Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

China Tolak Sanksi AS terhadap Seluruh Maskapai Iran

3 min read
China Tolak Sanksi AS terhadap Seluruh Maskapai Iran
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • China menolak sanksi terbaru AS terhadap seluruh maskapai Iran, dengan alasan tindakan sepihak tersebut tidak berlandaskan hukum internasional maupun persetujuan Dewan Keamanan PBB.
  • Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pihak yang melayani maskapai Iran dapat kehilangan akses sistem dolar, termasuk untuk bahan bakar, layanan pendaratan, dan penjualan tiket.
  • Penolakan China muncul menjelang KTT Trump-Xi, saat konflik AS-Iran sejak Februari 2026 berlanjut dan blokade Iran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China menolak sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) yang menyasar sektor penerbangan Iran dan menyebut tindakan tersebut ilegal pada Selasa (22/9/2026). Langkah Beijing ini muncul sehari setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa pembatasan tersebut dapat melumpuhkan operasional maskapai penerbangan Tehran di seluruh dunia dalam hitungan hari.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan kritik keras tersebut dalam sebuah konferensi pers. Ia menegaskan bahwa Beijing menentang tindakan sepihak yang tidak memiliki dasar hukum internasional maupun persetujuan PBB.

“China secara konsisten menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional atau otorisasi dari Dewan Keamanan PBB,” kata Guo, dikutip Straits Times.

  1. 1. Bessent memperketat tekanan sistem dolar

    ilustrasi dolar AS (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
    ilustrasi dolar AS (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    AS memberlakukan sanksi pada bulan ini terhadap seluruh maskapai penerbangan Iran yang tersisa, serta menyasar entitas luar negeri yang mendukung sektor penerbangan negara tersebut. Dalam wawancara televisi, Bessent menjelaskan bahwa perusahaan asing juga akan menghadapi konsekuensi jika tetap memberikan layanan kepada maskapai penerbangan Iran.

    “Seluruh maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia dalam hitungan hari di bawah beban sanksi Amerika,” kata Bessent kepada CNBC.

    Bessent merinci bentuk pembatasan ketat yang akan diberlakukan terhadap pihak mana pun yang melanggar aturan tersebut. Ia sebelumnya juga berjanji akan menyatakan "Hari-D ekonomi" untuk memperketat tekanan finansial terhadap Tehran.

    “Jika mereka mendarat, Anda tidak dapat menyediakan bahan bakar, Anda tidak dapat menyediakan layanan pendaratan, Anda tidak dapat menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar,” kata Bessent, dikutip WION News.

  2. 2. Trump dan Xi Jinping hadapi ganjalan baru

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sempat berbincang dalam pertemuan puncak G20 di Buenos Aires, menjelang makan malam kerja antara delegasi Amerika Serikat dan China.
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sempat berbincang dalam pertemuan puncak G20 di Buenos Aires, menjelang makan malam kerja antara delegasi Amerika Serikat dan China. (Dan Scavino, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Kecaman China atas sanksi penerbangan ini mengemuka tepat sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan mulai pada Kamis (24/9/2026). China hingga kini tetap menjadi mitra ekonomi utama sekaligus pendukung diplomatik bagi Iran.

    Pernyataan Bessent disampaikan sehari setelah dirinya bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng untuk melakukan diskusi ekonomi. Pertemuan kedua pejabat tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan menjelang KTT antara pimpinan AS dan China pada pekan ini.

  3. 3. Iran memblokir Selat Hormuz

    Penampakan Selat Hormuz dari satelit
    Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

    AS dan Iran telah berada dalam kondisi perang sejak akhir Februari 2026, ketika serangan AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi serta pejabat militer senior Iran di awal ofensif berskala luas. Konflik militer tersebut dengan cepat meluas dan memicu peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

    Tehran membalas serangan tersebut dengan memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi transit energi dunia. Tindakan penutupan jalur laut oleh Iran ini menyebabkan harga minyak dunia melonjak drastis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More