Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siswi 15 Tahun di Singapura Diamankan Terkait Hoaks Bom Sekolah
ilustrasi bendera Singapura (pexels.com/Calvin Seng)
  • Polisi Singapura mengamankan siswi 15 tahun dari Sekolah Menengah Xinmin terkait dugaan hoaks ancaman bom yang ditemukan melalui catatan di kelas.
  • Ancaman pada 13 Agustus 2026 memicu evakuasi seluruh murid dan staf; pemeriksaan polisi menyeluruh kemudian memastikan tidak ada benda berbahaya di sekolah.
  • Penyidikan atas dugaan penyebaran informasi palsu berbahaya masih berlangsung; jika terbukti, pelaku terancam hingga tujuh tahun penjara, denda 50 ribu dolar Singapura, atau keduanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aparat kepolisian Singapura menangkap seorang remaja perempuan berusia 15 tahun terkait kasus hoaks ancaman bom di Sekolah Menengah Xinmin, Hougang, Singapura. Peristiwa penangkapan tersebut dikonfirmasi oleh pihak Kepolisian Singapura pada Selasa (18/8/2026) setelah melalui serangkaian penyelidikan mendalam.

Aksi siswi tersebut membuat pihak sekolah mengaktifkan prosedur evakuasi darurat terhadap seluruh murid dan staf pada Kamis (13/8/2026) pagi waktu setempat. Pihak berwenang bergerak cepat mengamankan area tempat kejadian perkara demi memastikan tidak ada benda berbahaya yang mengancam keselamatan warga sekolah.

1. Temuan catatan memicu evakuasi darurat sekolah

ilustrasi sekolah (pexels.com/cottonbro studio)

Insiden ini bermula ketika seorang guru menemukan selembar kertas catatan di salah satu ruang kelas Secondary 3 (setara kelas 3 SMP) Sekolah Menengah Xinmin. Catatan tersebut berisi tulisan yang mengklaim terdapat bom yang disembunyikan di lingkungan bangunan sekolah. Pihak manajemen sekolah yang menerima laporan langsung mengambil langkah tegas demi mengantisipasi risiko terburuk.

Manajemen sekolah dengan cepat mengaktifkan prosedur evakuasi darurat sekitar pukul 08.28 waktu setempat. Seluruh murid dan staf yang berada di lokasi langsung diarahkan menuju titik kumpul darurat secara tertib. Informasi mengenai proses evakuasi tersebut kemudian disebarkan kepada para orang tua murid melalui aplikasi resmi bernama Parents Gateway.

Seperti dilaporkan The Straits Times, salah satu orang tua siswa kelas Secondary 3 mengaku menerima notifikasi resmi dari sekolah sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Ia mengaku tidak merasa khawatir lantaran pihak sekolah memberikan penjelasan transparan bahwa proses evakuasi dan pemeriksaan keamanan telah selesai dikondisikan.

Kepala Sekolah Menengah Xinmin, Tan Soon Hui, menyampaikan komitmen lembaga pendidikan yang dipimpinnya dalam menangani insiden ini. "Keselamatan dan kesejahteraan seluruh siswa serta staf tetap menjadi prioritas utama sekolah. Sekolah akan terus mendukung kesejahteraan siswa dan staf kami serta memastikan langkah-langkah yang tepat tersedia untuk merespons keadaan darurat," kata Tan.

2. Polisi pastikan tidak ada benda berbahaya di lokasi kejadian

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media)

Pihak Kepolisian Singapura pertama kali mendapat laporan mengenai ancaman bom tersebut pada Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 08.20 waktu setempat. Tim kepolisian langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan sterilisasi area sekolah secara menyeluruh. Petugas memeriksa setiap sudut ruangan demi memastikan tidak ada bahaya tersembunyi.

Penyisiran intensif dilakukan oleh tim ahli di seluruh kawasan gedung sekolah. Setelah pemeriksaan mendalam selesai dilaksanakan, polisi mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan satu pun benda atau bahan mencurigakan. Situasi di area sekolah dinyatakan aman sepenuhnya sehingga aktivitas dapat dikendalikan kembali.

Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, petugas mengamankan seorang remaja perempuan berusia 15 tahun terkait kasus ancaman bom tersebut. Melansir AsiaOne, remaja yang ditangkap tersebut diketahui merupakan siswi dari Sekolah Menengah Xinmin.

3. Ancam sanksi denda dan hukuman penjara bagi pelaku

ilustrasi penjara (pexels.com/Ron Lach)

Proses penyidikan terhadap remaja perempuan tersebut saat ini masih terus berlanjut atas dugaan menyampaikan informasi palsu yang berpotensi membahayakan publik (communicating false information of a harmful thing). Kasus ini menjadi perhatian serius otoritas keamanan karena berdampak pada stabilitas masyarakat.

Sesuai dengan ketentuan hukum di Singapura, pelaku yang terbukti bersalah menyampaikan informasi bom palsu terancam sanksi tegas. Pelaku dapat dijatuhi hukuman penjara paling lama tujuh tahun, denda hingga 50 ribu dolar Singapura (sekitar Rp690 juta), maupun kombinasi keduanya.

Kepolisian Singapura menegaskan tidak akan menoleransi segala bentuk ancaman kejahatan maupun tindak hoaks yang meresahkan warga. Aparat berjanji akan mengambil tindakan hukum tanpa ragu terhadap individu yang sengaja menyebarkan informasi bohong mengenai bom. Keamanan lembaga pendidikan tetap menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam menjaga ketertiban umum.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article