Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sentimen Xenofobia Meningkat, 5 Warga Mozambik Tewas di Afrika Selatan
Bendera Mozambik (magnific.com/wirestock)
  • Lima warga Mozambik tewas akibat serangan xenofobia di Mossel Bay, Afrika Selatan, yang memicu perhatian terhadap meningkatnya sentimen anti-imigran di negara tersebut.
  • Kerusuhan bermula dari pembakaran puluhan rumah komunitas imigran di KwaNonqaba, menewaskan beberapa orang termasuk warga lokal, sementara polisi masih menyelidiki pelaku dan motif kekerasan.
  • Pemerintah Mozambik memfasilitasi evakuasi serta pemulangan ratusan warganya dari wilayah rawan setelah sekitar 800 orang terdampak dan ratusan memilih kembali ke tanah air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Mozambik mengonfirmasi lima warganya meninggal dunia akibat rentetan kekerasan yang menargetkan imigran di Mossel Bay, Afrika Selatan, pada Rabu (3/6/2026). Insiden tragis ini kembali menyoroti isu xenofobia atau sentimen anti-warga asing yang sedang meningkat tajam di negara tersebut.

Ketegangan antara penduduk lokal dan warga negara asing (WNA) memuncak sejak akhir pekan lalu di wilayah KwaNonqaba, Mossel Bay. Saat ini, Kepolisian Afrika Selatan tengah berfokus menyelidiki rentetan kerusuhan serta mencari tahu penyebab pasti kematian para korban di lokasi kejadian guna mencegah konflik meluas.

1. Kronologi kerusuhan dan pembakaran puluhan rumah

ilustrasi bendera mozambik (commons.m.wikimedia.org/aerra carnicom)

Kepolisian Afrika Selatan menyatakan bahwa kerusuhan bermula pada Jumat (29/5/2026) di Asla Park, sebuah kawasan permukiman di wilayah KwaNonqaba. Sekelompok massa dilaporkan membakar sekitar 55 rumah semipermanen yang dihuni oleh komunitas imigran di area tersebut.

Petugas gabungan yang terdiri dari aparat kepolisian, pemadam kebakaran, dan tim penanggulangan bencana langsung dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka berhasil mengendalikan situasi keamanan setelah beberapa jam, meskipun puluhan warga kini kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka.

"Pengerahan polisi tetap dalam status siaga tinggi di daerah tersebut untuk mengembalikan ketenangan, ketertiban, dan memastikan keselamatan publik," ujar perwakilan Kepolisian Afrika Selatan dalam keterangan resminya, dilansir The Guardian.

Wali Kota Mossel Bay, Dirk Kotzé, menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan anarkis yang mencederai nilai kemanusiaan ini.

"Kami sangat menyayangkan serangan xenofobia ini, yang tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan rumah, tetapi juga memaksa warga sipil harus mengungsi dari tempat tinggal mereka," kata Kotzé.

2. Penemuan korban jiwa dan investigasi aparat

tampilan bendera Afrika Selatan (unsplash.com/ Kathrine Heigan)

Dalam proses penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan jenazah dua pria asal Mozambik pada Sabtu (30/5/2026) pagi dengan sejumlah luka akibat kekerasan fisik. Korban pertama diketahui berusia 27 tahun, sementara korban kedua yang berusia 43 tahun mengembuskan napas terakhir sesaat setelah tiba di rumah sakit setempat.

Selain imigran, ketegangan ini juga memakan korban lokal. Jenazah seorang remaja Afrika Selatan berusia 18 tahun ditemukan dengan luka tusuk di kawasan New Rest pada Minggu (31/5/2026) dini hari.

Terkait simpang siur jumlah korban, Pemerintah Mozambik merilis rincian data resmi untuk melengkapi laporan kepolisian setempat agar informasi yang beredar di masyarakat tetap akurat.

"Total ada tujuh warga Mozambik yang meninggal dunia dalam rentang waktu tersebut. Lima orang merupakan korban langsung dari serangan xenofobia, sementara dua orang lainnya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di tengah situasi yang tidak kondusif," jelas perwakilan Pemerintah Mozambik.

Hingga kini, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka atas kasus pembunuhan warga Mozambik tersebut. Namun, penyelidikan atas kematian remaja Afrika Selatan mulai menemui titik terang, dan aparat sedang memburu satu orang terduga pelaku yang identitasnya telah dikantongi.

3. Pemulangan massal ratusan warga Mozambik

Ilustrasi bendera Mozambik. (Leandro Neumann Ciuffo from Catania, Italy, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Kekerasan yang merebak di Mossel Bay berdampak langsung pada kondisi psikologis dan keselamatan sekitar 800 warga Mozambik di wilayah tersebut. Sebanyak 300 orang dilaporkan telah memilih untuk kembali ke negara asalnya secara mandiri pada Sabtu lalu.

Melihat eskalasi yang membahayakan, Pemerintah Mozambik segera turun tangan untuk memfasilitasi proses evakuasi dan pemulangan ratusan warga lainnya yang masih tertahan di titik-titik rawan.

"Sekitar 500 orang lainnya sudah kami tempatkan di lokasi yang aman di Provinsi Western Cape. Proses pemulangan mereka ke Mozambik telah berjalan secara bertahap sejak 1 Juni," ungkap perwakilan Pemerintah Mozambik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article