ilustrasi polisi (unsplash.com/Kenny Eliason)
Serangan mematikan turut terjadi di sejumlah pesta perayaan malam Halloween di negara bagian lainnya. Di Jacksonville, Florida, dua penembakan terpisah yang dipicu perkelahian menewaskan seorang remaja perempuan berusia 17 tahun akibat peluru nyasar saat mengantre masuk pesta dan seorang pria berusia 20 tahun di sebuah pesta rumah, serta melukai 11 orang lainnya.
Aksi penembakan juga merenggut nyawa seorang pria dan perempuan di sebuah kelab malam di Jackson, Mississippi, setelah dua pria bertopeng ski melepaskan tembakan ke lantai dansa. Di Detroit, Michigan, peluru nyasar bahkan menembus dada seorang bocah perempuan berusia lima tahun yang masih mengenakan kostum Halloween saat bermain di ruang belakang rumahnya.
Para pakar menilai perpaduan antara kerumunan pesta kostum, konsumsi alkohol, narkoba, serta mudahnya akses senjata api kerap memicu lonjakan kekerasan saat Halloween. Kriminolog Universitas Northeastern, James Alan Fox, menyebutkan analisis data insiden FBI di Boston menunjukkan bahwa 31 Oktober merupakan hari paling berbahaya bagi anak di bawah umur karena mereka beraktivitas di luar rumah pada malam hari dan berinteraksi dengan orang asing.
Meski risiko lonjakan kejahatan telah terpetakan, para ahli mengakui aparat keamanan sangat sulit mencegah aksi penembakan di seluruh titik keramaian. Mantan Direktur Biro Statistik Kehakiman AS pada era pemerintahan Presiden Joe Biden, Alexis Piquero, menyoroti keterbatasan jangkauan pengawasan polisi selama malam perayaan tersebut.
"Polisi tidak bisa berada di dalam setiap bar. Mereka tidak bisa berjaga di setiap tempat parkir," tutur Piquero, dilansir The Straits Times.