Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PBB Sahkan Resolusi Baru Dukung Kedaulatan Ukraina
potret sidang Majelis Umum PBB (commons.wikimedia.org/Yuryi Abramochkin)
  • PBB mengesahkan resolusi baru yang menegaskan dukungan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, serta menyerukan gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia.
  • Dalam pemungutan suara Majelis Umum PBB, 107 negara setuju, 12 menolak, dan 51 abstain; Amerika Serikat memilih abstain karena meragukan efektivitas resolusi tersebut.
  • Resolusi ini disahkan saat perang Rusia-Ukraina memasuki tahun keempat, sementara upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan damai masih belum membuahkan hasil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengesahkan resolusi baru untuk mendukung kedaulatan, kemerdekaan, persatuan, dan integritas wilayah Ukraina. Selain mendukung kedaulatan Ukraina, resolusi tersebut juga berisi seruan gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia. Sebab, kedua pihak hingga saat ini masih belum menyetujui kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik. 

Pengesahan resolusi baru ini dilakukan setelah proses pemungutan suara yang dilakukan oleh Majelis Umum PBB pada Selasa (24/2/2026). Dalam voting tersebut, sebanyak 107 negara menyatakan setuju, 12 negara tidak setuju, dan 51 negara memilih abstain atau tidak memberikan suara. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang memilih abstain dalam pemungutan suara untuk mendukung kedaulatan Ukraina tersebut.

1. AS meragukan resolusi baru yang disahkan PBB untuk Ukraina

potret Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Tammy Bruce (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Menurut keterangan Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce, AS memutuskan abstain dalam voting karena meragukan resolusi baru yang dibuat PBB. Sebab, Bruce menilai resolusi tersebut cenderung menghambat upaya perdamaian Rusia dan Ukraina alih-alih mendukungnya. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bagian mana dari resolusi tersebut yang dinilai meragukan.

Meski memilih abstain, Bruce menegaskan Negeri Paman Sam tetap berada di garda terdepan untuk mendukung penuh kedaulatan Ukraina. AS juga mendukung kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Sebab, kata Bruce, kedua hal tersebut merupakan salah satu misi Presiden Donald Trump sejak menjabat lagi sebagai Presiden AS pada Januari 2025 lalu, yakni mendukung perdamaian dunia.  

2. Resolusi disahkan saat perang Rusia dan Ukraina memasuki tahun ke-4

Suasana kota di Ukraina yang hancur karena serangan Rusia. (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Pengesahan resolusi oleh PBB ini dilakukan saat ulang tahun perang antara Rusia dan Ukraina. Sebab, saat resolusi disahkan pada Selasa kemarin, perang antara kedua negara tersebut sudah genap memasuki tahun ke-4. Momentum ini menjadi simbol pengingat bagi komunitas internasional bahwa konflik yang telah merenggut ribuan nyawa tersebut butuh perhatian serius.

Meski sudah memasuki usia 4 tahun, perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Sebab, hingga saat ini, pasukan Rusia masih terus menggempur berbagai wilayah yang ada di Ukraina. Terbaru, Rusia kembali menyerang rumah-rumah warga dan infrastruktur energi yang ada di Kyiv pada Minggu (22/2/2026). Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai belasan lainnya.

3. Ukraina sudah melakukan berbagai upaya untuk berdamai dengan Rusia

ilustrasi perundingan damai Rusia dan Ukraina (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

Ukraina dan Amerika Serikat sebagai mediator sebetulnya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengakhiri perang dengan Rusia melalui kesepakatan gencatan senjata. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga saat ini. Sebab, proses negosiasi dengan Rusia berjalan sangat alot.

Upaya terakhir yang dilakukan Ukraina untuk berdamai dengan Rusia terjadi dalam pertemuan trilateral di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026) lalu. Dalam pertemuan itu, Ukraina, Rusia, dan AS berdiskusi soal gencatan senjata. Namun, usai pertemuan tersebut digelar, kesepakatan belum juga diraih. Ini membuat konflik antara Rusia dan Ukraina jadi makin alot.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team