Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bendera Uganda (unsplash.com/Roman Derrick Okello)
  • Uganda memulai penarikan bertahap pasukannya dari Somalia pada 2 November 2026, mengakhiri misi hampir 20 tahun untuk membantu pemerintah menghadapi al-Shabaab.
  • Tahap awal memprioritaskan prajurit dalam kerja sama bilateral, sementara sekitar 4.500 personel masih berada di AUSSOM; seluruh pasukan Uganda ditargetkan pulang pada akhir 2027.
  • Pengalihan keamanan kepada militer Somalia memunculkan kekhawatiran celah pertahanan di Shabelle Bawah, karena al-Shabaab masih melakukan serangan bersenjata dan bom.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Uganda resmi memulai penarikan pasukannya secara bertahap dari Somalia pada Senin (2/11/2026). Langkah ini menandai dimulainya pengakhiran misi militer Uganda yang telah berlangsung hampir dua dekade untuk membantu pemerintah Somalia menghadapi kelompok pemberontak al-Shabaab.

Keputusan penarikan pasukan ini diambil seiring dengan upaya pengalihan tanggung jawab keamanan kepada militer Somalia. Pihak militer Uganda mengonfirmasi bahwa tahap awal penarikan diprioritaskan bagi prajurit yang bertugas berdasarkan perjanjian kerja sama bilateral antara kedua negara.

1. Penarikan tahap awal difokuskan pada pasukan bilateral

Militer Uganda (twitter.com/UPDF(Jeshi la watu))

Penarikan tahap pertama diprioritaskan bagi unit militer Uganda yang bertugas di luar misi multilateral. Juru Bicara Pasukan Pertahanan Rakyat Uganda (UPDF), Kolonel Chris Magezi, menyampaikan bahwa para prajurit yang bertugas berdasarkan kesepakatan bilateral kedua negara telah mulai diberangkatkan kembali ke Uganda.

"Penarikan bertahap ini menandai berakhirnya 20 tahun misi perdamaian Uganda, agar tentara Somalia dapat memegang kendali penuh atas keamanan negaranya sendiri," kata Chris Magezi, dilansir BBC.

Saat ini, Uganda menyiagakan sekitar 4.500 prajurit dalam Misi Dukungan Uni Afrika di Somalia (AUSSOM). Sementara itu, jumlah personel yang bertugas berdasarkan perjanjian bilateral tidak diumumkan secara terperinci kepada publik. Meski demikian, kelompok prajurit inilah yang menjadi prioritas dalam penarikan tahap awal.

2. Penarikan seluruh pasukan Uganda ditargetkan selesai pada 2027

Tentara Uganda. (Master Sgt. Jeremy Lock, Public domain, via Wikimedia Commons)

Uganda memiliki peran penting dalam misi Uni Afrika di Somalia karena menjadi negara pertama yang mengirimkan pasukan ke negara tersebut pada Maret 2007. Keterlibatan militer Uganda berlanjut melalui beberapa pergantian nama operasi, mulai dari AMISOM, ATMIS, hingga AUSSOM.

Panglima Militer Uganda, Jenderal Muhoozi Kainerugaba, menegaskan bahwa pengalihan tanggung jawab keamanan kepada militer Somalia merupakan bagian dari komitmen jangka panjang negaranya.

"Sesuai janji kami, pemulangan pasukan sudah dimulai. Setelah 20 tahun penuh pengorbanan, kini kami menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada saudara-saudara kami di Somalia," ujar Kainerugaba.

Pemerintah Uganda menargetkan seluruh pasukannya, termasuk personel yang tergabung dalam misi AUSSOM, dapat ditarik secara bertahap hingga akhir 2027.

3. Ancaman al-Shabaab uji kesiapan militer Somalia

Militer Uganda. (Pixabay.com/Nambasi)

Rencana penarikan pasukan asing ini memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer Somalia dalam menjaga keamanan di wilayah rawan konflik. Dalam surat resminya kepada PBB, AUSSOM memperingatkan bahwa penarikan pasukan dapat membuka celah pertahanan di wilayah Shabelle Bawah dan meningkatkan risiko serangan kelompok al-Shabaab.

Otoritas Somalia menegaskan bahwa pihaknya terus memantau situasi di lapangan untuk mengantisipasi potensi kerawanan keamanan di wilayah tersebut.

"Kondisi saat ini masih terkendali, tetapi situasi bisa menjadi berbahaya jika penarikan pasukan dilakukan secara terburu-buru," ujar Menteri Negara Luar Negeri Somalia, Ali Omar.

Hingga kini, kelompok al-Shabaab masih melancarkan serangan bersenjata dan bom untuk menggulingkan pemerintah Somalia. Situasi ini membuat militer Somalia perlu mempercepat persiapan agar proses pengalihan tanggung jawab keamanan dan pangkalan militer tidak menimbulkan celah keamanan baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article