak terlalu dekat dengan Netanyahu seperti halnya Trump. Untuk merespons isu sengketa wilayah antara Israel dan Palestina, Obama juga cenderung mengedepankan jalur damai melalui negosiasi dan diplomasi daripada peperangan.
Selama menjabat, Obama juga berulang kali menyerukan dunia untuk membantu penyelesaian konflik Israel dan Palestina. Obama mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan aksi nyata untuk menyelesaikan konflik tersebut. Obama menilai, keberadaan PBB untuk menyelesaikan konflik Israel dan Palestina sangat penting. Namun, menurutnya, PBB kini memerlukan reformasi organisasi agar keberadaannya semakin dirasakan oleh rakyat Palestina.






















