Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Serangan Udara Militer Myanmar di Biara Sagaing Tewaskan 14 Warga
Bendera Myanmar (unsplash.com/aboodi vesakaran)
  • Serangan udara militer Myanmar menghantam Biara Desa Swel Le Oh di Sagaing saat lebih dari 100 warga mengikuti retret meditasi, menewaskan 14 warga sipil dan melukai 20 orang.
  • Bom susulan yang dijatuhkan 15 menit kemudian merusak rumah warga sekitar serta menghambat evakuasi korban; korban luka kemudian dibawa ke fasilitas darurat dan jenazah dikremasi.
  • PBB menyoroti peningkatan pengeboman fasilitas publik dan permukiman di Myanmar, sementara militer membantahnya serta menyatakan operasi udara hanya menargetkan sasaran militer sah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Militer Myanmar melancarkan serangan udara yang menghantam sebuah biara di Wilayah Sagaing pada Jumat (21/8/2026). Peristiwa ini menewaskan 14 warga sipil dan melukai puluhan orang lainnya di lokasi kejadian.

Eskalasi bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok perlawanan prodemokrasi di Myanmar kian memburuk. Krisis kemanusiaan ini semakin memprihatinkan akibat serangan militer yang berulang kali berdampak langsung pada masyarakat sipil.

1. Serangan udara menyasar biara saat kegiatan retret

Serangan udara terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat di Biara Desa Swel Le Oh, Kotapraja Myaung. Saat jet tempur melintas, lebih dari 100 warga desa berkumpul untuk melaksanakan retret meditasi Prapaskah Buddha. Ledakan bom menghancurkan aula utama tempat para lansia beribadah selama musim hujan.

"Sebanyak 14 orang tewas dan 20 lainnya luka-luka ketika jet tempur menjatuhkan bom di area biara," kata Juru Bicara Organisasi Pertahanan dan Keamanan Sipil Kotapraja Myaung, Nway Oo, dikutip dari Associated Press.

Seluruh korban jiwa merupakan warga sipil berusia antara 50 hingga 70 tahun dari beberapa desa sekitar. Saksi mata menegaskan bahwa kompleks biara tersebut merupakan tempat ibadah murni tanpa keberadaan markas militer oposisi.

2. Serangan susulan menghambat proses evakuasi korban

Kepanikan warga semakin meningkat saat pesawat tempur militer kembali melepaskan amunisi bom kedua selang 15 menit dari ledakan pertama. Hantaman bom susulan merusak bangunan rumah penduduk yang terletak di sekitar tempat ibadah.

"Saat kami berusaha menyelamatkan orang-orang, pesawat datang meledakkan bom untuk kedua kalinya," kata seorang pejuang oposisi lokal.

Ancaman pengeboman susulan dari udara sempat menghambat evakuasi korban luka dan penanganan jenazah di lokasi. Setelah situasi aman, para korban luka langsung dilarikan ke fasilitas perawatan darurat, sementara warga selamat mengkremasi jenazah korban tewas.

3. PBB soroti pengeboman fasilitas publik di Myanmar

Lembaga investigasi PBB menyoroti peningkatan serangan udara militer yang menyasar berbagai fasilitas publik, termasuk sekolah dan rumah sakit. Tim penyidik independen internasional terus mengumpulkan bukti terkait pola pengeboman di kawasan pemukiman penduduk.

"Salah satu area fokus kami adalah serangan udara terhadap permukiman warga yang terus terjadi," kata Kepala Independent Investigative Mechanism for Myanmar, Nicholas Koumjian, dikutip dari Hindustan Times.

Di sisi lain, pihak militer Myanmar membantah temuan PBB dan mengklaim operasi udara hanya ditujukan pada sasaran militer sah. Pemerintah militer menegaskan bahwa pasukan keamanan selalu berupaya meminimalkan dampak operasi terhadap masyarakat sipil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article