PBB Sebut Militer Myanmar Tingkatkan Serangan Udara ke Warga Sipil

- Laporan IIMM PBB mencatat militer Myanmar sengaja dan berulang menyerang warga sipil melalui udara, menyasar rumah, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, serta kamp pengungsian.
- Militer dilaporkan memakai drone dan paralayang bermotor untuk serangan senyap, termasuk serangan susulan yang diduga menargetkan penolong, korban luka, dan warga yang menyelamatkan diri.
- IIMM mengumpulkan bukti dari lebih 1.600 sumber terkait pengeboman dan pelanggaran HAM di tahanan, termasuk penyiksaan, penahanan tanpa bukti, serta kekerasan seksual.
Laporan tahunan Tim Investigasi Independen PBB untuk Myanmar (IIMM) periode Juli 2025 hingga Juni 2026 mengungkapkan bahwa militer Myanmar secara sengaja dan terus menerus menyerang warga sipil. Gempuran udara bahkan menyasar rumah tempat tinggal, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, bahkan kamp pengungsian.
Eskalasi serangan bahkan meningkat sejak menjelang pemilu Januari lalu. Dilansir oleh UN News, militer Myanmar kini memanfaatkan drone serta paralayang bermotor hasil modifikasi. Ini membuat warga sipil semakin sulit mendeteksi datangnya ancaman.
1. Serangan udara yang menyasar sebuah target disebut dilakukan dua kali secara beruntun

ilustrasi drone yang sedang terbang (unsplash.com/Jason Mavrommatis) Dilansir South China Morning Post, beberapa serangan udara tersebut terjadi di wilayah Sagaing, utara Myanmar. Para pilot paralayang dilaporkan mematikan mesin saat mendekati target dan meluncur tanpa suara. Hal ini membuat warga sipil sama sekali tidak mendapatkan peringatan dan kekurangan waktu untuk mencari tempat berlindung.
Para penyidik juga menyatakan bahwa jumlah korban jiwa makin diperparah oleh serangan udara beruntun. Dalam taktik ini, pihak militer Myanmar menggempur suatu target, lalu melancarkan serangan susulan tak lama setelahnya. Serangan susulan tersebut diduga sengaja menyasar tim penolong, orang-orang yang membantu korban luka, serta warga yang berusaha menyelamatkan diri.
2. Pihak penyidik PBB sedang mengumpulkan bukti atas kejahatan yang dilakukan militer Myanmar

logo organisasi internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (unsplash.com/Davi Mendes) Kepala IIMM, Nicholas Koumjian, menyebut timnya sedang melacak komando militer dan mengidentifikasi unit yang bertanggung jawab atas pengeboman fasilitas umum. IIMM telah mengumpulkan bukti dari lebih dari 1.600 sumber. Ini termasuk 750 pernyataan saksi mata, foto, video, bukti forensik, hingga citra satelit. Selain militer, IIMM turut menyelidiki dugaan pelanggaran yang juga dilakukan kelompok bersenjata pihak oposisi.
"Secara khusus, ada banyak serangan udara yang menargetkan dan menghantam sekolah-sekolah. Anak-anak sering kali menjadi korban dari serangan udara ini, begitu pula rumah sakit. Oleh karena itu, tim kami sedang mengumpulkan bukti mengenai lokasi kejadian serta jenis amunisi yang digunakan," ungkap Koumjian dalam sebuah pernyataan.
3. Militer Myanmar juga dilaporkan melakukan serangkaian pelanggaran HAM terhadap tahanan

ilustrasi penjara dan penahanan (unsplash.com/Matthew Ansley) Selain serangan udara, penyidik PBB mencatat pelanggaran HAM berat di fasilitas penahanan militer. Dilansir The Japan Times, mereka menemukan dugaan praktik penyiksaan sistematis, penahanan tanpa bukti, serta kekerasan seksual. Tindakan represif ini turut menyasar warga yang mengkritik pemilu di media sosial, di mana pelanggaran kecil sekalipun terancam hukuman penjara hingga 20 tahun atau vonis mati.
Laporan ini mematahkan upaya pemerintah junta militer Myanmar menampilkan pemilu sebagai bentuk kembalinya stabilitas setelah kudeta 2021. Partai milik junta militer mendapat suara terbanyak dalam proses pemungutan yang dilakukan pada 28 Desember 2025 hingga 25 Januari 2026. Negara-negara Eropa secara luas menolak hasil pemilu tersebut karena dinilai tidak transparan dan adil.




















