Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Serangan Israel Hancurkan Gudang Makanan Bayi di Gaza
ilustrasi bayi (unsplash.com/Omar Lopez)
  • Serangan Israel di Deir Al-Balah menghancurkan gudang nutrisi anak dan ibu milik Ard El Insan, mengubur seluruh bantuan hingga rusak serta mengganggu distribusi ke 60 layanan medis.
  • Kehancuran gudang terjadi saat krisis gizi Gaza memburuk: lebih dari 12 persen anak mengalami stunting dan lebih dari separuh ibu hamil menderita anemia berat.
  • Serangan lain di Bureij, Khan Younis, dan Sheikh Radwan menewaskan dua anak serta merusak fasilitas air dan gudang PBB, memperparah akses warga terhadap kebutuhan dasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Serangan militer Israel menghancurkan sebuah gudang logistik makanan dan nutrisi anak di Deir Al-Balah, Gaza tengah, pada Senin (24/8/2026). Fasilitas tersebut menyimpan bantuan penting bagi anak-anak penderita malnutrisi serta ibu hamil dan menyusui.

Ledakan meruntuhkan atap dan dinding bangunan hingga mengubur seluruh persediaan di bawah reruntuhan. Tim kemanusiaan mengonfirmasi bahwa seluruh pasokan yang tertimbun rusak dan tidak lagi layak konsumsi.

1. Seluruh pasokan nutrisi tertimbun dan rusak

pemandangan reruntuhan di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)

Serangan udara Israel yang menargetkan area sekitar merobohkan fasilitas milik organisasi lokal Ard El Insan. Lembaga kemanusiaan tersebut bermitra dengan Medical Aid for Palestinians (MAP) untuk menyalurkan suplemen nutrisi bagi warga rentan.

Gudang ini berfungsi sebagai pusat distribusi bagi sekitar 60 titik layanan medis di seluruh Gaza. Setiap fasilitas kesehatan tersebut rutin melayani hingga 100 perempuan dan anak setiap hari.

"Kehilangan seluruh pasokan ini merupakan pukulan telak yang mengganggu layanan bagi anak dan perempuan di tengah kelaparan," kata Koordinator Proyek Ard El Insan, Sahar Salem, dilansir The National.

Pihak pengelola saat ini tengah memeriksa potensi pengalihan stok dari gudang lain agar layanan medis tetap beroperasi. Kendati demikian, keterbatasan logistik di lapangan membuat proses distribusi alternatif menghadapi hambatan besar.

2. Kasus malnutrisi masih marak di Gaza

Hancurnya fasilitas ini terjadi saat krisis kesehatan ibu dan anak di Gaza berada dalam fase kritis. Laporan terbaru UNICEF mencatat lebih dari 12 persen anak di wilayah tersebut menderita stunting.

Selain balita, lebih dari separuh ibu hamil mengalami anemia berat akibat krisis pangan yang berkepanjangan. Lonjakan kebutuhan asupan gizi juga mulai meluas ke kelompok anak berusia lima hingga 10 tahun.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan serangan di wilayah Deir Al-Balah menargetkan fasilitas penyimpanan senjata milik kelompok Hamas. Israel mengklaim Hamas sengaja mendirikan fasilitas militer berdekatan dengan infrastruktur sipil dan pos kemanusiaan.

"Saat sebuah gudang hancur, yang hilang bukan sekadar bangunan atau tumpukan pasokan logistik. Ini tentang layanan yang terputus, tentang suplemen gizi yang gagal sampai ke tangan anak-anak, ibu hamil, atau ibu menyusui yang sangat membutuhkannya," tutur Pemimpin Program Nutrisi MAP, Rowida Al-Sabbah, dilansir ReliefWeb.

3. Serangan lain di hari yang sama tewaskan anak-anak

potret seorang anak di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)

Pada hari yang sama, rentetan serangan Israel di wilayah lain turut merenggut korban jiwa dari kalangan anak-anak. Serangan udara di kamp pengungsian Bureij menewaskan bocah berusia empat tahun bernama Hassan al-Qatrawi setelah tertimpa puing rumahnya.

Di Khan Younis, seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Amal Abu Khater tewas tertembak saat berada di dalam tenda keluarga. Sebuah fasilitas pengolahan air bersih atau desalinasi di Sheikh Radwan juga hancur akibat gempuran udara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan tiga fasilitas pergudangan mereka di Deir Al-Balah ikut mengalami kerusakan. Kerusakan fasilitas air dan logistik ini membuat warga makin kesulitan mendapatkan akses kebutuhan dasar harian.

Otoritas kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 1.296 orang tewas sejak kesepakatan gencatan senjata disepakati pada Oktober 2025. Korban jiwa terus bertambah seiring serangan militer yang berulang kali menghantam permukiman padat penduduk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article