Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pengungsi Lebanon Ragu Pulang ke Rumah Meski Ada Gencatan Senjata
bendera Lebanon (unsplash.com/Charbel Karam)
  • Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump setelah pertemuan diplomatik di Washington, disambut positif oleh sejumlah negara Timur Tengah.
  • Banyak pengungsi Lebanon enggan pulang karena ragu Israel akan patuh pada gencatan senjata, sementara Hizbullah meminta warga menunggu hingga situasi benar-benar aman.
  • Konflik yang berlangsung sejak awal Maret 2026 telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan membuat lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi akibat serangan udara dan invasi darat Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Banyak warga Lebanon tetap diliputi kekhawatiran meskipun telah diumumkannya gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dengan kelompok Hizbullah. Mereka mengaku tidak percaya Israel akan mematuhi gencatan senjata tersebut.

Dilansir Al Jazeera, para pengungsi di ibu kota, Beirut, mengatakan bahwa sangat sedikit orang-orang yang mengemasi barang mereka dan pergi. Sebagian memilih menunggu hingga pagi hari untuk memastikan apakah gencatan senjata benar-benar bertahan sebelum pergi memeriksa rumah mereka.

“Kami akan tinggal di sini selama 10 hari penuh," kata Haytham Dandash, salah satu pengungsi. Ia menambahkan bahwa dirinya dan keluarganya akan pulang setelah diberlakukan perjanjian yang lebih panjang.

  • https://www.aljazeera.com/news/2026/4/16/displaced-lebanese-wary-as-ceasefire-between-israel-and-hezbollah-begins

  • https://www.aa.com.tr/en/middle-east/arab-countries-welcome-israel-lebanon-ceasefire-back-exclusive-state-control-of-weapons/3908706

1. Gencatan senjata ini datang setelah 6 bulan pertempuran Israel-Hizbullah

operasi militer Israel di Lebanon selama perang 2023-2024 ( / IDF Spokesperson's Unit)

Gencatan senjata selama 10 hari itu diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, setelah berbicara dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Gencatan senjata ini mulai berlaku pada Kamis pukul 17.00 Waktu Bagian Timur (tengah malam waktu Beirut), dengan harapan dapat menghentikan sementara pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang telah berlangsung selama 6 pekan terakhir.

Pengumuman ini disampaikan menyusul pertemuan diplomatik pertama Israel dan Lebanon dalam hampir 4 dekade yang digelar di Washington DC, AS, pada Selasa (14/4/2026).

Dilansir Anadolu, sejumlah negara, termasuk Kanada, Yordania, Arab Saudi, dan Oman menyambut baik gencatan senjata tersebut. Mereka mendesak semua pihak untuk menghormati dan menerapkan gencatan senjata sepenuhnya demi mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.

2. Hizbullah minta warga tidak pulang dulu ke rumah mereka

Para pejuang Hizbullah dalam sebuah upacara (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

Meski demikian, ketentuan kesepakatan gencatan tersebut masih belum jelas. Netanyahu mengatakan pasukan militernya tidak akan ditarik dari Lebanon selatan selama periode tersebut. Namun, Hizbullah bersikeras bahwa setiap gencatan senjata harus mencakup penghentian serangan secara menyeluruh di seluruh wilayah Lebanon, tanpa kebebasan pergerakan bagi pasukan Israel. Mereka menegaskan bahwa jika Israel tetap menduduki wilayah Lebanon, mereka punya hak untuk melakukan perlawanan.

Menghadapi kondisi ini, Hizbullah dan sekutunya, Nabih Berri, ketua parlemen Lebanon sekaligus pemimpin Gerakan Amal, mengeluarkan pernyataan yang meminta para pendukung mereka untuk tidak langsung kembali ke rumah ketika gencatan senjata mulai berlaku.

“Kami meminta semua orang untuk menahan diri kembali ke kota dan desa hingga situasi dan perkembangan menjadi jelas sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata,” kata Berri, seraya mengingatkan masyarakat bahwa Israel memiliki sejarah melanggar kesepakatan.

Sebagian orang mengatakan akan menunggu jaminan dari Berri atau Hizbullah sebelum kembali ke rumah mereka.

3. Lebih dari 2 ribu orang di Lebanon tewas akibat serangan Israel

serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)

Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 2 ribu orang telah tewas dan lebih dari 1 juta lainnya mengungsi setelah Israel kembali membombardir Lebanon dan melakukan invasi darat di wilayah selatan pada awal Maret 2026. Konflik ini dimulai setelah Hizbullah menyerang Israel sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan terbesar Israel di Lebanon sepanjang konflik ini terjadi pada 8 April 2026, tak lama setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Saat itu, Israel melancarkan 100 serangan udara di seluruh Lebanon, termasuk di jantung ibu kota, Beirut, hingga menewaskan lebih dari 350 orang.

Sebelumnya, Iran dan mediator Pakistan menyatakan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Namun, Israel dan AS bersikeras bahwa kesepakatan itu tidak mencakup Lebanon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team