Jakarta, IDN Times – Sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) yang menyasar seluruh sektor penerbangan Iran memicu pembatalan serta penangguhan penerbangan internasional secara massal. Kebijakan itu juga menempatkan bandara dan perusahaan asing pada ancaman sanksi sekunder jika tetap melayani maskapai Iran, mulai dari pendaratan, pengisian bahan bakar, hingga penjualan tiket.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan bentuk tekanan tersebut terhadap mitra asing dalam wawancara dengan CNBC.
"Jika mereka mendarat, Anda tidak bisa mengisi bahan bakar mereka, Anda tidak bisa menyediakan layanan pendaratan, Anda tidak bisa menjual tiket mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," katanya, dikutip The New Arab.
Bessent juga menyampaikan bahwa AS sedang memberikan tekanan luar biasa yang belum pernah dialami Iran sebelumnya. Dalam wawancara lain dengan Fox News pada Rabu (23/9/2026), ia memperkirakan lebih dari 80-90 persen penerbangan luar negeri Iran telah shut down serta mempertanyakan bagaimana perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat pulang.
Presiden Iran Massoud Pezeshkian merespons tekanan tersebut saat menghadiri Sidang Umum PBB di New York.
"Perlawanan rakyat Iran hanya akan semakin intensif di hadapan sanksi, tekanan yang semakin meningkat, dan intimidasi yang semakin besar dari AS," katanya.
