Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakistan Targetkan CEPA dengan Indonesia Selesai pada 2027
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Pakistan menargetkan penyelesaian CEPA dengan Indonesia pada 2027 untuk memperluas kerja sama ekonomi yang sebelumnya berbentuk PTA, dengan nilai perdagangan mencapai sekitar 4,5 miliar dolar AS.
  • Kunjungan Presiden Prabowo ke Pakistan menjadi momentum penting peningkatan hubungan bilateral yang telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan dan terus berkembang di berbagai sektor strategis.
  • Kedua negara memperkuat kolaborasi pendidikan, riset, dan pengembangan SDM serta fokus pada potensi bonus demografi dan pemberdayaan UMKM sebagai motor pertumbuhan ekonomi bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pakistan dan Indonesia mau kerja sama lebih banyak supaya dagang dan investasi makin besar. Duta Besar Pakistan bilang mereka sedang bikin perjanjian baru namanya CEPA yang akan selesai tahun depan. Presiden Prabowo sudah ke Pakistan dan itu bikin hubungan mereka makin baik. Sekarang dua negara juga kerja sama di sekolah, kesehatan, dan usaha kecil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pakistan menargetkan peningkatan kerja sama perdagangan dengan Indonesia melalui penyelesaian Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) tahun depan. Kesepakatan itu diharapkan menjadi tonggak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara setelah selama ini bekerja sama melalui Preferential Trade Agreement (PTA).

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri mengatakan, hubungan bilateral Indonesia dan Pakistan saat ini berkembang pesat di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, kesehatan hingga pertahanan. Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada Desember tahun lalu menjadi momentum penting bagi peningkatan hubungan kedua negara.

“Ketika Presiden Indonesia Yang Mulia Prabowo Subianto mengunjungi Pakistan bulan lalu, saya bisa mengatakan bahwa itu benar-benar menjadi titik balik dalam kualitas hubungan bilateral kita yang memang sudah sangat baik,” ujar Zahid dalam tanya jawab dengan media di kantornya, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, kedua negara kini berupaya memperluas kemitraan ekonomi agar tidak lagi terbatas pada fasilitas perdagangan preferensial, melainkan berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih komprehensif.

1. Pakistan targetkan PTA bisa naik kelas menjadi CEPA

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Zahid mengatakan nilai perdagangan Indonesia dan Pakistan saat ini mencapai sekitar 4,5 miliar dolar AS atau setara Rp80,6 triliun. Menurut dia, capaian tersebut masih memiliki ruang besar untuk terus ditingkatkan melalui penyempurnaan kerja sama perdagangan. “Saat ini perdagangan bilateral Pakistan dan Indonesia mencapai sekitar 4,5 miliar dolar AS. Kami memiliki Preferential Trade Agreement antara Pakistan dan Indonesia,” katanya.

Ia mengungkapkan pemerintah kedua negara kini tengah menyusun peningkatan status perjanjian tersebut menjadi CEPA. Menurutnya, perjanjian baru itu akan membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas bagi kedua negara.

“Sekarang kami sedang bekerja untuk mengubah Preferential Trade Agreement ini menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement antara kedua negara. Dan itu akan diselesaikan tahun depan,” ujar Zahid.

Menurutnya, Pakistan memandang Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara sehingga peningkatan kerja sama ekonomi menjadi salah satu prioritas utama hubungan bilateral ke depan.

2. Kunjungan Presiden Prabowo jadi momentum hubungan bilateral

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif melakukan bilateral di Islamabad, Selas (9/12/2025) (dok. Sekretariat Presiden)

Zahid mengatakan hubungan Indonesia dan Pakistan sebenarnya telah terjalin jauh sebelum kedua negara meraih kemerdekaan. Ia menyebut kedekatan tersebut menjadi fondasi bagi berkembangnya kerja sama di berbagai bidang saat ini.

“Hubungan ini sudah ada bahkan sebelum kedua negara kita berdiri. Prajurit Muslim dari wilayah kami datang bertempur bersama saudara-saudara Indonesia melawan penjajahan kolonial,” katanya.

Ia juga mengingatkan pada 1948, Pakistan mengirimkan pilot untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada Indonesia ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih berlangsung. Menurut Zahid, hubungan historis tersebut kini berkembang menjadi kerja sama yang luas, termasuk melalui meningkatnya kunjungan pejabat tinggi kedua negara.

“Kami akan segera memiliki lebih banyak kunjungan tingkat tinggi antara Pakistan dan Indonesia,” ujarnya.

3. Pendidikan hingga bonus demografi jadi fokus baru

potret bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar)

Selain ekonomi, Zahid mengatakan Pakistan dan Indonesia juga terus memperluas kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Saat ini, lebih dari 400 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Pakistan, sementara jumlah mahasiswa Pakistan di Indonesia juga hampir sama.

“Kami telah menandatangani berbagai nota kesepahaman antara universitas Pakistan dan Indonesia. Kami melakukan riset bersama, pertukaran dosen, serta pertukaran mahasiswa,” katanya.

Ia menambahkan kedua negara juga telah menyepakati pengakuan bersama terhadap ijazah pendidikan tinggi. Menurutnya, langkah tersebut akan semakin mempermudah mobilitas mahasiswa dan tenaga profesional.

Zahid menilai bonus demografi yang dimiliki Indonesia dan Pakistan menjadi modal besar bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan. “Lebih dari 65 persen penduduk Pakistan berusia di bawah 30 tahun. Kami percaya sumber daya manusia di kedua negara akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi salah satu fokus kerja sama karena dinilai mampu menciptakan lapangan kerja bagi populasi muda yang besar di kedua negara. “Bagi negara sebesar Pakistan dan Indonesia, hanya usaha mikro, kecil, dan menengah yang mampu menyediakan kesempatan kerja bagi populasi yang sangat besar,” kata Zahid.

Editorial Team

Related Article