AS dan Iran Bertemu 3 Jam, Selat Hormuz Berpeluang Dibuka Kembali

- AS dan Iran menggelar perundingan tiga jam di sela Sidang Umum PBB, melibatkan Steve Witkoff, Jared Kushner, dan mediator Qatar.
- Pejabat Iran memberi sinyal Selat Hormuz dapat dibuka dalam seminggu jika AS mengurangi tekanan militer dan ekonomi, meski muncul bantahan dari media dekat IRGC.
- Di PBB, Trump menekan Iran soal nuklir dan isolasi ekonomi, sementara Erdogan serta pemimpin Arab mengecam krisis Gaza dan pemindahan paksa warga Palestina.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran mengadakan pertemuan selama tiga jam di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (22/9/2026). Presiden AS Donald Trump mengungkapkan perundingan tersebut melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta ditengahi oleh diplomat dari Qatar. Pertemuan ini merupakan kontak pertama sejak Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan delegasi Iran di Swiss pada Juni lalu.
“Mereka mengadakan pertemuan yang sangat baik, pertemuan yang sangat produktif,” kata Trump, dikutip Al Jazeera.
1. Iran memberi sinyal membuka kembali Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Menindaklanjuti perundingan tersebut, seorang pejabat senior Iran mengindikasikan kesiapan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu seminggu jika AS mengambil langkah balasan untuk mengurangi tekanan militer dan ekonomi. Langkah ini melunakkan posisi Iran yang sebelumnya menetapkan syarat berat, seperti penghentian perang AS di semua lini dan pencabutan seluruh sanksi.
Posisi baru yang diungkapkan pejabat Iran kepada kantor berita Kyodo tersebut diklaim telah disetujui oleh Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Namun, sejumlah media Iran yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membantah adanya kompromi, sementara negosiator utama Mohammad Ghalibaf menegaskan opsi militer dan perundingan tetap dijalankan secara bersamaan.
2. Trump memberi pilihan tegas kepada Iran

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Di panggung PBB, Trump menyatakan Iran dihadapkan pada pilihan antara bisa membangun kembali negaranya menjadi lebih besar atau kehancuran total. Ia juga mengisyaratkan kesepakatan dapat dicapai setelah pemilihan sela Kongres AS pada November, meski ia menegaskan pemilu tidak memengaruhi pendiriannya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Ucapan Trump yang menyebut Iran sebagai perundung kawasan dan organisasi teror nomor satu memicu aksi keluar ruangan sebagian besar delegasi Iran. Selain itu, Trump menyerukan isolasi ekonomi terhadap Iran, termasuk meminta seluruh negara melarang pesawat sipil Iran mendarat di bandara mereka, sementara rencana pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebagian besar telah dikesampingkan karena dinilai terlalu berisiko.
3. Erdogan mengecam krisis kemanusiaan di Gaza

ilustrasi warga Palestina (pexels.com/Ahsanul Haque Z) Krisis kemanusiaan di Gaza turut menjadi perhatian utama para pemimpin dunia dalam sidang tersebut. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memicu aksi keluar ruangan delegasi Israel setelah mengecam kondisi Gaza sebagai kamp konsentrasi paling tidak manusiawi serta menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki hati nurani tidak boleh diam melihat penderitaan warga Palestina.
“Israel menolak untuk menghentikan pendudukan. Kita dihadapkan pada pola pikir genosida yang tidak pernah puas membunuh. Tidak seorang pun yang memiliki rasa kemanusiaan, belas kasih, atau iba, tidak seorang pun yang dibimbing oleh keadilan dan hati nurani yang mungkin bisa tetap acuh tak acuh terhadap gambaran ini,” kata Erdogan, dikutip The Guardian.
Sejalan dengan kritik itu, Raja Yordania Abdullah menilai berbagai resolusi internasional sejauh ini gagal dan hanya berakhir di atas kertas, serta mengecam pengusiran warga di Tepi Barat sebagai pemindahan paksa yang tergolong kejahatan perang. Sementara itu, menteri luar negeri dari delapan negara Teluk turut mendesak penghentian tindakan pemindahan paksa warga Palestina dari tanah air mereka.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















