Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Pemangkasan UFS dinilai dapat membuka ruang bagi dimulainya kembali dialog antara Washington dan Pyongyang. Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali ketika Trump menjabat sebagai Presiden AS periode pertama, tetapi keduanya belum melakukan pertemuan pada masa jabatan Trump saat ini.
“Pengurangan latihan dapat memberikan dampak positif terhadap kemungkinan dialog AS-Korea Utara,” kata Park Won Gon, profesor di Ewha Womans University.
Menurut Park, penghentian latihan militer gabungan selama ini menjadi salah satu prasyarat yang selalu disampaikan Korea Utara untuk membuka dialog dengan AS.
Spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan kembali Trump dan Kim juga semakin menguat. Yang Moo Jin, mantan Presiden University of North Korean Studies, mengatakan Washington berpotensi mencari momentum untuk kembali berdialog dengan Pyongyang menjelang pemilu sela AS pada November.
“Bagi Trump, pertemuan dengan Kim Jong Un dapat menjadi peluang untuk mengamankan warisan kebijakan luar negerinya,” kata Yang.
Sementara itu, Wall Street Journal sebelumnya melaporkan, mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Trump mendorong para pembantunya untuk mengatur pertemuan dengan Kim sesegera mungkin pada musim gugur tahun ini.
Di sisi lain, AS masih menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut. Kehadiran pasukan AS merupakan warisan dari Perang Korea 1950-1953 yang berakhir melalui gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Trump sendiri berulang kali mengkritik aliansi AS yang telah berlangsung lama. Sikap tersebut menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah mitra Washington di Asia Timur terkait komitmen AS terhadap keamanan kawasan.