Hungaria Bakal Blokir Bantuan Uni Eropa untuk Ukraina

- Hungaria mengancam memveto pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro untuk Ukraina hingga aliran minyak Rusia melalui pipa Druzhba dipulihkan, menuding Kiev melakukan tekanan politik.
- Pemerintah Hungaria menuduh Ukraina bersekongkol dengan Brussels dan oposisi domestik untuk menciptakan krisis energi menjelang pemilu, yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dan politik negara tersebut.
- Untuk mengatasi gangguan pasokan, Hungaria dan Slovakia melepas jutaan barel cadangan minyak nasional sementara Kroasia menyatakan situasi masih terkendali dengan pasokan alternatif dari berbagai negara.
Jakarta, IDN Times - Hungaria mengancam akan memveto pinjaman Uni Eropa (UE) senilai 90 miliar euro atau sekitar Rp1.788 triliun untuk Ukraina. Ancaman pemblokiran akan terus dipertahankan hingga Kiev memulihkan pengiriman minyak Rusia melalui wilayahnya.
Sengketa energi ini dipicu oleh terhentinya aliran minyak mentah melalui pipa Druzhba sejak 27 Januari lalu. Ukraina beralasan infrastruktur tersebut rusak akibat serangan drone Rusia, tetapi Hungaria menilai ada motif politik dan sabotase yang disengaja di balik penutupan tersebut, dilansir Euronews pada Jumat (20/2/2026).
1. Hungaria sebut Ukraina lakukan pemerasan

Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban bersama PM Slovakia Robert Fico mengecam penutupan jalur pipa Druzhba. Kedua pemimpin negara tersebut merupakan sekutu dekat Rusia di Eropa yang kilangnya sangat bergantung pada pasokan minyak dari Moskow.
Orban menuding Ukraina sengaja menahan pasokan aliran minyak untuk menekan posisi politik Hungaria di kawasan. Ia menegaskan pemerintahannya sama sekali tidak akan tunduk pada tekanan Kiev terkait persetujuan pencairan pinjaman tersebut.
“Selama Ukraina memblokir pipa Druzhba, Hungaria akan memblokir pinjaman perang Ukraina sebesar 90 miliar euro. Kami tidak akan diintimidasi!” tulis Orban melalui akun Facebook pribadinya, dilansir The Straits Times.
Sebelumnya, Parlemen Eropa telah menyetujui paket pinjaman gabungan tersebut pada 11 Februari untuk membantu Ukraina melawan invasi Rusia. Namun, amendemen anggaran ini membutuhkan suara bulat dari seluruh anggota, sehingga veto dari Hungaria dapat menggagalkan pencairan dana.
2. Tudingan manuver politik jelang pemilu Hungaria

Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menuduh Kiev diam-diam berkoordinasi dengan Brussels dan kelompok oposisi Hungaria. Tujuannya adalah menciptakan gangguan pasokan energi dan memicu lonjakan harga bahan bakar menjelang pemilu pada 12 April mendatang.
Szijjarto menilai tindakan otoritas Ukraina yang menangguhkan transit minyak telah melanggar Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Ukraina. Pelanggaran kesepakatan bilateral ini dianggap mencederai komitmen Kiev terhadap integrasi blok Eropa.
Veto berisiko menjadi pukulan telak bagi Ukraina yang kas negaranya diproyeksikan mulai menipis pada bulan April. Hilangnya sokongan dana ini diyakini akan sangat menyulitkan Kiev dalam mendanai militer dan melemahkan posisi tawar mereka dalam perundingan damai.
3. Hungaria dan Slovakia lepas cadangan minyak untuk atasi krisis

Merespons krisis pasokan, pemerintah Hungaria menerbitkan dekret khusus untuk melepaskan sekitar 1,8 juta barel minyak mentah dari cadangan strategis nasional. Minyak tersebut akan dialokasikan untuk perusahaan energi MOL Group hingga 15 April dan wajib dikembalikan pada 24 Agustus.
Langkah yang sama juga diambil oleh otoritas Slovakia yang langsung mendeklarasikan status keadaan darurat energi. Bratislava telah berjanji untuk melepaskan 1,825 juta barel cadangan minyak demi menyuplai operasional kilang Slovnaft.
Di sisi lain, operator jaringan pipa JANAF asal Kroasia membantah klaim kondisi krisis dan menyatakan pencairan cadangan strategis Hungaria sebenarnya tidak perlu dilakukan. Saat ini, pasokan minyak mentah non-Rusia dalam jumlah besar dilaporkan sedang diangkut menuju terminal kilang MOL tanpa kendala.
Perusahaan MOL juga telah memesan armada kapal tanker yang membawa minyak mentah dari Arab Saudi, Norwegia, Kazakhstan, hingga Libya. Pengiriman logistik tahap pertama tersebut dijadwalkan tiba di pelabuhan Omisalj pada awal Maret mendatang.


















