Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Selat Hormuz Lumpuh, Iran Alihkan Perdagangan ke Laut Kaspia
ilusrasi kapal berlayar (pexels.com/Tom Fisk)
  • Blokade laut AS melumpuhkan pelabuhan selatan dan menekan trafik Selat Hormuz, sehingga Iran mengalihkan perdagangan ke Laut Kaspia serta Rusia; impor melalui pelabuhan utara melampaui 30 persen.
  • Kapasitas pelabuhan utara hanya 30 juta ton, diperparah surutnya Laut Kaspia yang membatasi ukuran kapal. Iran memprioritaskan gandum, minyak bunga matahari, dan pakan ternak dari Rusia.
  • Tekanan logistik bergeser ke perbatasan darat, dengan sekitar 1.800 truk mengantre di Norduz. Iran bersama Rusia mengupayakan jalur kereta Rasht-Astara untuk mendukung distribusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran membuat pelabuhan-pelabuhan selatan lumpuh akibat blokade angkatan laut AS.

Setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, Iran mengalihkan sebagian besar aktivitas perdagangan ke Laut Kaspia dan Rusia untuk tetap mengekspor minyak serta memenuhi kebutuhan pokok, dengan porsi barang impor melalui pelabuhan utara kini melonjak hingga lebih dari 30 persen, dilansir La Minute Arabe.

Dampak konflik juga terasa pada jalur maritim penting di wilayah selatan. Data Kpler mencatat hanya 17 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada 19 September 2026 hingga 20 September 2026, jauh di bawah rata-rata sebelum perang yang mencapai 125 kapal per hari.

1. Pelabuhan Utara Iran menghadapi keterbatasan kapasitas

Laut Kaspia (U.S. Energy Information Administration, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sektor logistik Iran menghadapi keterbatasan kapasitas di kawasan utara. Kepala Organisasi Pelabuhan dan Maritim Mohammad Shakibi-Nasab menyebut kapasitas nominal seluruh pelabuhan Iran mencapai 300 juta ton, tetapi wilayah utara hanya memiliki kapasitas 30 juta ton, sementara porsi barang kebutuhan pokok yang melewati kawasan tersebut naik dari 18 persen sebelum perang menjadi 30 persen, dengan kapasitas satu kapal di selatan setara 20 kapal di Kaspia.

Kondisi itu juga berkaitan dengan kapasitas Laut Kaspia yang terbatas dibandingkan pelabuhan Teluk. Laut Kaspia, danau terbesar di dunia yang berbatasan dengan Iran, Rusia, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan, memiliki kemampuan menampung pelabuhan, kapal, serta kargo yang jauh lebih rendah daripada kawasan pelabuhan Teluk.

Kendala pelayaran di kawasan utara juga dipengaruhi penyusutan muka air Laut Kaspia. Mengutip data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), muka air laut tersebut telah menyusut sekitar 2 meter sejak dekade 1990-an, sementara Direktur Jenderal Kantor Perlindungan Ekosistem Pesisir dan Laut Departemen Lingkungan Iran Shahram Fadakar menyebut penurunannya mencapai lebih dari 20 sentimeter per tahun dalam dua hingga tiga tahun terakhir.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pelayaran Iran Masoud Polmeh menjelaskan pelabuhan utara yang sebelumnya mampu melayani kapal berkapasitas 6 ribu ton kini hanya dapat menangani kapal berukuran 4 ribu ton. Kondisi tersebut membuat operator beralih ke kapal khusus perairan dangkal dan menambah prasarana pendukung.

2. Iran memprioritaskan komoditas pokok melalui pelabuhan utara

ilustrasi kapal ekspor barang (pexels.com/Martin Damboldt)

Pemerintah Iran memusatkan pasokan jelai, jagung, gandum, dan biji minyak melalui pelabuhan utara, termasuk gandum, minyak bunga matahari, serta pakan ternak dari Rusia. Gubernur Provinsi Gilan Hadi Haghshenas mencatat kedatangan peti kemas di pelabuhan Kaspia meningkat hingga 50 persen secara tahunan per 22 Agustus 2026, sedangkan lokasi pelabuhan utara yang lebih dekat dengan Teheran, Isfahan, dan Arak dibandingkan Pelabuhan Shahid Rajaei di selatan membantu menekan biaya angkutan darat.

Pelayaran dari Rusia menuju perairan Iran juga mengalami peningkatan. Data Windward mencatat kunjungan kapal kargo dan tanker Rusia naik 13 persen menjadi 235 kunjungan dalam 164 hari pascaperang pecah pada 28 Februari 2026, sedangkan pengiriman kargo basah dari Rusia meningkat dari delapan menjadi 23 pengiriman dengan volume yang bertambah dari sekitar 174 ribu barel menjadi 437 ribu barel.

Analis Yayasan Bourse & Bazaar Ezana Tedla menyebut ekspor Iran melalui utara masih didominasi barang ringan seperti makanan olahan dan kemasan. Menurutnya, komoditas bernilai tinggi seperti minyak dan bijih besi masih bergantung pada jalur selatan.

“Di luar infrastruktur yang ada, ada juga diaspora dan jaringan pribadi yang sudah mapan di seluruh rute selatan, terutama di UEA, yang membantu perdagangan Iran berlangsung,” kata Tedla kepada Al Jazeera.

3. Iran menghadapi kemacetan jalur perbatasan darat

ilustrasi truk (pexels.com/Quintin Gellar)

Keterbatasan jalur laut membuat tekanan logistik beralih ke koridor perbatasan darat. Peneliti independen Vali Kaleji mencatat sekitar 1.800 truk harus mengantre berhari-hari di penyeberangan Norduz yang berbatasan dengan Armenia, sementara waktu tunggu di terminal lain mencapai 10 hingga 15 hari untuk memasuki Iran.

Untuk mengatasi kemacetan logistik jangka panjang, Iran berupaya merampungkan proyek jalur kereta Rasht-Astara bersama Rusia. Jalur tersebut ditujukan untuk melengkapi Koridor Transportasi Utara-Selatan Internasional yang menghubungkan Iran, Azerbaijan, dan Rusia, sedangkan laporan Le Monde yang merujuk pada investigasi NBC menyebut Rusia disinyalir turut mengirimkan komponen pesawat nirawak serta bahan peledak ke Iran melalui Laut Kaspia.

Penumpukan di sejumlah titik perbatasan darat semakin dipengaruhi akumulasi hambatan operasional dan tekanan regulasi. Kaleji menyebut sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kemacetan tersebut.

“Sementara itu, sanksi terhadap maskapai penerbangan Iran dan lonjakan penumpang yang dihasilkan menuju perbatasan darat Iran dengan Armenia dan Turki semakin memperburuk masalah di terminal-terminal perbatasan,” kata Kaleji kepada Al Jazeera.

Penumpukan terjadi di tengah tantangan Iran menjaga arus barang di tengah sanksi dan keterbatasan infrastruktur. Kondisi tersebut berkaitan dengan kompleksitas jalur distribusi yang digunakan Iran untuk mempertahankan pergerakan barang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article