potret petani Palestina memanen zaitun pada 2014 (commons.wikimedia.org/بدارين)
Dilansir Anadolu Agency, seorang petani Palestina berusia 46 tahun dipukuli pasukan pendudukan Israel di Beita, selatan Nablus, saat penggerebekan di perkebunan zaitun pada Jumat. Saksi mengatakan bahwa pasukan juga menembakkan granat kejut dan gas air mata ke arah petani di Jabal al-Arma hingga mereka meninggalkan lokasi.
"Panen zaitun, yang secara tradisional merupakan sumber pendapatan penting bagi keluarga-keluarga Palestina, telah menjadi musim yang berbahaya karena serangan penjajah dan pembatasan akses ke lahan pertanian," tutur seorang petani, Ismail Abu al-Sheikh, kepada Anadolu.
"Dulu kami merayakan datangnya musim ini dan menantikannya dengan penuh semangat. Kini, kami mengkhawatirkan keselamatan nyawa kami serta nyawa keluarga dan anak-anak kami," lanjutnya.
Petani lainnya, Saqr al-Jabali, memperkirakan produksi minyak zaitun tahun ini dapat merosot sekitar 20 persen karena petani berulang kali dicegah mencapai lahan mereka.
Insiden serupa dilaporkan di Kota Az-Zawiya, sebelah barat Kegubernuran Salfit. Dilansir WAFA, para pemukim Israel menyerang seorang warga Palestina saat ia sedang memanen zaitun dengan menyemprotkan cairan merica ke wajahnya hingga menyebabkan sesak napas.
Pemukim bersama pasukan Israel juga mencegah para petani memanen zaitun di wilayah barat Kota Deir Istiya serta memaksa petani lain meninggalkan lahan mereka di Farkha dan Haris.
Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok Palestina mengatakan lebih dari 45.000 pohon ditebang atau rusak di seluruh Tepi Barat pada paruh pertama tahun 2026, termasuk lebih dari 26.000 pohon zaitun. Kegubernuran Nablus juga mencatat 900 serangan selama periode tersebut, terbanyak di antara kegubernuran di Tepi Barat.