Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Ajukan Proposal untuk Buka Selat Hormuz, Ini Isinya

3 min read
Iran Ajukan Proposal untuk Buka Selat Hormuz, Ini Isinya
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Chatham House, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Iran mengusulkan kepada AS pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari dan gencatan senjata, dengan perundingan program nuklir dimulai setelah jalur pelayaran pulih.
  • Sebagai imbalan, Teheran menuntut pencairan aset minimal 12 miliar dolar AS, pencabutan sanksi minyak, penghentian blokade pelabuhan, serta penghentian permusuhan di Yaman.
  • Penutupan selat mendorong harga Brent sekitar 107 dolar AS per barel, memicu tekanan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela AS November.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mengajukan proposal kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dan mengakhiri perang. Tawaran tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Kamis (24/9/2026).

Komunikasi kedua belah pihak berlangsung lewat bantuan mediator Qatar yang menyampaikan pesan antara Teheran dan Washington. Melalui rancangan tersebut, Teheran menyatakan siap memulihkan pelayaran di Selat Hormuz asalkan Gedung Putih memenuhi sejumlah persyaratan utama.

  1. 1. Iran tawarkan buka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari

    kapal di Selat Hormuz
    kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Proposal terbaru Teheran menetapkan tenggat waktu singkat selama sepekan untuk menghentikan konflik bersenjata. Jika pemerintah AS menyetujui tawaran tersebut, gencatan senjata akan langsung berlaku keesokan harinya.

    "Jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, selat akan dibuka pada akhir hari ketujuh dan perundingan akan dimulai," ujar Araghchi, dilansir The New York Times.

    Setelah Selat Hormuz beroperasi kembali, perundingan mengenai program nuklir Iran juga dapat langsung dimulai. Teheran mengklaim telah menyepakati pengaturan rute pelayaran sementara bersama Oman dan siap mendaftarkannya ke Organisasi Maritim Internasional (IMO).

    Sebelum mengumumkan proposal ini, Araghchi sempat bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner di New York. Pejabat pemerintah AS mengonfirmasi adanya pembicaraan yang konstruktif melalui mediator, meski Washington menegaskan tidak akan gegabah menyetujui kesepakatan tersebut.

  2. 2. Iran menuntut pencairan aset dan pencabutan sanksi

    bendera Iran
    bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

    Sebagai imbalan atas pembukaan selat, Iran menuntut pencairan aset negaranya yang dibekukan AS senilai minimal 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp214 triliun. Teheran juga mewajibkan Washington mencabut sanksi ekspor minyak serta mengakhiri blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

    "Penghentian permusuhan di Yaman juga menjadi salah satu tuntutan Teheran," kata Hossein Mohebi, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dilansir CNA.

    Kerangka tawaran ini mengacu pada nota kesepahaman (MoU) yang pernah ditandatangani kedua negara di Islamabad pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut gagal bertahan lama setelah kapal-kapal komersial di Selat Hormuz diserang karena dituduh melenceng dari rute yang diizinkan.

    Perbedaan utama proposal baru ini terletak pada durasi pelaksanaan dialog nuklir. Kesepakatan Juni memberikan waktu 60 hari sebelum perundingan nuklir dimulai, sedangkan proposal terbaru memangkas proses itu menjadi hanya tujuh hari agar pembicaraan nuklir bisa segera dimulai.

  3. 3. Iran memanfaatkan momen pemilu sela AS

    Presiden AS Donald Trump saat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One
    Presiden AS Donald Trump saat menaiki pesawat kepresidenan Air Force One (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Penutupan Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi dunia dan mengerek harga minyak mentah jenis Brent ke kisaran 107 dolar AS atau sekitar Rp1,9 juta per barel. Lonjakan ini memicu inflasi harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok di berbagai belahan dunia.

    Kondisi ini memberi tekanan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela AS pada November mendatang. Tingginya harga bensin berpotensi merugikan posisi Partai Republik di mata para pemilih.

    "Langkah ini cerdas karena mereka tahu tawaran ini sangat menggiurkan bagi Presiden Trump untuk mengakhiri perang yang tidak populer dan menurunkan harga energi menjelang pemilu sela," tutur Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More