Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ribuan Warga Swiss Turun ke Jalan Tuntut Solusi Krisis Iklim

2 min read
Ribuan Warga Swiss Turun ke Jalan Tuntut Solusi Krisis Iklim
Aksi demonstrasi (magnific.com/storyset)
  • Ribuan warga berunjuk rasa di Jenewa dan Lausanne pada 19 September 2026, menuntut pemerintah Swiss mempercepat penanganan pemanasan global dan mengevaluasi kebijakan lingkungan nasional.
  • Aksi yang didukung lebih dari 100 organisasi dan partai politik ini menyoroti tuntutan penurunan emisi nyata, serta merujuk putusan 2024 yang menilai Swiss belum maksimal menangani pemanasan global.
  • Demonstran menyoroti kekeringan, ancaman terhadap pertanian, dan cuaca ekstrem yang menyusutkan debit Danau Zurich; gerakan lingkungan akan berlanjut hingga 2 Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga menggelar unjuk rasa di Kota Jenewa dan Lausanne, Swiss, pada Sabtu (19/9/2026). Mereka mendesak pemerintah Swiss mempercepat upaya penanganan pemanasan global.

Aksi tersebut menjadi wadah bagi masyarakat sipil untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim. Para demonstran juga mendorong pemerintah mengevaluasi kebijakan lingkungan di tingkat nasional.

  1. 1. Koalisi masyarakat menuntut penurunan emisi secara nyata

    Unjuk rasa di Jenewa dan Lausanne digagas oleh aliansi yang menaungi lebih dari 100 organisasi masyarakat dan partai politik. Sedikitnya 8.000 warga memadati jalan-jalan utama di Lausanne untuk menyuarakan kekhawatiran terhadap ancaman kenaikan suhu ekstrem pada masa mendatang.

    Aksi tersebut juga merujuk pada putusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa pada 2024 yang menyatakan Swiss belum maksimal dalam menanggulangi pemanasan global. Penyelenggara menilai keterlambatan dalam merumuskan kebijakan lingkungan dapat berdampak buruk terhadap kehidupan masyarakat.

    “Saya berharap aksi ini menjadi awal dari gerakan masyarakat untuk menekan para pemimpin politik dan keuangan atas minimnya respons mereka terhadap krisis iklim,” kata aktivis serikat pekerja, Guillaume Matthey, dilansir France 24.

  2. 2. Massa sampaikan pesan lewat aksi simbolis

    Para pengunjuk rasa dari berbagai kelompok usia membawa spanduk yang berisi peringatan tentang bahaya pemanasan global. Di tengah barisan, seorang peserta mengenakan kostum berbentuk tetesan air raksasa sebagai simbol ancaman kekeringan terhadap sektor pertanian.

    Selain menyoroti masalah kekeringan, peserta aksi dari kalangan lanjut usia mengkritik arah belanja pemerintah. Mereka menilai pemerintah lebih memprioritaskan anggaran untuk sektor militer dibandingkan program mitigasi dampak perubahan iklim.

    “Kekurangan air benar-benar terjadi musim panas ini. Hal ini bukan hanya soal kolam renang, melainkan kelangsungan hidup dan pertanian kita,” kata peserta aksi, Vincent Fontannaz.

  3. 3. Cuaca ekstrem desak perubahan kebijakan lingkungan

    Desakan publik tersebut dilatarbelakangi fenomena cuaca ekstrem yang menyebabkan penyusutan debit Danau Zurich hingga mencapai level terendah. Kenaikan suhu air danau bahkan sempat memaksa penutupan sementara sebuah fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir.

    Aksi di Jenewa dan Lausanne merupakan awal dari rangkaian gerakan lingkungan yang berlangsung hingga 2 Oktober 2026. Para aktivis iklim bertekad mengawal kebijakan pemerintah agar upaya penanganan perubahan iklim menjadi salah satu prioritas nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More