Juru Bicara AL Korsel anonim menjelaskan, keputusan ini diambil karena AS sedang kekurangan pasukan untuk mengikuti latihan gabungan bersama mereka. Sebab, sebagian besar pasukan AL AS saat ini masih ditugaskan di Timur Tengah karena perang dengan Iran belum sepenuhnya usai.
AL AS Batalkan Latihan Militer dengan Korsel imbas Perang Iran

- AL AS membatalkan latihan gabungan dengan AL Korea Selatan yang dijadwalkan September karena banyak personelnya masih dikerahkan di Timur Tengah akibat perang Iran.
- Korea Selatan telah menerima pemberitahuan sejak Juni dan kini berkonsultasi dengan AS mengenai latihan pengganti serta pencegahan pembatalan berikutnya, tanpa jadwal yang diumumkan.
- Pembatalan berlangsung setelah Presiden Donald Trump mengurangi latihan tahunan AS-Korsel, sementara latihan gabungan tersebut selama ini kerap dikecam Korea Utara sebagai ancaman.
Jakarta, IDN Times - Pasukan angkatan laut (AL) Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk membatalkan latihan militer gabungan dengan AL Korea Selatan (Korsel) yang akan dihelat pada September mendatang. Kabar ini disampaikan oleh AL Korsel pada Senin (24/8/2026) berdasarkan informasi langsung dari Negeri Paman Sam.
1. Korsel sudah diberitahu oleh AS sejak Juni lalu

potret bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard) Dilansir Jerusalem Post, Juru Bicara AL Korsel menambahkan, pihaknya sebetulnya sudah diberitahu oleh AL AS sejak Juni lalu soal pembatalan latihan ini. Namun, mereka baru mau menyampaikannya ke publik sekarang atas permintaan Washington.
Saat ini, AL Korsel sedang berkonsultasi dengan AL AS untuk melanjutkan latihan gabungan yang telah dibatalkan. Seoul dan Washington juga akan melakukan langkah pencegahan agar latihan militer selanjutnya tidak dibatalkan lagi. Namun, keduanya tidak menjelaskan langkah apa yang akan dilakukan guna mencegah hal tersebut. Keduanya juga belum memberi tahu kapan latihan gabungan pengganti akan dilakukan.
2. Donald Trump mengurangi latihan militer AS dengan Korsel

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkunjung di Florida pada 8 September 2020. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House) Pembatalan ini terjadi di tengah keputusan baru Presiden AS, Donald Trump, soal kerja sama militer dengan Korsel. Pada 16 Agustus, Trump memutuskan untuk mengurangi latihan militer gabungan antara AS dan Korsel seperti yang biasa dilakukan setiap tahun. Keputusan Trump ini diduga karena Seoul menolak membantu Washington memerangi Iran. Dugaan ini lantas diperkuat oleh pernyataan Trump dalam sebuah unggahan di lamanTruth Social pribadinya.
“Meskipun agak tidak terkait, baru-baru ini saya bertanya kepada Presiden Korea Selatan (Lee Jae-myung), apakah mereka ingin bergabung dengan kami dalam (upaya) denuklirisasi Republik Islam Iran. Mereka lantas berkata, ‘Tidak, terima kasih! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini',” tulis Trump, seperti dikutip BBC pada 17 Agustus lalu.
3. Latihan militer gabungan AS dan Korsel sering dikecam Korea Utara

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menggelar pertemuan dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, di acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AS-Korut di Singapura pada Juni 2018. (commons.wikimedia.org/ Executive Office of the President of the United States) Latihan militer yang dilakukan AS dan Korsel setiap tahun ini sering mendapatkan kecaman dari Korea Utara (Korut). Sebab, Presiden Korut, Kim Jong Un, menganggap latihan tersebut sebagai ancaman militer terhadap negaranya. Oleh karena itu, setiap militer Washington dan Seoul melakukan latihan bersama, Pyongyang kerap melakukan tindakan provokasi dengan menggelar latihan militer mandiri atau menembakkan rudal ke dekat wilayah Korsel.
Sikap Korsel ini menjadi salah satu alasan mengapa Trump memutuskan untuk mengurangi latihan militer dengan Korsel. Sebab, dalam pernyataannya, Presiden AS ke-45 dan ke-47 itu ingin menghormati keberadaan Korut. Terlebih, selama ini, Korut tidak pernah berkonflik dengan AS meski hubungan kedua negara agak renggang karena Pyongyang berambisi mengembangkan senjata nuklir.
“Latihan-latihan ini tidak hanya memakan biaya besar yang sebagian besarnya ditanggung oleh Amerika Serikat (seperti biasa!), tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada sebuah negara yang, selama masa kepemimpinan Donald J. Trump, tidak menunjukkan sikap mengancam dan justru bersikap penuh hormat,” jelas Trump.


















