Rusia Tepis Isu Wabah PES di Siberia usai Pekerja Riset Meninggal

- Rusia membantah adanya status darurat wabah pes di Siberia dan menyatakan surat karantina ketat di Shelekhov palsu; aktivitas publik di Wilayah Irkutsk tetap normal.
- Kematian teknisi laboratorium Darya Shipilova disebabkan radang paru-paru berat, bukan pes atau kebocoran bahan penelitian. Rekan kerja dan tenaga medis yang diisolasi preventif dinyatakan sehat.
- AS memantau insiden dan meminta keterbukaan informasi dari Moskow, sementara Rusia menanggapi dengan menawarkan tenaga ahli untuk membantu penanganan penyakit menular di AS.
Take a Deeper Reads

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia membantah kabar penerapan status darurat terkait wabah pes di kawasan Siberia pada Selasa (6/10/2026). Isu ini mencuat ke ruang publik menyusul kabar meninggalnya seorang pekerja fasilitas riset biologis di wilayah timur negara tersebut.
Situasi ketahanan kesehatan masyarakat setempat dipastikan tetap aman tanpa pembatasan ruang gerak warga. Peristiwa ini pun langsung menyita perhatian dunia internasional dan memicu perbincangan diplomatik antara Moskow dan Washington.
1. Penegasan Rospotrebnadzor terkait hoaks surat edaran karantina di Shelekhov
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menegaskan bahwa surat edaran mengenai karantina ketat di Kota Shelekhov merupakan dokumen palsu. Aktivitas warga, operasional layanan publik, serta fasilitas umum di Wilayah Irkutsk tetap berjalan normal tanpa kendala.
Tim gabungan dari dinas terkait juga memastikan tidak ada kebocoran bahan biologis berbahaya di lingkungan fasilitas penelitian. Otoritas tidak memberlakukan aturan pembatasan baru di Siberia, seraya mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh kabar bohong.
"Situasi kesehatan dan persebaran penyakit di Wilayah Irkutsk tetap stabil," kata Gubernur Wilayah Irkutsk, Igor Kobzev, dilansir DW.
2. Penyelidikan mendalam atas meninggalnya teknisi laboratorium
Penyelidikan mendalam bermula ketika seorang teknisi laboratorium bernama Darya Shipilova (28) meninggal dunia akibat infeksi saluran pernapasan. Korban bertugas di Institut Riset Anti-Pes Siberia dan Timur Jauh, sebuah lembaga yang meneliti berbagai mikroorganisme menular.
Data rekam medis memastikan uji laboratorium pascakematian tidak menunjukkan keberadaan bakteri pes pada tubuh korban. Diagnosis akhir menyatakan pasien menderita radang paru-paru berat yang tidak terbukti bersumber dari kebocoran materi penelitian laboratorium.
Puluhan tenaga medis serta rekan kerja korban sempat menjalani masa isolasi preventif dan seluruhnya dinyatakan sehat.
3. Tawaran balik tenaga ahli Rusia untuk penanganan penyakit menular di AS
Perkembangan insiden ini dipantau secara saksama oleh Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya memonitor situasi secara saksama dan membuka opsi untuk mengirimkan bantuan medis kepada Rusia.
Pada saat bersamaan, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di Reykjavik mendesak Moskow agar membuka akses informasi terkait insiden tersebut kepada masyarakat global. Menanggapi desakan itu, Rusia justru membalas dengan menawarkan tenaga ahlinya guna membantu penanganan kasus penyakit menular di wilayah AS.
"Kami menghargai tawaran bantuan tersebut, sementara badan pengawas kesehatan publik kami terus menangani situasi ini," tutur Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov.






















